Tuesday, July 29, 2014

Surat Untuk Putri


Surat Untuk Putri
By Ftrohx


Kamu memang benar, aku sudah berbuat banyak kesalahan.

Aku bukan orang yang hebat, aku bukan yang terbaik untuk kamu. Aku selalu terlambat.

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun untuk hal itu. Aku juga tidak bisa bilang bahwa ini adalah takdir, aku tidak tahu apa tepatnya.

Putri, kamu benar. Sampai saat ini aku memang tidak bisa berbuat baik untuk kedua orang tuaku. Di umurku yang sekarang ini aku masih belum bisa berbuat apapun untuk mereka.

Pekerjaanku saat inipun belum bisa menghasilkan apa-apa. Tapi aku terus mengerjakannya.

Kamu bilang supaya aku berhenti saja. Bekerja hal yang lain, yang bisa kukerjakan hanya dengan ijasah SMA. Tapi tetap sampai saja aku tidak bisa. Kamu tidak tahu apa yang aku alami, kamu tidak pernah tahu keputusasaan yang telah kulewati, kamu tidak benar-benar tahu apa yang telah terjadi dalam hidupku.

Akupun tidak tahu harus menuliskannya darimana.

Mungkin membaca ini, kamu tetap tidak akan peduli, mungkin kamu juga akan bilang alasanku hanyalah dibuat-buat. Tapi ini adalah kejujuranku.

Aku adalah orang yang kurang beruntung, aku tidak pernah mendapatkan apa-apa di SMP dan SMA. Aku tidak seperti teman-temanku (tidak seperti ZAN ataupun Rahmat) yang punya motor dan bisa ngecengin cewek serta pergi berkencan. Aku sangat tidak beruntung saat itu. Aku hanya bisa bermimpi, aku hanya bisa melihat dari jauh seorang gadis tercantik di seluruh daerah Jakarta Selatan dan hanya memimpikannya.

Saat kelas 2 SMA, satu per satu teman-temanku meninggalkanku.



Mereka pergi begitu saja tanpa pernah bilang alasannya. Tapi aku tahu kenapa mereka pergi. Karena aku tidak punya motor seperti mereka. Aku tidak punya sehingga aku tidak layak bersama mereka. Aku tidak tahu harus berbuat apa di saat mereka selalu membanggakan apa yang mereka punya.

Mereka selalu membanggakan pacar mereka dan kegiatan apa yang pernah mereka lakukan. Sedangkan aku tidak punya hal seperti itu.

Aku hanya punya sebuah mimpi, yaitu bersama dengan kamu.

Aku berharap seandainya aku bisa dekat dengan kamu Tuan Putri tercantik, aku bisa menembus semua kekalahan yang telah terjadi. Aku bisa memiliki kebanggaan dan kehormatanku kembali di hadapan mereka. Tapi sampai SMA berakhir aku tetap tidak mendapatkan apapun.

Lulus SMA kamu menghilang entah ke mana.

Sedangkan aku di Jakarta berjuang sendirian.

Aku mengambil ujian masuk STAN, namun di tahun itu aku tidak berhasil lulus.

Kamu tahu dengan hanya bekal ijasah SMA sangat sulit mendapatkan pekerjaan di Jakarta.

Tidak kuliah, aku berakhir menjadi pengangguran selama beberapa bulan.

Kemudian di akhir tahun aku mendapatkan pekerjaan sebagai Cleaning Service di Auditorium Lemigas. Pekerjaan dengan gaji sangat kecil hanya 500ribu, untuk dapat 700ribu sebulan aku mesti kerja lembur Sabtu dan Minggu di Auditorium juga. Tapi meski gajinya kecil, di banding pekerjaanku yang lain. Menjadi Cleaning Service di Lemigas adalah pekerjaan yang paling banyak kenangan indah yang pernah kualami.

Suatu sore saat pulang dari Lemigas, di Perdatam aku bertemu dengan Agus Setiawan, dia pulang dari pekerjaan dengan membawa motor bebek.

Dia bertanya aku kerja di mana? Aku pun menjelaskan, "aku adalah Cleaning Service di Lemigas." Lalu, Agus pun tertawa. "Hahahaha... Lulusan SMA 90, salah satu SMA paling keren di Jakarta Selatan, jadi Cleaning Service!!"

Kamu tahu RASA ITU SANGAT SAKIT.

Aku berpikir untuk berhenti saja dari pekerjaanku. Sebenarnya bukan hanya Agus yang bilang begitu, tetangga-tetangga rumahku dan teman-temanku di staf Lemigas juga sering bertanya seperti itu. "Kamu lulusan SMA 90, kok kerja di sini?" Permasalahannya, aku tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Sudah puluhan lamaran kukirim tapi tidak satu pun yang memilihku.

Karena berbagai macam BISIKAN SETAN itu akhirnya aku memutuskan keluar dari Lemigas. Belakangan, aku menyesali keputusan itu. Aku tidak pernah mendapatkan pekerjaan lain sebaik saat aku bekerja di Lemigas. Pekerjaan lain yang kudapatkan setelah itu justru lebih buruk dan menyiksaku. Aku tidak perlu menceritakannya di sini.

Bulan pun berlalu dan penerimaan mahasiswa baru di mulai. Ini adalah setahun setelah aku lulus SMA.

Karena kegagalanku di STAN sebelumnya aku memutuskan untuk masuk kampus yang lain, yaitu UIN Syarif Hidayatullah. Kebetulan di kampus ini terdapat sahabatku Mujib, teman kamu juga bukan.

Sejak pertama kali melangkahkan kaki di sini, aku langsung mengaguminya. Bangunan kampusnya yang besar, para mahasiswanya yang banyak berlalu lalang dari penjuru Indonesia. Seolah memaksaku untuk menjadi bagian dari mereka. Setidaknya ini adalah kampus negeri nomor dua di Jakarta setelah Universitas Indonesia.

Dengan berbagai macam pertimbangan, IBU-ku pun setuju untuk mengkuliahkan ku.

Untuk membiayaiku dengan sangat terpaksa IBU mengkontrakkan rumah kami di gang Langgar, dan kami pun tinggal di rumah Paman di Rajai Bawah. Dana dari mengkontrakkan rumah itupun sebenarnya tidak benar-benar cukup untuk membiayai kuliah ku tapi kami memaksakan diri.

Aku ikut ujian lokal, kemudian dengan ajaibnya aku lulus dan di terima di jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi-nya.

Semester-semester awal di UIN adalah HIDUP BARU bagiku. Aku merasa benar-benar bisa bernafas setelah keluar dari lautan penderitaan.

Aku punya kebanggaan tersendiri ketika bertemu dengan teman-teman SMP atau SMA, aku punya status baru Mahasiswa Universitas Negeri.

Secara kebetulan pula aku bertemu kembali dengan Agus, dia masih sama hanya seorang Satpam. Melihat statusku sebagai Mahasiswa dia tidak bisa berkomentar banyak. Dia tidak tahu dia tidak bisa menggapai posisiku. Dia tahu kedengarannya mustahil untuk anakmuda dengan latar belakang sepertiku untuk KULIAH, apalagi di Universitas Negeri.

Akupun mulai bisa masuk kembali ke komunitasnya ZAN. Mereka dan gangsternya mulai bisa menerimaku (meski tidak benar-benar menerimaku) karena aku tidak punya gandengan cewek cantik. Iya, meski tidak lolos ke ITB tapi sebagai mahasiswa Mercu Buana, ZAN masih punya kekuasaan yang absolut.
.  .  .

Di kampus kehidupanku berubah, jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Aku kenal orang-orang baru, teman-teman yang jauh lebih baik daripada yang kukenal di SMP & SMA.

Di kelas Manajemen E. aku berteman dengan Haryo si bocah cuek dari Depok yang punya kejeniusan seperti Shikamaru Nara. Lalu ada Yoga Gendut, temanku yang paling dermawan dan paling baik hati selalu traktir teman-teman yang kesusahan. Dan si Cumi Wahyudi, yang punya kosan yang menjadi markas kami.

Bagiku kosan Cumi menjadi surga kecil di tengah neraka kehidupanku. Di saat aku menghadapi segala kesulitan dan kesusahan hidup di luar kampus. Berada di kosan Cumi, semuanya hilang, semua kesulitan dan kesusahan itu terlupakan. 

Berlanjut ke semester 5 ada satu matakuliah yang bentrok dengan jadwal pengulanganku yaitu kuliah Penganggaran. Jadi, aku memutuskan mengambil matakuliah itu di kelas lain yaitu Manajemen C. Di kelas itu secara kebetulan aku bertemu dengan anakmuda yang juga suka anime dan manga seperti ku. Aku berkenalan dengan dia, namanya adalah Gozali. Karena satu hobi kami dengan mudah menjadi sahabat dan sekarang dia adalah adik ipar kamu.

Semester 6 aku masuk jurusan Manajemen Keuangan. Secara kebetulan Gozali juga masuk di sana.

Waktu berlalu hingga ke skripsi, tapi aku belum menceritakan MASALAHKU YANG SEBENARNYA.

Selama ini aku tinggal di keluarga Betawi yang kolot.

Keluargaku tidak ada yang kuliah. Keluargaku tidak pernah ada yang punya pekerjaan mapan atau lebih tepatnya paman-paman dari keluarga besarku kebanyakan adalah pengangguran.

Bisa kubilang, keluargaku adalah terparah dari semua keluarga yang pernah kulihat.

Lebih-lebih lagi mereka membenciku, terutama Paman pertamaku, dia tidak punya anak sedangkan Ibuku adalah adiknya justru yang punya anak, dan akulah adalah cucu pertama dalam keluarga ini.

Setiap hari, setiap aku berangkat dan pulang dari kampus, pamanku selalu membicarakan tentang aku ke semua orang.

Dia selalu memfitnahku, seolah semua hal yang ada padaku adalah hal yang buruk. "Orang miskin ntuh nggak pantas kuliah," atau "Dia nggak mungkin kuliah, paling-paling nongkrong di rumah temannya," dan sebagainya dan sebagainya. Setiap hari dari semester 1 sampai semester akhir hidup kami benar-benar tersiksa di rumah keluarga besar itu.

Kesalahan utama kami adalah karena Ibu membiayai ku kuliah di UIN dengan mengkontrakan rumah.

Mereka benci itu, uang kontrakan kami hanya terpakai untuk biaya kuliah. Mereka pun tak peduli apakah aku kesulitan di kampus atau tidak.

Semester 4 dan 5 aku bekerja freelance di sebuah service AC tapi setelah itu aku kembali menanggur sambil kuliah. Berusaha mencari-cari pekerjaan, melamar ke banyak tempat tapi hasilnya kembali nihil.

Di semester akhir, permasalahan bertambah rumit. Rumah kontrakan kami tidak laku, selama beberapa bulan tidak ada pemasukan. Lalu tuntutan skripsi yang harus kukejar juga terus keteteran. Aku tidak punya komputer di rumah seperti halnya teman-teman. Aku selalu terlambat, juga masalah dengan dosen pembimbing yang tidak pernah usai. +Plus tekanan berat dari permasalahan internal antara Ibuku dan keluarga besarnya.

Akhirnya membuatku harus mengambil keputusan untuk pulang ke rumah. Keluar dari rumah pamanku dan kembali ke rumah kami di gang Langgar, dengan konsekuensi aku keluar dari kampus. 

Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya, ok kamu bisa menyalahkanku akan semua ini.

Kadang aku berpikir bagaimana jika orang lain yang ada di posisi aku, bagaimana mereka bisa mencari solusi dengan segala keterbatasan dan hal yang buruk yang terjadi. Mungkin tidak ada yang bisa menghadapi hal ini selain aku sendiri, tidak ada yang bisa mengambil keputusan seperti aku. Tidak ada, karena ini adalah takdir yang harus kujalani.

Sebenarnya aku tidak ingin berjanji lagi, tapi semalam kamu memaksaku untuk bicara. kamu benar-benar memaksaku. Sebenarnya aku juga tidak ingin dibanding-bandingkan dengan dia, tapi kamu memaksaku untuk mengucapkan hal itu. "Aku bisa setara dengan Gozali, aku bisa LEBIH DARI dia dengan segala potensiku," lalu kamu bertanya. "Bagaimana jika tidak berhasil?"

"Kalau tidak berhasil maka aku akan nyebur ke kali. Tapi, jika berhasil. Aku akan MEMELUK KAMU."

.  .  .

nb: ilustrasi, sumber gadget.qopeqo.com