Tuesday, December 16, 2014
Butuh Mesin Waktu
Butuh Mesin Waktu
By Ftrohx
Kejadiannya benar-benar mendadak dan kali ini aku tidak mempersiapkan apa-apa.
Tidak seperti sebelumnya setiap kali nonton film, aku selalu baca sinopsisnya di wikipedia atau IMDB atau kadang aku nonton dulu trailernya di youtube.
Tapi tidak untuk yang kali ini.
Bisa dibilang ini adalah film paling menyesakkan yang pernah kutonton bareng kamu.
Dan kita berdua sama-sama tahu, mungkin kita memang butuh mesin waktu.
Kita butuh itu untuk memperbaiki banyak hal.
Terlalu banyak hal yang mesti kita perbaiki, terlalu banyak rasa sakit yang kita hadapi, terlalu banyak kekecewaan dan janji-janji yang selalu terlambat untuk dipenuhi.
Aku tahu kamupun tidak bisa banyak berkata.
Aku tahu kamu marah pada banyak hal, marah karena aku yang tidak bisa buat apa-apa, dan juga marah dengan kehidupan kamu yang tidak seindah apa yang kamu mimpikan.
Kamu bilang bahwa cerita Doraemon, Nobita, Shizuka, dan teman-temannya terlalu konyol.
Kamu bilang bahwa ceritanya terlalu melodrama dan bodoh.
Tapi lain dengan apa yang kamu ucapkan. Aku bisa melihatnya bekas airmata yang basah di pipi kamu.
Aku tahu apa yang ingin kamu ucapkan, bahwa kita berdua mengalami hal yang sama dengan yang ada di film itu.
Aku adalah cowok paling pecundang se-sekolahan dan kamu adalah cewek tercantik yang pernah ada dalam hidupku.
Aku selalu melakukan hal-hal bodoh seperti Nobita, lebih bodoh lagi karena terlalu banyak janji yang tidak bisa kutepati.
Dan kamu sendiri, kamu menangis karena orang yang begitu kamu sayangi telah tiada sebelum kamu sempat meminta restunya.
Aku tahu melihat layar itu, dada kamu terasa begitu sesak.
Akupun juga sama.
Rasanya kita berdua memang benar-benar butuh mesin waktu.
Kita harus kembali ke sana dan memperbaiki masa-masa itu.
. . .
Tuesday, November 18, 2014
Thanks to Kishimoto-Sensei ( II )
Thanks to Kishimoto-Sensei ( II )
by Ftrohx
Tujuh ratus chapter, begitu banyak hal yang gw lalui bersamaan dengan Uzumaki Naruto, Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Hatake Kakashi, dan lain sebagainya.
Begitu banyak kenangan, gw nggak tahu harus menulisnya darimana. Yang pasti diawal kemunculannya, Naruto langsung membuat gw RELA bolos sekolah tiap minggu untuk menonton-nya. Naruto itu unik, beda dari anime di zamannya. Kesan pertama gw nonton Naruto, gw langsung teringat pada 4 anime yang mendekatkinya. Pertama Ninku (12 Shio), Rurouni Kenshin, Yuyu Hakusho, dan Hunter X Hunter.
Jauh sebelum membahas filosofi, hal pertama kali menarik gw untuk nonton naruto adalah jurus kagebushin, terutama gara-gara opening pertama anime-nya itu.
Naruto bertarung dengan beberapa preman dan dia menggunakan jurus Kagebushin dia mengalahkan preman berbadan raksasa itu.
Ajaib itu bukan jurus bayangan biasa, bukan trik sulap menjadi banyak. Itu benar-benar jurus membelah diri menjadi banyak, tubuh yang benar-benar utuh bukan trik pembiasan cahaya atau visual. Aaaaaaaa... Selain Kamehameha - SonGoku, gw pengen banget jurus Kagebushin-nya Naruto. Dengan jurus itu gw bisa berada dibeberapa tempat berbeda dalam satu waktu. Keren banget.
Sebenarnya meski anime-nya sudah populer pas gw SMA, gw belum memulai mengikuti Naruto. Justru pas zaman kuliah dan mengenal internet, barulah gw belajar tentang Naruto. Hahaha... belajar.
Gara-gara Naruto gw menemukan banyak hal ajaib, gara-gara Naruto pula gw kenal dengan orang-orang hebat dalam hidup gw.
Naruto adalah sebuah ide, ide yang tertanam di otak gw, lebih kuat daripada Kenshin ataupun Death Note.
Sangat kuat, sampai-sampai gw menyamakan hidup gw dengan Naruto. Kesusahan-kesusahan hidupnya, perjuangannya, hingga kisah Cinta! Hahaha... ajaib sebuah komik bisa berpengaruh besar dalam hidup elo.
Naruto bicara tentang keberanian untuk bertarung, tentang semangat pantang menyerah, dan pencarian akan jati diri dan harapan. Filosofi-filosofi itu, di saat orang-orang terinspirasi oleh Mario Teguh dan Andrea Hirata, justru gw terinspirasi oleh Uzumaki Naruto, bahkan di kampus beberapa teman menjuluki saya dengan nama Naruto.
Sebenarnya Naruto sangat berpengaruh dalam hidup gw, Bukan hanya menjadi alasan kenapa gw menjadi seorang penulis. Naruto juga yang mempertemukan gw sahabat baik gw sampai sekarang Gozali. Gara-gara ngomongin Naruto dan Final Fantasy gw jadi akrab dengan Gozali. Hahaha... ajaib.
. . .
Thanks to Kishimoto-sensei ( I )
Thanks to Kishimoto-sensei ( I )
By Ftrohx
Seandainya artikel ini gw tulisan 2007 atau seandainya gw bisa mengirim artikel ini ke diri gw sendiri di tahun 2007. Rasanya pasti sangat-sangat-sangat bahagia. Pasti gw sudah jadi seorang PEMENANG diatas para pemenang.
Tagline-nya simple. "Dalam dunia para Otaku, pemenang adalah yang tahu sebelum orang lain tahu dan bisa sebelum orang lain," itu kata Tora karakter fiksi gw yang terinspirasi dari teman gw yang meracuni gw menjadi Otaku (meski cuma ngikutin Naruto dan Bleach doank.)
Apa yang kalian lihat saat ini, apa yang terjadi dengan gw dan semua tulisan di blog ini, bisa dibilang semua gara-gara Naruto.
Jujur, dulu gw nggak pernah punya cita-cita menjadi seorang penulis. Kehidupan gw biasa-biasa aja jadi nggak ada apapun yang menarik yang bisa gw tulis.
Gw cuma ingin hidup sebagai karyawan biasa yang berangkat jam 9 pulang jam 5 dan ngampel tiap sabtu dan minggu di rumah seorang cewek cantik.
Sialnya, mimpi gw yang itu tidak terwujud karena berbagai masalah internal. Sehingga gw berakhir di sebuah warnet. Menjadi penjaga warnet yang hobi baca manga online karena males beli komik (atau lebih tepatnya gak punya duit buat beli komik.) Semua terjadi karena kebetulan, gw masuk di sebuah forum diskusi tentang Naruto.
Gw sering berdebat di sana, sering adu teori, adu deduksi, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Naruto. Kami mencoba meramal masa depan Naruto, kami menulis spoiler dengan imajinasi dan data-data sebelumnya. Sampai sekarang gw masih ingat apa yang dulu kami perdebatkan.
Tentang teori Klan Uchiha, darimana mereka bisa mendapatkan mata merah Sharingan itu. Gw ingat banget teori-teori kocak mereka, ada yang menulis teori panjang bahwa klan Uchiha adalah vampir, ada juga yang menghubungkan Klan Uchiha dengan Iblis Tengu. Mata Klan Uchiha itu dari Tengu! Hahaha...
Tapi yang paling sering gw perdebatkan adalah teori siapa karakter dibalik topeng TOBI. Topeng dengan simbol spiral itu. Tadinya gw pikir bahwa Tobi adalah android atau mungkin boneka.
Lalu keadaan menjadi lebih rumit, karena Pain Akatsuki berlutut di hadapan Tobi, semua menjadi absurd di situ.
Lah bukan ketuanya adalah Pain, dan bukannya Pain adalah murid dari Jiraya? Lalu siapa ini Tobi?
Kemudian flashback ke masa lalu dan ternyata Tobi adalah orang yang men-summon Rubah Ekor Sembilan menyerang Konoha saat kelahiran Naruto. Gara-gara itu banyak orang yang ngotot dan berspekulasi bahwa Obito adalah Madara Uchiha, karena hanya Madara yang punya kekuatan legendaris yang sanggup men-summon Rubah Ekor Sembilan. Sedangkan gw sebaliknya, gw tidak percaya itu.
Menurut gw Tobi adalah Obito. Tapi semua orang di forum tidak ada yang percaya dengan gw, mereka NGOTOT Tobi adalah Madara Uchiha, Sampai akhirnya topeng itu pecah dan ternyata Tobi adalah Obito Uchiha. Dan gw berteriak ke mereka. "Selamat makan sendal!"
Gara-gara Naruto gw mengenal diri gw sendiri. Gw bisa berdebat, gw bisa menulis banyak dengan sekali ketik, berparagraf-paragraf hingga berhalaman-halaman hanya membahas apa yang gw suka. Dari forum itu gw beranjak ke beberapa forum anime lain seperti forum Bleach dan Death Note. Gw sadar gw juga bisa melakukan hal yang sama di situ.
Gw bisa berdebat dan menulis banyak, lalu sampai pada suatu titik. Ada sesuatu yang menggerakan hati gw. Daripada hanya memperdebatkan karya orang lain, bagaimana jika gw menulis karya gw sendiri.
Dan perjalanan panjang itu membawa gw sampai ke sini, menulis banyak hal, bertemu dengan orang-orang baru.
Berduet dengan Ariza, hingga akhirnya gw membuat projek bareng Jeni Suhadi dan Putra Perdana. Semoga akhir tahun ini projek terbaru gw terbit. Hahaha... semoga semua lancar.
. . .
Wednesday, November 5, 2014
Hal-hal Konyol
Hal-hal Konyol
By Ftrohx
Dulu waktu SD gw punya teman namanya Hendra Putra alias bodak.
Hahaha... Dia nge-fans berat sama Leonardo DiCaprio. Gara-gara ngelihat DiCaprio di film Titanic
Hampir tiap hari, tiap berangkat ke sekolah rambutnya dikasih Bliz atau Gatsby yang tebal
Kayak DiCaprio pas acara pesta di Kapal itu.
Rambutnya jadi basah tebal kaku dengan sisir ke belakang.
Hahahaha... #Gila padahal dia anak SD boi, tapi gaya-nya sok TUA kayak gitu.
Selain itu Hendra juga nge-fans berat sama lagu-nya Potret Melly Goeslaw.
Ajaib benar dia.
Padahal itu SD tapi kita sudah kenal dengan cinta, kita kenal dengan tuntutan hidup, kita dituntut untuk mengikuti apa yang keren dan menghindari apa yang tidak keren.
Lalu SMP gw bertema dengan Agus Setiawan.
Dia nggak jauh beda dengan Hendra, dia sering banget menceramahi gw apa yang keren dan yang tidak keren menurutnya.
Agus sangat nge-fans sama Ariel Peterpan, saat itu si Ariel lagi booming dengan lagu Sahabat, dengan pakaian tampil ala Hyuga temannya Tsubasa.
Iya si Agus sangat suka itu, ke sekolah dengan lengan di gulung untuk memamerkan otot bisep-nya. "Cewek suka dengan cowok yang berotot," itu yang selalu dia ceramahi ke gw.
Dan si Agus juga maksa gw untuk jadi berotot seperti dia ! Hahaha...
Beda lagi dengan Achzan.
Dia punya gaya-nya sendiri, dia punya prinsip dan nggak ngikutin orang lain.
Bisa dibilang Zan adalah panutan gw, yang paling gw kagumi diantara teman-teman gw.
"Cowok keren itu harus pintar, harus tahu sebelum orang lain tahu, dan bisa sebelum orang lain bisa!" Itu yang di doktrinkan Zan ke gw.
Gara-gara Zan gw jadi haus akan ilmu, gara-gara Zan gw jadi banyak baca buku, banyak nonton film, gw harus punya pengetahuan baru setiap hari.
Itu semua bisa dibilang karena tuntutan bergaul dengan Zan.
Mungkin juga karena obsesi gw ingin setara dengan dia.
. . .
Masa-masa SMA
Masa-masa SMA
By Ftrohx
Jam sembilan malam, menyalakan TV, di Trans tiba-tiba muncul film berjudul The Kick.
Film yang bercerita tentang keluarga atlet Taekwondo, beda dengan film action lain yang menggunakan mixed martial art.
Ini film koreografi-nya Taekwondo banget; tendangannya, cara berdirinya, cara menghindar, pukulannya, kuda-kuda, semuanya benar-benar disiplin Taekwondo.
Yang mengejutkan justru ini bukan film Korea, melainkan Thailand.
Ah, beladiri ini begitu memorable untuk gw.
Meski gw nggak pernah ikut ekskul Taekwondo, tapi para sahabat gw di SMA, kebanyakan adalah anak Taekwon. Rahmat Hidayat, Achzan Farid, dan Putri Yuli mereka adalah anak Taekwon yang hebat.
Tadinya gw ingin masuk ekskul itu, tapi entah kenapa gw justru memilih pencak silat! Hahahaha... Bukan hanya di SMA, dua nama penting lain dalam hidup gw (saat ini) juga adalah anak Taekwon yaitu Jeni Suhadi dan Putra Perdana.
Kembali ke judul di atas.
Melihat koreografi dari film ini, gw jadi ingat dengan koreografi anak-anak Taekwon setiap ada promosi ekskul di sekolah dulu.
Rasanya gw begitu KANGEN dengan masa-masa SMA. Terlalu banyak yang belum terselesaikan, terlalu banyak.
Gw ingin kembali ke sana, menjadi karakter yang lebih baik lagi, lebih baik daripada gw yang dulu.
Mungkin seandainya gw bisa kembali ke masa itu, mungkin gw ingin mengambil banyak ekskul.
Mulai dari Pencak Silat, Taekwondo, Basket, juga KIR dan klub penulis manding.
Sayang banget, masa-masa SMA gw terpuruk dalam kemiskinan, hingga gw nggak bisa berbuat banyak.
Gw ingin berbuat LEBIH di masa itu, seandainya bisa gw ingin berlatih lebih keras.
Pertanyaannya apa masa lalu bisa diubah? Kebanyakan orang bilang masa lalu tidak bisa diubah? Tapi bagaimana jika bisa diubah?
Entah sampai saat ini gw masih belum yakin akan hal itu, tapi Eka Kurniawan bilang bahwa "Kita bisa memilih masa lalu? Kita bisa menentukan sejarah kita sendiri?"
Sayangnya sampai saat ini gw belum punya kekuatan seperti Eka Kurniawan. Gw hanya penulis blog biasa yang hidup masih dalam keterbatasan ! Aaaaaaaaa...
Kembali, rasanya gw hanya ingin balik ke masa-masa SMA dan memperbaiki semuanya.
. . .
Tuesday, October 21, 2014
Pertemuan
Pertemuan
By Ftrohx
Beberapa tempat begitu mistik untuk ku, begitu memorable hingga tiap kali melalui, aku langsung teringat akan sebuah kisah, entah itu nyata atau fksi yang kukhayalkan.
Kadang hal ini menjadi masalah, dimana memori nyata dan artificial saling bercampur hingga tak kentara.
Seperti yang kamu tahu, dengan segala keterbatasanku, waktu di sekolah dan kuliah.
Karena kemiskinan dan hal-hal yang tak dapat kumiliki, aku sering bermimpi menjadi orang lain dan memiliki kehidupan lain. (sayangnya mimpi-mimpi itu tak pernah kutuliskan waktu SMA.)
Untuk beberapa kasus, kadang memori fiktif itu begitu kuat, sampai-sampai mengubur memori asliku.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lalu, namun terus kukhayalkan sehingga seolah-olah terjadi. Seandainya aku begini, seandainya aku bisa begitu. Semua hal-hal bullshit itu. Daya kreasi positif bercampur-aduk dengan rasa sesal akan sesuatu yang telah terjadi (ataupun yang tidak terjadi.) Sesuatu yang kulakukan dan yang tidak pernah aku lakukan.
. . .
Sore ini, mencoba menghilangkan migran, aku berlari kecil dari Tanah Kursi ke Bintaro Rel Kereta. Tempat yang sudah, entah berapa ribu kali kulewati. Selama bertahun-tahun tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Jajaran ruko yang sama, yang hanya sudah berganti pemilik atau penyewanya saja.
Waktu aku masih kuliah, aku suka mampir ke sini, entah pagi ataupun sorenya.
Dulu di jajaran Ruko ini adalah dua warnet, bahkan pernah sampai tiga warnet saling berjajar. Dulu semua orang rasanya ingin membuka usaha warnet karena begitu menguntungkan. Aku suka berada di warnet ruko bagian yang pojok, berseberangan dengan konter Handphone milik sahabatku Romadhon.
Jika diingat kembali pertama kali ku membuka youtube adalah di warnet itu, dan terakhir kali aku main di sini, aku kehilangan flashdisk yang berisi bahan skripsi. Luar biasa sial.
Pernah juga aku hampir menginap di warnet itu. Mereka buka 24 jam dan zaman itu begitu banyak anak muda yang hobi begadang sampai pagi cuma untuk meningkat level games DOTA ataupun Counter Strike (karena belum ada point blank.) Di warnet itu juga aku pertama kali kenal dengan manga Bleach dari weekly shounen jump. Sial, begitu banyak hal bersejarah di sana.
Dan diantara semua memori nyata ku di sana, ada juga memori fiktif yang hanya aku khayalkan.
Sebuah pertemuan antara AZRA dengan VIRLI.
Sebuah cerita yang jauh terpendam, sebelum aku membuat cerita yang lain.
Ceritanya simple, Azra bermain counter strike semalam di sana. Lalu, secara ajaib muncul seorang wanita cantik yang mengambil PC kosong di sebelahnya.
Azra tidak tahan untuk menyapa gadis cantik itu, kemudian mereka berkenalan. Hanya sesederhana itu, namun selanjutnya semua tidak sederhana.
Ada hal-hal lain, ada petualangan setelahnya.
Kami melalui banyak hal, kami pergi berpetualang ke banyak tempat, aku menemukan hal-hal baru yang tidak pernah kutemui dalam kehidupan nyataku yang membosankan.
Kembali melihat Ruko itu, di terasnya terdapat spanduk 'DISEWAKAN' terakhir aku melewati tempat ini. Ruko tersebut dipakai untuk warung bakso yang tidak sukses. Mereka menghilang, sekarang dijajaran ruko sudah tidak warnet lagi.
Mungkin karena sekarang tiap orang sudah punya warnet sendiri di rumahnya; smartphone, PC ataupun laptop itu semua sudah jauh lebih canggih daripada warnet. Sama seperti sepeda motor hampir ada dua buah di setiap rumah yang ada di Jakarta.
Entah kenapa saat ini aku merindukan masa-masa, seandainya aku bisa kembali ke zaman itu dengan apa yang kupunya sekarang.
. . .
Thursday, October 9, 2014
Menghilang
Menghilang
By Ftrohx
Entah kenapa, saya kangen dengan seorang teman lama. Seorang sahabat, namanya Heri.
Dia sahabat baik saya dari SD sampai SMP. Bahkan setelah lulus SMA pun saya sering mengunjungi rumahnya. Sampai berbagai kesibukan dan permasalahan membuat saya tidak datang ke rumahnya lagi saat lebaran.
Lalu setahun yang lalu dia datang ke rumah saya untuk bersilaturahmi. Dia mengira saya sudah berkeluarga, dan saya pikir juga sebaliknya dia pasti telah sukses dengan pekerjaannya. Ternyata tidak, dia telah keluar dari pekerjaan terakhir di Ford. Sekarang dia bekerja di bengkel biasa.
Lalu waktu berlalu setahun lebih saya tidak bertemu dengannya dan ada sesuatu yang malam ini menggerakkan kaki saya untuk berkunjung ke tempatnya, di Petukangan Selatan. Seperti biasa, saya melewati jalan yang sama, gang kecil di dekat empang Bang Ridun. Menelusuri jalan menanjak melewati bekas rumah Herman. Namun begitu sampai di atas, gang itu sudah terputus oleh jalan Tol Bintaro - Tanah Abang.
Saya tahu ujung jalan ini, tapi saya tidak tahu kalau jalan ini telah menggusur rumah teman saya. Saya pun menelusurinya hingga lampu merah petukangan. Banyak rumah yang hilang dan banyak kenangan yang hilang seolah tidak pernah ada. Menelusurinya, saya merenungkan tentang teman saya, sahabat saya, ke mana dia pergi sekarang, pindah ke mana dia.
Berbeda dengan teman-teman saya yang lain.
Heri ini tidak bisa menggunakan komputer, dia tidak kenal dengan internet, dan tidak punya akun social media apapun. Mungkin dia punya Pin BB tapi saya tidak pernah menemukannya. Mengingat ke masa lalu, ada rasa sesal tersendiri, seandainya waktu saya mengunjungi rumahnya sebelum digusur, seandainya saya menemukan alamat pindahnya. Melihat ke samping jalan, tidak ada rumah lagi. Bahkan rumah teman saya yang lain Terry, dia juga kena gusur, yang tersisa hanya separuh dari halamannya dan rumah-rumah lain pun juga ikut rata. Sekarang menjadi taman pinggir tol yang tidak terawat, atau lebih tepatnya mungkin seperti tempat pemakaman yang sepi. Penggusuran bukan hanya menghilangkan rumah yang berada di jalur tol tapi juga enam sampai tujuh rumah yang ada di pinggirannya pun ikut ditinggalkan.
Tapi ini bukan hanya masalah rumah yang digusur, tapi mengenai teman yang menghilang tanpa jejak. Kadang rasanya seperti kerinduan bercampur sesal.
Dalam perjalanan pulang, saya bertanya-tanya sendiri. "Apa itu ikatan?"
Saya memiliki sahabat yang lain, bahkan sampai sekarang kami terus terhubung yaitu Mujib dan Gozali. Rasanya benar-benar ajaib, kami melalui banyak hal namun kami masih bisa bersama. Mereka memang telah berubah, mereka jauh lebih mapan, namun mereka masih hadir dalam hidup saya.
Namun, kembali lagi ke Heri dan yang lain, mungkin bukan merekalah yang menghilang, tapi sayalah yang menghilang dari mereka. Sayalah yang egois dan menjadi pudar di antara debu jalanan.
. . .
Sunday, August 31, 2014
Sebut Saja dia S.
Sebut Saja dia S.
By Ftrohx
Setiap hari di antara kepadatan lalu lintas Jakarta, di antara keramaian orang di dalam Halte Busway ataupun Bus TransJakarta.
Kita selalu bertemu dengan orang yang asing, orang-orang yang tidak pernah kita kenal, kita melihat wajah mereka dan kita tidak pernah melihat mereka untuk yang kedua kali.
Ada rasa sesal di sini, di saat aku tidak mengenal mereka dan tiba-tiba mereka menghilang.
Kemarin Jeni bercerita tentang sesalnya, tidak menolong seseorang di antara keramaian lalu lintas Kota.
Seorang tua yang katanya terjatuh dan sulit berdiri, lalu seorang supir angkot menolong. Jeni sangat ingin menolong orang itu namun tubuhnya tak bergerak dia hanya bisa melihat dari jauh. Hingga orang itu menghilang. Ada rasa sesal yang sangat di hatinya, kenapa aku tidak turun ke sana dan membantu orang tua itu.
Melihat Jakarta yang begitu luas dengan jutaan orang yang berada di sini.
Kita tidak pernah tahu, kita akan bertemu dengan siapa ataupun kehilangan siapa. Setiap kali aku melihat ribuan kendaraan bermotor, ribuan mobil yang melintas, dan ribuan orang berada di dalam kendaraan umum.
Aku merasa diriku begitu kecil, aku hanyalah sebuah debu di antara jutaan manusia.
Ini cerita lama, saat itu aku naik Bus TransJakarta dari Harmoni ke arah Lebak Bulus.
Sore itu seperti biasa, cukup padat dan aku mengambil bangku kosong di lorong belakang. Di sampingku tiba-tiba duduk seorang wanita berwajah bule dengan belanjaannya.
Aku gugup dengan sesekali menghela nafas panjang, karena wajah wanita cantik di sampingku begitu mirip dengan teman sekolahku dulu. Sebut saja dia S. Dia gadis cantik yang kukenal cukup lama, dIa memiliki wajah blasteran bule dengan rambut keriting yang selalu dikuncir.
Sekarang ini dia telah berkeluarga, menikah dan memiliki dua anak kecil.
Kisahku dengan S. sangat jarang kuceritakan, bahkan Gozali sahabatku pun hampir tidak pernah mendengar ceritaku tentang S. Beda dengan wanita cantik lain yang ada dalam hidupku, di mana aku berani mengutarakan rasa cinta. Kepada S. tak pernah sekalipun kata itu muncul. Bahkan mengucapkan kalimat sederhana seperti 'KAMU CANTIK'-pun aku tidak berani, apalagi berujar kata SUKA.
Padahal aku begitu santai berjalan bersamanya, begitu akrab ketika bicara. Tapi, untuk kata-kata yang menjurus ke CINTA semua itu berhenti di ujung lidah.
Aku sering memimpikan S. bahkan lebih daripada aku memimpikan gadis cantik yang lain.
S. adalah wanita yang baik, dia cantik namun sangat sederhana. Dia bukan cewek yang pintar dalam bidang akademik, tapi dia sangat cerdas bersikap sebagai wanita dewasa.
Iya, siapapun yang mendapatkan S. dia adalah laki-laki yang SANGAT-SANGAT beruntung menurutku.
Kebanyakan wanita cantik yang kukenal selalu banyak maunya, selalu punya keinginan dan mimpi-mimpi yang tinggi. Tapi S. sederhana, dia hanya menginginkan seorang imam yang baik yang memimpin rumah tangga-nya. Ah, aku takut, aku tidak berani bercerita banyak tentang dia.
Ok, kembali lagi ke dalam Bus TransJakarta ke wanita cantik berwajah bule yang ada di sampingku.
Beberapa kali aku meliriknya dan benar wajah mirip dengan S. hanya saja wanita di sampingku ini memiliki badan yang lebih tinggi. Mungkin bisa kubilang versi upgrade dari S. Dia membawa belanjaan roti dari Breadtalk. Begitu melewati halte Indosiar dan menuju Kedoya, dia tampak gelisah sesekali memainkan handphone-nya. Kuduga dia turun di antara Kedoya ataupun Kebon Jeruk.
Ternyata aku salah, melewati Palmerah dan Permata Hijau dia masih duduk di sampingku.
Harusnya aku turun di Kebayoran Lama, tapi rasa penasaranku membuatku tetap berada di bangku penumpang sampai aku memutuskan untuk ke Pondok Indah Mall, dan tepat saja dia juga turun di sini.
Dunia ini benar-benar sangat luas dan ajaib. Apapun yang tak terduga bisa kamu temui dalam Busway.
Aku terus memperhatikannya dari belakang dia berjalan santai ke jembatan penghubung Mall. Aku terus memperhatikannya dan dia berbelok ke kiri ke PIM 2 sedangkan aku mengambil kanan ke arah Gramed PIM 1. Melihat ke belakang lagi, aku tidak tahu dia akan pergi ke mana, aku tidak siapa namanya, dan sesal itu terus ada sampai sekarang.
Sesal yang sama dengan cinta yang kupendam kepada S.
. . .
Friday, August 29, 2014
Supranatural
Supranatural
By Ftrohx
Seandainya aku diberikan kekuatan supranatural, ada dua hal yang aku inginkan.
Pertama retrocognition, kekuatan untuk melihat masa lalu dari benda atau makhluk yang kusentuh.
Aku sangat menginginkan kekuatan ini. Iya karena aku selalu merasa kesepian di tengah keramaian.
Tiap kali berada di halte Busway ataupun di dalam Bus TransJakarta. Aku selalu bertanya-tanya sendiri siapa saja orang yang berada di sekitarku, baik itu yang duduk maupun yang berdiri, baik itu yang di dalam bus atau yang berkendaran di luar dengan sepeda motor atau mobilnya.
Aku suka memperhatikan mereka, orang-orang yang tak kukenal, pria dan wanita, muda ataupun tua, cantik atau jelek. Aku suka melihat mereka sambil bertanya-tanya sendiri. Siapa nama mereka? Ke mana mereka akan pergi? Di mana kantor atau tempat kerja mereka? Pekerjaan apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup? DI mana rumah mereka untuk pulang? Seperti apa kehidupan mereka di sana? Apa hobi mereka dan apa yang mereka perbuat untuk bisa bahagia?
Bukan hanya bertanya-tanya, kadang aku berkhayal seandainya aku berada di posisi mereka, seandainya aku bisa melihat dunia dari sudut pandang mereka.
Mungkin seandainya retrocognition itu ada, aku akan sangat ketagihan 'memori' dari orang-orang yang kutemui.
Kedua kekuatan supranatural yang sangat kuinginkan adalah kekuatan menghentikan waktu.
Terkadang aku merasa waktu tidak pernah cukup, kadang aku selalu terlambat dalam banyak hal, terlalu banyak yang ingin kuperbuat tapi dengan segala keterbatasanku semua janji-janji itu hanya tinggal janji.
Seandainya aku bisa menghentikan waktu mungkin aku bisa mengerjakan tugas-tugasku dengan lebih baik, mungkin semua PR-PR ku bisa selesai dengan mudah, mungkin aku bisa memberikan kebanggaan dan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarku.
. . .
Monday, August 25, 2014
Ksatria, Naga, dan Tuan Putri
Ksatria, Naga, dan Tuan Putri
Sebuah Cerpen
By Ftrohx
Terkadang tahu sebelum orang lain tahu itu tidaklah indah, ketika kita mengetahui sesuatu sementara orang lain yang kita ajak bicara tidak tahu. Rasanya seperti sebuah kehampaan. Begitu pikir Fachrie, sering dia merasa hampa ketika bicara dengan seseorang tentang apa yang dia tahu sementara teman yang dia ajak bicara tidak tahu. Mereka hanya bengong, melongok, beberapa bahkan mentertawakannya, karena apa yang dia bicarakan jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh orang-orang itu.
Sempat tersirat dalam benak Fachrie, mungkin metode-nya beda dengan TORA, atau mungkin Tora memang punya kharisma untuk memikat banyak orang dengan perkataannya. Sehingga apa yang dia tahu, bisa dia pamerkan. Sedangkan bagi Fachrie, rasa itu begitu sepi. "Lo sok tahu sendiri," atau "Nggak ngerti gw apa yang lo omongin?" Tapi, ketika Tora bicara meskipun mereka tidak mengerti tapi mereka begitu mengagumi Tora. Rasanya seperti seribu tahun kesepian. Fachrie sering bertanya-tanya "Apa ada orang yang mengabaikan Tora?!"
Dia seperti monster di mata Fachrie, manusia yang tidak punya rasa peduli ataupun rasa sakit. Tora tidak percaya dengan kesepian, karena kesepian hanya untuk orang yang lemah. Dan dia tidak peduli apakah orang suka atau tidak suka dengan ucapannya, Dia tidak peduli apakah seseorang mengikutinya atau tidak... Mungkin inilah disebut ekstrovert, mereka hanya bicara dan tidak peduli dengan efeknya. "Antusias atau tidak seseorang mendengarkan lo, bukanlah persoalan pengetahuan lo. Bukan tentang apa yang lo tahu dan orang lain tidak tahu." Fachrie sering mengalaminya ketika bicara dengan seorang cewek dan cewek itu tidak tahu apa yang Fachrie bicarakan.
Maka si cewek hanya bilang "Hm... Oh... Iya... Tul... dsb." lalu "Maka-nya jangan sok tahu sendiri donk!" hardik itu cewek.
Sedangkan jika Tora yang bicara, maka si cewek akan menanggapi "Wah, seru ntuh... ajarin donk... apalagi selanjutnya... kamu keren tahu banyak hal... kamu genius... kamu bla bla bla... dsb."
Dari situ Fachrie menyadari bahwa Tora memiliki lebih dari sekedar pengetahuan, dia punya charisma. Meski dengan pengetahuan yang pas-pasan namun dengan Kharisma, Tora bisa mendapatkan apa yang dia mau. Di sisi lain Fachrie sadar bahwa dia tidak memiliki kharisma seperti Tora. Namun, dia memiliki kekuataan yang lain yaitu imajinasi.
Inka mencari kata-kata yang tepat namun tak ada yang bisa dia ucapkan selain. “I’m very HAPPY with you!”
Seminggu yang lalu di Neunzig, Fachrie begitu banyak bicara tentang Singapore Flyer, sebuah Giant Ferris Wheels terbesar di Asia, bahkan mengalahkan Eyes of London. Terdiri dari 28 kapsul yang setiap kapsul mampu menampung 28 orang, dan sekarang mereka berdua berada di dalamnya. Memandangi langit dan kota yang bertabur cahaya. “Apalagi aku, lebih dari bahagia!”
Di ujung sana di kapsul sebelumnya, Liana, Satria, & Harry telah melaju terlebih dahulu mereka melambaikan tangan. Sambil memotret sekitar Liana berharap menemukan adegan romantic seperti di Before Sunrise dari Fachrie dan Inka.
“Kamu lihat di sana?”
“Iya, Liana!”
“Aku rasa dia sangat berharap melihat kita berdua berciuman!”
“Iya, sepertinya begitu.” Fachrie tertawa. “Tapi, enggak mungkinlah kita ngasih itu, adegan itu terlalu klise!”
“Hahaha…” Inka juga ikut tertawa. Dia merasa belum pernah sebahagia ini sebelumnya.
"Tahu sekarang tanggal berapa?" Tanya Fachrie.
"1 November kan!"
"Iya, Kamu ingat Bakuman volume 18?"
"Oiya, kok bisa kebetulan begini ya? Mereka berdua (Hiramaru & Aoki) juga berada di Flyer Wheels! Jangan-jangan kamu sudah men-setting semuanya ya!?" Inka takjub lalu di susul tawa keduanya.
“Tentu aja enggak."
“Serius?”
“Iya.” Fachrie menatap mata Inka. "Ini bukan karena Hiramaru Kazuya juga bukan ide-nya Ethan Hawk di Before Sunrise.”
Kembali keduanya tertawa.
“Romantis itu apa sih?” Lanjutnya.
“Nah, itu aku belum pernah menemukan jawabanya. Terkadang hal-hal bodoh bagi orang lain, merupakan hal romantis bagi kita, sedangkan hal romantis bagi orang lain, sama sekali tidak menarik untuk kita?”
“Hahaha… Dasar detektif koplak dari dulu gak bisa romantis!”
“Apanya yang enggak romantis?”
“Tempat ini maksud ku, enggak romantis banget tahu, capsule-nya terlalu besar untuk hanya kita berdua?”
"Hahaha..." Fachrie tertawa. Oh, my God she’s so beautiful.
“Iya, lalu…” Inka penasaran dengan apalagi yang ingin diungkap Fachrie.
“Sengaja tadi aku nggak cerita hal yang ini di hadapan teman-teman yang lain,” Fachrie memberi Inka sebuah note. “Ada sebuah cerita, sebuah kisah yang telah ada jauh dari ribuan tahun yang lalu dan akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kisah ini bukan hanya ada di dunia barat tapi juga di dunia timur.”
Inka membacanya.
Dahulu kala, Terdapat seorang Ksatria muda yang jatuh cinta pada seorang Putri yang sangat cantik. Namun, Putri itu di culik oleh seekor Naga Raksasa. Dia di bawa ke sebuah kastil tinggi di puncak gunung.
Sang Naga memiliki Kulitnya lebih keras daripada besi, tubuh yang lebih besar daripada gajah, dan taring yang lebih tajam daripada harimau, serta mulut yang menyemburkan api. Sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan oleh manusia manapun dari bangsa apapun.
Kecantikan sang Putri mengalahkan rasa takut semua orang, kecantikannya menarik semua orang untuk bertaruh dengan nyawa menyelamatkan dirinya.
Semua Ksatria mencoba untuk mengalahkan sang Naga, menyelamatkan sang Putri, namun semuanya berakhir dengan kematian.
Berbagai cara mereka coba untuk mengalahkan sang Naga, Dengan Tombak, Panah, Pedang, Palu, dan Kampak. Dengan Api, Angin, Batu, maupun Air. Tapi, jangankan melukai, merobek kulitnya saja tak ada yang mampu.
Disaat begitu banyak orang yang telah terbunuh di sana, disaat begitu banyak pria yang melarikan diri, disaat keputusasaan menyelimuti udara. Terdapat satu orang ksatria muda yang tidak mau menyerah. Ksatria muda yang tetap berusaha bangkit sekalipun semua senjatanya telah hancur.
Dengan pedangnya yang patah itu sang Ksatria muda, berhasil merobek jantung Naga. Dia mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan, dia menyelamatkan sang Putri dan semua berakhir bahagia selamanya.
Tapi, sebenarnya cerita itu tidak berakhir bahagia. Kenyataannya Ksatria tidak pernah mengalahkan sang Naga, dan sang Putri tidak pernah terselamatkan. Selamanya Manusia tidak bisa mengalahkan makhluk yang jauh lebih besar dari dirinya hanya dengan kekuataan besi dan otot. Tidak akan pernah.
Ksatria muda itu tewas bersama mimpi-nya. Namun, sebelum dia menutup mata. Dia berdoa pada Tuhan untuk hidup sekali lagi, untuk bertarung lagi, sekalipun dia tahu dia tidak akan mungkin menang, tidak akan mungkin mendapatkan cintanya. Begitu pula dengan sang Putri, dia tahu semuanya tidak akan berhasil. Tapi dia rela untuk menunggu selamanya. Sekalipun bukan di kehidupan ini dia berdoa seandainya dia diberi kehidupan sekali lagi untuk menunggu Ksatria menyelamatkannya.
Dan tentu saja, Tuhan adalah Maha Mengabulkan doa, dan Dia menjawab doa tersebut.
Mereka menjelma kedalam ribuan kisah, ribuan cerita cinta, ribuan pasang manusia, dan aku yakin mereka akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kamu ingat ada kisah Aladin, Jafar, dan Putri Yasmin. Betapa miripnya dengan kisah Ksatria, Naga, dan Tuan Putri. Hanya saja sang Naga menjelma menjadi penyihir Jafar yang mencoba menguasai seluruh kerajaan. Kamu pasti tahu Romeo & Juliet. Cinta mereka terhalang oleh takdir keluarga yang saling berperang. Ya, peperangan adalah kebencian, dan kebencian merupakan jelmaan dari sang Naga jahat yang pernah menghalangi cinta sang Ksatria dan Tuan Putri.
Di tengah keputusasaan sang Ksatria berharap dia bisa kembali lagi ke masa lalu, kembali lagi bertarung dan mencari cara untuk mengalahkan Naga. Apapun dan bagaimanapun itu dia akan terus berusahan untuk mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk di kalahkan. Sang Ksatria menjadi pemuda bernama Alexander. Seorang penemu genius di New York abad ke-19. Dia mencintai seorang gadis cantik, namun takdir merenggutnya dia membawanya pergi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalahkan takdir, dan Alexander pun menciptakan Time Machine untuk kembali ke awal, kembali menyelamatkan sang kekasih berapa kalipun itu dia akan terus mencoba untuk menemukan jawabannya.
Sang Ksatria menjelma menjadi Jonathan Harker yang berani menantang Count Dracula (sang Maha vampire dari segala vampire) untuk mendepatkan kembali tunangannya yaitu Wilhem Mina. Semua orang di dunia ini tahu nama besar Dracula, nama itu adalah terror tersendiri, nama itu tabu bagi banyak orang untuk di ucapkan, Ketakutan bahkan untuk orang yang tidak memiliki akal sekalipun. Sedangkan Harker hanya seorang manusia biasa yang tidak mungkin hidup jika melawannya. Namun Harker begitu idiot bertarung, Musthahil bagi Harker yang hanya manusia biasa untuk tetap hidup, namun dia dengan begitu idiotnya tetap bertarung melawan Dracula.
Sang ksatria menjelma menjadi Kenshi Himura yang menyelamatkan Kaoru dari Enichi. Semangat membaranya berhebus di tiap nafas Hanamichi, saat menghempaskan bola ke dalam ring basket. Mimpinya hanya ingin menjadi pemain basket dan mendapatkan cinta Haruko. Sang Ksatria berada dalam diri Mashiro Kun yang bertarung melawan kemusthahilan, berusaha menggapai mimpi sebagai seorang manga-ka nomor satu untuk melamar Azuki. Sang Ksatria juga bereinkarnasi dalam diri Ichigo Kurosaki bertarung untuk menyelamatkan Rukia dan seluruh Soul Society dari Aizen yang tak terkalahkan.
Inka tidak pernah tahu kalau Fachrie jago mendongeng, tulisannya itu membuat matanya berkaca-kaca. Dia menarik nafas dalam, tangannya perlahan melipat note tersebut.
“Kisah itu akan terus ada, Kisah seorang Ksatria yang bertarung melawan kemusthahilan, bertarung untuk mendapatkan cintanya, bertarung untuk mendapatkan sang putri.” Ucap Fachrie sambil tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
Mungkin kotak kecil ini yang sebenarnya diburu oleh Tora dan anak buahnya, mungkin karena isi dalam kotak kecil inilah semua insiden itu terjadi… Tapi tidak semua misteri mesti dipecahkan, pikir Inka.
Sementara tubuh gadis cantik itu tidak dapat menahan degup kencang di jantungnya.
. . .
Nb: Cerpen ini terdapat pada novel saya yang berjudul Sepuluh Tiga Satu
Sebuah Cerpen
By Ftrohx
Terkadang tahu sebelum orang lain tahu itu tidaklah indah, ketika kita mengetahui sesuatu sementara orang lain yang kita ajak bicara tidak tahu. Rasanya seperti sebuah kehampaan. Begitu pikir Fachrie, sering dia merasa hampa ketika bicara dengan seseorang tentang apa yang dia tahu sementara teman yang dia ajak bicara tidak tahu. Mereka hanya bengong, melongok, beberapa bahkan mentertawakannya, karena apa yang dia bicarakan jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh orang-orang itu.
Sempat tersirat dalam benak Fachrie, mungkin metode-nya beda dengan TORA, atau mungkin Tora memang punya kharisma untuk memikat banyak orang dengan perkataannya. Sehingga apa yang dia tahu, bisa dia pamerkan. Sedangkan bagi Fachrie, rasa itu begitu sepi. "Lo sok tahu sendiri," atau "Nggak ngerti gw apa yang lo omongin?" Tapi, ketika Tora bicara meskipun mereka tidak mengerti tapi mereka begitu mengagumi Tora. Rasanya seperti seribu tahun kesepian. Fachrie sering bertanya-tanya "Apa ada orang yang mengabaikan Tora?!"
Dia seperti monster di mata Fachrie, manusia yang tidak punya rasa peduli ataupun rasa sakit. Tora tidak percaya dengan kesepian, karena kesepian hanya untuk orang yang lemah. Dan dia tidak peduli apakah orang suka atau tidak suka dengan ucapannya, Dia tidak peduli apakah seseorang mengikutinya atau tidak... Mungkin inilah disebut ekstrovert, mereka hanya bicara dan tidak peduli dengan efeknya. "Antusias atau tidak seseorang mendengarkan lo, bukanlah persoalan pengetahuan lo. Bukan tentang apa yang lo tahu dan orang lain tidak tahu." Fachrie sering mengalaminya ketika bicara dengan seorang cewek dan cewek itu tidak tahu apa yang Fachrie bicarakan.
Maka si cewek hanya bilang "Hm... Oh... Iya... Tul... dsb." lalu "Maka-nya jangan sok tahu sendiri donk!" hardik itu cewek.
Sedangkan jika Tora yang bicara, maka si cewek akan menanggapi "Wah, seru ntuh... ajarin donk... apalagi selanjutnya... kamu keren tahu banyak hal... kamu genius... kamu bla bla bla... dsb."
Dari situ Fachrie menyadari bahwa Tora memiliki lebih dari sekedar pengetahuan, dia punya charisma. Meski dengan pengetahuan yang pas-pasan namun dengan Kharisma, Tora bisa mendapatkan apa yang dia mau. Di sisi lain Fachrie sadar bahwa dia tidak memiliki kharisma seperti Tora. Namun, dia memiliki kekuataan yang lain yaitu imajinasi.
Inka mencari kata-kata yang tepat namun tak ada yang bisa dia ucapkan selain. “I’m very HAPPY with you!”
Seminggu yang lalu di Neunzig, Fachrie begitu banyak bicara tentang Singapore Flyer, sebuah Giant Ferris Wheels terbesar di Asia, bahkan mengalahkan Eyes of London. Terdiri dari 28 kapsul yang setiap kapsul mampu menampung 28 orang, dan sekarang mereka berdua berada di dalamnya. Memandangi langit dan kota yang bertabur cahaya. “Apalagi aku, lebih dari bahagia!”
Di ujung sana di kapsul sebelumnya, Liana, Satria, & Harry telah melaju terlebih dahulu mereka melambaikan tangan. Sambil memotret sekitar Liana berharap menemukan adegan romantic seperti di Before Sunrise dari Fachrie dan Inka.
“Kamu lihat di sana?”
“Iya, Liana!”
“Aku rasa dia sangat berharap melihat kita berdua berciuman!”
“Iya, sepertinya begitu.” Fachrie tertawa. “Tapi, enggak mungkinlah kita ngasih itu, adegan itu terlalu klise!”
“Hahaha…” Inka juga ikut tertawa. Dia merasa belum pernah sebahagia ini sebelumnya.
"Tahu sekarang tanggal berapa?" Tanya Fachrie.
"1 November kan!"
"Iya, Kamu ingat Bakuman volume 18?"
"Oiya, kok bisa kebetulan begini ya? Mereka berdua (Hiramaru & Aoki) juga berada di Flyer Wheels! Jangan-jangan kamu sudah men-setting semuanya ya!?" Inka takjub lalu di susul tawa keduanya.
“Tentu aja enggak."
“Serius?”
“Iya.” Fachrie menatap mata Inka. "Ini bukan karena Hiramaru Kazuya juga bukan ide-nya Ethan Hawk di Before Sunrise.”
Kembali keduanya tertawa.
“Romantis itu apa sih?” Lanjutnya.
“Nah, itu aku belum pernah menemukan jawabanya. Terkadang hal-hal bodoh bagi orang lain, merupakan hal romantis bagi kita, sedangkan hal romantis bagi orang lain, sama sekali tidak menarik untuk kita?”
“Hahaha… Dasar detektif koplak dari dulu gak bisa romantis!”
“Apanya yang enggak romantis?”
“Tempat ini maksud ku, enggak romantis banget tahu, capsule-nya terlalu besar untuk hanya kita berdua?”
"Hahaha..." Fachrie tertawa. Oh, my God she’s so beautiful.
“Iya, lalu…” Inka penasaran dengan apalagi yang ingin diungkap Fachrie.
“Sengaja tadi aku nggak cerita hal yang ini di hadapan teman-teman yang lain,” Fachrie memberi Inka sebuah note. “Ada sebuah cerita, sebuah kisah yang telah ada jauh dari ribuan tahun yang lalu dan akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kisah ini bukan hanya ada di dunia barat tapi juga di dunia timur.”
Inka membacanya.
Dahulu kala, Terdapat seorang Ksatria muda yang jatuh cinta pada seorang Putri yang sangat cantik. Namun, Putri itu di culik oleh seekor Naga Raksasa. Dia di bawa ke sebuah kastil tinggi di puncak gunung.
Sang Naga memiliki Kulitnya lebih keras daripada besi, tubuh yang lebih besar daripada gajah, dan taring yang lebih tajam daripada harimau, serta mulut yang menyemburkan api. Sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan oleh manusia manapun dari bangsa apapun.
Kecantikan sang Putri mengalahkan rasa takut semua orang, kecantikannya menarik semua orang untuk bertaruh dengan nyawa menyelamatkan dirinya.
Semua Ksatria mencoba untuk mengalahkan sang Naga, menyelamatkan sang Putri, namun semuanya berakhir dengan kematian.
Berbagai cara mereka coba untuk mengalahkan sang Naga, Dengan Tombak, Panah, Pedang, Palu, dan Kampak. Dengan Api, Angin, Batu, maupun Air. Tapi, jangankan melukai, merobek kulitnya saja tak ada yang mampu.
Disaat begitu banyak orang yang telah terbunuh di sana, disaat begitu banyak pria yang melarikan diri, disaat keputusasaan menyelimuti udara. Terdapat satu orang ksatria muda yang tidak mau menyerah. Ksatria muda yang tetap berusaha bangkit sekalipun semua senjatanya telah hancur.
Dengan pedangnya yang patah itu sang Ksatria muda, berhasil merobek jantung Naga. Dia mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan, dia menyelamatkan sang Putri dan semua berakhir bahagia selamanya.
Tapi, sebenarnya cerita itu tidak berakhir bahagia. Kenyataannya Ksatria tidak pernah mengalahkan sang Naga, dan sang Putri tidak pernah terselamatkan. Selamanya Manusia tidak bisa mengalahkan makhluk yang jauh lebih besar dari dirinya hanya dengan kekuataan besi dan otot. Tidak akan pernah.
Ksatria muda itu tewas bersama mimpi-nya. Namun, sebelum dia menutup mata. Dia berdoa pada Tuhan untuk hidup sekali lagi, untuk bertarung lagi, sekalipun dia tahu dia tidak akan mungkin menang, tidak akan mungkin mendapatkan cintanya. Begitu pula dengan sang Putri, dia tahu semuanya tidak akan berhasil. Tapi dia rela untuk menunggu selamanya. Sekalipun bukan di kehidupan ini dia berdoa seandainya dia diberi kehidupan sekali lagi untuk menunggu Ksatria menyelamatkannya.
Dan tentu saja, Tuhan adalah Maha Mengabulkan doa, dan Dia menjawab doa tersebut.
Mereka menjelma kedalam ribuan kisah, ribuan cerita cinta, ribuan pasang manusia, dan aku yakin mereka akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kamu ingat ada kisah Aladin, Jafar, dan Putri Yasmin. Betapa miripnya dengan kisah Ksatria, Naga, dan Tuan Putri. Hanya saja sang Naga menjelma menjadi penyihir Jafar yang mencoba menguasai seluruh kerajaan. Kamu pasti tahu Romeo & Juliet. Cinta mereka terhalang oleh takdir keluarga yang saling berperang. Ya, peperangan adalah kebencian, dan kebencian merupakan jelmaan dari sang Naga jahat yang pernah menghalangi cinta sang Ksatria dan Tuan Putri.
Di tengah keputusasaan sang Ksatria berharap dia bisa kembali lagi ke masa lalu, kembali lagi bertarung dan mencari cara untuk mengalahkan Naga. Apapun dan bagaimanapun itu dia akan terus berusahan untuk mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk di kalahkan. Sang Ksatria menjadi pemuda bernama Alexander. Seorang penemu genius di New York abad ke-19. Dia mencintai seorang gadis cantik, namun takdir merenggutnya dia membawanya pergi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalahkan takdir, dan Alexander pun menciptakan Time Machine untuk kembali ke awal, kembali menyelamatkan sang kekasih berapa kalipun itu dia akan terus mencoba untuk menemukan jawabannya.
Sang Ksatria menjelma menjadi Jonathan Harker yang berani menantang Count Dracula (sang Maha vampire dari segala vampire) untuk mendepatkan kembali tunangannya yaitu Wilhem Mina. Semua orang di dunia ini tahu nama besar Dracula, nama itu adalah terror tersendiri, nama itu tabu bagi banyak orang untuk di ucapkan, Ketakutan bahkan untuk orang yang tidak memiliki akal sekalipun. Sedangkan Harker hanya seorang manusia biasa yang tidak mungkin hidup jika melawannya. Namun Harker begitu idiot bertarung, Musthahil bagi Harker yang hanya manusia biasa untuk tetap hidup, namun dia dengan begitu idiotnya tetap bertarung melawan Dracula.
Sang ksatria menjelma menjadi Kenshi Himura yang menyelamatkan Kaoru dari Enichi. Semangat membaranya berhebus di tiap nafas Hanamichi, saat menghempaskan bola ke dalam ring basket. Mimpinya hanya ingin menjadi pemain basket dan mendapatkan cinta Haruko. Sang Ksatria berada dalam diri Mashiro Kun yang bertarung melawan kemusthahilan, berusaha menggapai mimpi sebagai seorang manga-ka nomor satu untuk melamar Azuki. Sang Ksatria juga bereinkarnasi dalam diri Ichigo Kurosaki bertarung untuk menyelamatkan Rukia dan seluruh Soul Society dari Aizen yang tak terkalahkan.
Inka tidak pernah tahu kalau Fachrie jago mendongeng, tulisannya itu membuat matanya berkaca-kaca. Dia menarik nafas dalam, tangannya perlahan melipat note tersebut.
“Kisah itu akan terus ada, Kisah seorang Ksatria yang bertarung melawan kemusthahilan, bertarung untuk mendapatkan cintanya, bertarung untuk mendapatkan sang putri.” Ucap Fachrie sambil tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
Mungkin kotak kecil ini yang sebenarnya diburu oleh Tora dan anak buahnya, mungkin karena isi dalam kotak kecil inilah semua insiden itu terjadi… Tapi tidak semua misteri mesti dipecahkan, pikir Inka.
Sementara tubuh gadis cantik itu tidak dapat menahan degup kencang di jantungnya.
. . .
Nb: Cerpen ini terdapat pada novel saya yang berjudul Sepuluh Tiga Satu
Thursday, August 14, 2014
Kenapa aku pilih Detektif?
Kenapa aku pilih Detektif?
By Ftrohx
Kenapa aku pengen banget jadi detektif atau penulis novel detektif?
Kenapa nggak yang lain? Kenapa aku nggak jadi penulis galau-galauan atau pocong-pocongan atau komedi romantis? Toh ,mereka banyak peminatnya? Kenapa? Kenapa?
"Karena orang-orang dalam lingkaran kehidupan gue selalu COOL semua,"
Cewek yang kusukai dari zaman SMA dulu dia cantik, dia keras kepala, dia cool, dan tidak pernah bercanda.
Ketua geng ku waktu di SMA, sama juga karakter high machiavellians begitu dan sebagainya.
Iya, aku juga kenal beberapa teman yang kocak-kocak tapi sebagai laki-laki kita nggak boleh terlihat lemah, apalagi melakukan hal-hal yang memalukan.
Membuka aib atau mengaku galau di social media adalah hal yang memalukan, dan aku berusaha sebisa mungkin itu tidak melakukan itu, apalagi mempublikasikannya dalam sebuah buku. "Oh, tidak itu bukan gue BANGET!"
Ok, kembali lagi kenapa aku pengen jadi detektif? Kenapa nggak jadi yang lain?
Menjadi detektif itu adalah pekerjaan yang COOL menurutku, KEREN karena kamu bisa melakukan hal-hal yang orang lain tidak bisa lakukan atau jarang bisa lakukan. Kami memiliki keahlian khusus dalam memecahkan teka-taki, dan jelas itu KEREN.
Tidak perlu melihat ke Detektif Yakumo, Sherlock Holmes, Lincoln Rhyme, Arsene Lupin, Shinichi Kudo, Alex Cross, L Lawliet, dan sebagainya. Mereka sudah terlalu keren, tidak perlu disanksikan lagi, dalam alam bawah sadar kamu. Kamu ingin menjadi seperti mereka, hebat dan dipuja banyak orang tanpa perlu menjadi artis.
Dengan menjadi detektif, kamu menjadi ROCKSTAR tanpa perlu menjadi artis.
Tapi, tanpa perlu menjadi sekeren mereka, kamu juga bisa punya hidup enak. Lihat saja detektif konyol nan idiot seperti Kogoro Mori. Meskipun bego-nya minta ampun, namun detektif Mori bisa punya banyak kenalan dan teman-teman selebritis loh, padahal lu tahukan idiotnya dia seperti apa.
Ok, aku memang bukan ROCKSTAR, aku juga nggak punya wajah tampan seperti artis. Tapi aku yakin dengan menjadi penulis novel detektif, aku bisa setara dengan mereka.
. . .
Saturday, August 9, 2014
Mimpi dan Realita (I)
Mimpi dan Realita (I)
By Ftrohx
Apa sebenarnya mimpi itu? Yang kubicarakan bukan tentang mimpi di saat kita tertidur, tapi mimpi disaat kita terbangun.
Mimpi yang kita ciptakan secara sadar.
Mereka bilang bahwa mimpi hanya mimpi, mimpi yang terlalu tinggi tidak dapat terwujud.
Tapi, kupikir sebaliknya. Dengan segala hal yang telah terjadi pada hidupku. Menurutku tidak ada mimpi yang terlalu tinggi.
Inilah yang aku alami beberapa hari yang lalu,
Sebenarnya, aku selalu takut membawa motor sendiri, beberapa tahun yang lalu, sewaktu di kampus aku membuat motor seorang teman menabrak pagar pembatas. Tapi kemarin aku mencoba untuk memberanikan diri, membawa motor sendiri dan ternyata jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan, daripada yang kuimpikan. Semua begitu mudah, aku sendiri tidak mengerti. Mengendarai motor ini lebih mudah daripada yang pernah aku impikan.
Bukan cuma motor, hal-hal yang lain juga. Dahulu aku selalu khawatir mendekati cewek cantik, aku selalu gugup, aku terlalu dan terlalu cemas memikirkan banyak hal. Sampai aku sadari bahwa semuanya itu begitu mudah. Jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan. Semuanya mengalir begitu saja.
Menulis note ini, aku mencoba menyadari hal-hal terbaik yang pernah kualami dan kudapati dengan begitu mudah.
Di saat orang-orang lain hanya bermimpi untuk kuliah, dengan mudah setelah satu tahun lulus dari SMA aku masuk sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Dengan mudah pula aku masuk di jurusan yang kuinginkan yaitu Manajemen Keuangan. Meski berbagai masalah membuatku terhenti. Tapi kusadari lagi, beberapa hal berjalan dengan begitu mudah dalam hidupku, lebih mudah daripada apa yang aku impikan lebih mudah daripada apa yang aku khawatirkan.
Begitu juga dengan menulis sebuah cerita, kadang aku terlalu khawatir tulisanku jelek. Kekhawatiran itu menghambatku. Kadang kekhawatiran itu membuatku tidak menulis sama sekali. Dan ketika aku melepaskan kekhawatiran itu, tulisanku mengalir dengan sendirinya hingga ribuan kata sekali ketik. Begitupula dengan sebuah cerita yang bagus, selama ini aku selalu khawatir ketika aku menulis sebuah cerita yang bagus, apakah aku masih punya back up atau cadangan cerita supaya jadi senjata rahasia. Tapi ketika aku melepaskannya, ketika aku membuang kekhawatiran itu. Ide cerita yang lebih bagus lagi, muncul dengan mudahnya.
Kembali bicara tentang impian lagi, mimpi yang sedang kukejar saat ini adalah menjadi penulis crime thriller no. 1 di Indonesia. Sebuah mimpi yang ambisius, banyak orang bilang mimpiku ini tidak realistis. Tapi satu hal yang mesti kamu tahu bahwa semua penulis adalah pemimpi yang ambisius, karena ambisi menciptakan energi tersendiri di dalam tubuh kami. Energi itu yang membawa kami pergi terlalu jauh, membawa kami menelusuri jalan yang tidak pernah orang pijakan, menelusuri tempat-tempat yang sepi, membuat kami tersesat untuk menemukan sebuah harta karun.
Sekeping harta karun terbesar bagi kami yaitu impian yang terwujud menjadi nyata.
. . .
Nb: ilustrasi, sumber paulparish.wordpress.com
Wednesday, August 6, 2014
Eks Pecundang Lajang
Eks Pecundang Lajang
By Ftrohx
Banyak pakar yang bilang bahwa. "Kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya," tapi menurutku kita tidak tahu apa yang kita miliki karena kita kurang mensyukuri hidup, karena kurang bersyukur kita jadi lupakan hal-hal penting sudah ada pada diri kita.
Kita baru menyadari hal penting bukan saat kita kehilangan, tapi saat memberi jarak dalam kehidupan kita. Saat melihat dari sudut mata orang lain.
Jujur, selama ini aku adalah orang bodoh dalam hal bersyukur. Aku tidak pernah tahu apa yang harus aku syukuri, aku tidak pernah tahu apa yang telah kumiliki yang membuat orang lain iri padaku.
Aku selalu berkhayal seandainya aku menjadi orang lain. Tapi mereka orang-orang itu justru bilang bahwa sangat-sangat beruntung. Dan dari tatapan mata, mereka benar-benar jujur mengungkap hal itu.
"Kok bisa sih, lo ada di dekat dia? Kok bisa sih lo selalu berada di momen penting hidupnya?" ucap mereka dan aku tidak bisa menjawabnya karena selama aku tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu begitu panjang bersama dengannya.
Sebuah cerita yang dimulai dari masa-masa sekolah, lalu terus berlanjut sampai sekarang, dan mungkin masih akan panjang ke depannya.
Dahulu, di kelasku ada dua cowok tampan.
Yang satu sebut saja Aomine, dia memiliki tubuh atletis, berkulit coklat gelap, punya perut six pack dan jago main basket. Dan satu lagi, sebut saja Richard, dia tampan memiliki wajah bule, kulit putih hidung mancung, supel dalam pergaulan, serta jago matematik dan fisika.
Mereka berdua adalah kutub magnet bagi kelas kami.

Sementara aku? Siapa Troh?
Bocah introvert bertampang pas-pasan yang hobinya berkhayal bisa jadian sama cewek paling cantik se-sekolahan yaitu Putri. Aku nggak punya apa-apa, tidak punya perut six pack seperti Aomine dan tidak punya muka bule seperti Richard. Nilai akademis cuma Cukup, dan main basket pun tidak bisa. Bidang seni apalagi ancur, aku tidak pernah punya guitar, menyanyi pun juga fals.
Aku bukan saingan untuk cowok macam Aomine apalagi Richard.
Aku hanya bisa melihat dari jauh di saat Putri bermain basket berdua dengan Aomine ataupun mengerjakan PR Fisika dengan Richard yang tampan.
Menurut kamu apa mimpi itu bisa terwujud? Apa aku bisa berada di sampingnya? Apa aku bisa tertawa bersamanya. Dan semua orang pun bilang itu mustahil. Hahahaha... bocah pecundang sepertiku hanya bisa berdoa dan menangis.
Lalu, waktupun berjalan.
Aku tidak pernah benar-benar dekat dengan Putri. Aku hanya secara kebetulan sering bermain ke rumahnya. Aku sering bertemu dengan adiknya ataupun kedua orang tuanya. Hanya itu saja, aku tidak tahu apa aku bisa lebih dekat lagi. Aku tidak punya apa-apa kecuali hanya mencoba untuk berani duduk di sampingnya.
Kemudian, sepuluh tahun berlalu sejak kami lulus SMA.
Aomine muncul di depan rumahku. Dia mampir karena daerah Cipulir banjir dan pekerjaannya sebagai pengantar paket harus tertunda. Aku tahu Aomine pasti datang untuk menghinaku.
Selama bertahun-tahun dia selalu menghinaku masalah cewek, selama bertahun-tahun dia selalu membanggakan apa yang telah dia dapat saat di sekolah. Saat dia bisa memeluk gadis-gadis cantik karena perutnya yang six pack, dan karena keahliannya main Basket.
Kamu tahu aku tidak punya apa-apa untuk menandingi Aomine, aku tidak punya pacar atau cewek yang bisa disebut gebetan.
Namun, kebetulan saat itu dia iseng melihat isi laptopku, dan ada fotoku bersama Putri saat dia ulang tahun.
Sontak saja Aomine terkejut. "Nggak mungkin? Kok bisa sih lo dekat dengan dia? Kok bisa sih lo ada di acara ulang tahun dia?" wajah cowok playboy itu terlihat sangat geram.
Dia benar-benar tidak percaya aku bisa berada di dalam rumahnya Putri, bahkan terlihat begitu dekat di foto itu.
"Gw IRI sama elo," ucapnya.
Saat itu aku sendiri tertegun, aku nggak bisa cerita apa yang terjadi. Semuanya begitu panjang dan menyedihkan. Tapi kenyataannya sebagai manusia kita hanya melihat sebuah hasil, bukan sebuah proses.
Akupun berkata. "Justru selama ini gw yang sangat IRI dengan hidup lo,"
Tak lama si Aomine ini pun beranjak pamit dari rumahku. Dia tampak emosional,
Kalau kembali ke sepuluh tahun yang lalu, apa yang aku dapati sekarang rasanya juga sangat tidak mungkin.
Aku memang bukan pacarnya Putri, tapi dalam sepuluh tahun ini aku menyadari bahwa kami melalui banyak hal bersama, lebih daripada orang lain yang pernah bersama dengan dia.
Sebulan pun berlalu setelah itu.
Ada acara reunian sekolah di sebuah kafe di Petukangan Selatan. Seperti yang kubilang sebelumnya. Di Sekolah dulu, aku bukan siapa-siapa? Aku tidak punya prestasi atau apapun untuk dikenang.
Lalu di kafe itu, aku bertemu dengan RIchard. Cowok paling tampan dan paling keren di Sekolah dulu. Masih sama seperti dulu, dia sangat ramah dan supel. Masih sama seperti dulu, semua cewek menyukai dia. Selama sepuluh tahun ini pun Putri sering bicara tentang dia, bahwa Richard adalah cowok yang paling dia kenang di Sekolah dulu, dan bukannya aku.
Sepuluh tahun lebih tidak bertemu dan hampir tidak ada yang kukenal di ruangan itu selain Richard. Kami duduk satu meja dan mengenang banyak hal di masa lalu. Berbicara tentang teman-teman lain yang tidak datang hingga masalah pekerjaan.
Lalu Richard pun berkata. "Kemarin gw lihat di wall-nya Putri ada video ulang tahun ya? dan lo ada di sana,"
"Oh, iya yang itu."
"Hubungan lo sudah sampai di mana, segera lah lamar dia?"
"Gw lagi nggak ada modal,"
"Ngelamar nggak perlu pakai modal, niat'in aja dulu, bilang ke dia kalau lo serius."
Entah, aku tidak bisa menjawab lagi. Richard sendiri saat ini sudah married dengan seorang wanita dan iya begitupula teman-teman alumni sekolah yang ada di ruangan ini..
"Lo itu beruntung banget tahu Troh, lo bisa dekat dia, bisa kenal dengan orang tuanya, bisa kenal dengan saudara-saudaranya dan selalu ada di momen-momen penting, hidupnya dia. Jujur, gw sendiri IRI sama lo," ucap Richard cowok paling ganteng dan populer di sekolah ku dulu.
Padahal justru sebaliknya dari dulu, aku sangat iri dengan semua hal yang ada pada Richard. Sering aku berkhayal bahkan berdoa seandainya aku dilahirkan sebagai dia, cowok paling populer di sekolah. Tapi hidup sungguh aneh, kita tidak pernah apa itu sesuatu yang berharga sampai kita melihat dari sudut pandang orang lain.
"Hei, lagi ngomongin gw ya?" Tiba-tiba Putri sudah berada di belakang kami.
"Nggak, pede banget lo," ucapku.
Lalu di melangkah mengambil bangku kosong, dan semua mata yang berada di dalam ruangan langsung terarah kepadanya. Walaupun waktu berjalan begitu lama sejak kami lulus sekolah tapi pesona dari seorang Putri masih sangat kuat.
Dia tetap cewek tercantik di sekolah yang bisa membuat luluh semua lelaki.
"Put, lo sudah married?" tanya Bowo si ketua panitia.
"Belum,"
"Pacar?"
Putri tidak menjawab, dia hanya tertunduk sambil tersenyum.
Cowok-cowok yang lain pun berteriak. "Boleh nih, tinggal pilih saja banyak cowok ganteng di sini."
Putri hanya tersenyum, dan tangan kananku merangkulnya. Aku mendekapnya, hingga membuat semua mata di seluruh ruangan ini melotot ke arahku, eks cowok paling pecundang se-sekolahan.
. . .
Tuesday, August 5, 2014
Sebuah Doa Sebuah Mimpi
Sebuah Doa Sebuah Mimpi
By Ftrohx
Apakah sebuah doa dapat terkabul? Apakah sebuah mimpi dapat terwujud?
Dahulu kamu masih begitu polos kamu berdoa sesuatu hal yang sederhana, sangat sederhana.
Kamu berdoa seperti anak kecil
Kamu hanya bilang "Ya ALLOH seandainya Engkau memperkenankan saya untuk bisa dekat dengan dia,"
Lalu selama bertahun-tahun kamu berdoa dengan doa yang sama, dia setiap malam setelah tarawih ataupun sesudah sholat subuh.
Kamu percaya kalau doa itu bisa terkabul
Kamu percaya
Sampai-sampai setiap kali kamu berdoa setiap kali kamu mengingat dia, bulu kuduk kamu merinding.
Ada hawa sejuk diantara doa itu
Lalu setelah sekian lama, dengan berbagai gelombang kehidupan, doa kamu tak kunjung dikabulkan
Mimpi kamu tak kunjung menjadi nyata
Perlahan kepercayaan kamu terkikis, keyakinan akan doa-doa itupun luntur
Kamu menjadi jarang berdoa
Kamu menjadi orang apatis bahkan cenderung agnostik
Kamu tidak peduli lagi dengan masa lalu ataupun masa depan
Kamu tidak percaya dengan cinta dan kasih sayang
Lalu secara tiba-tiba sepuluh tahun kemudian disaat kamu sudah tidak berharap lagi
Dia muncul begitu saja dihadapan kamu
Dia tersenyum di muka kamu
Kamu melihat wajah cantiknya dan jarak itu benar-benar tipis
Kamu tidak pernah melihat senyumnya seindah itu
Kamu bicara dia, kamu tertawa bersamanya, kamu berada di sampingnya.
Semua doa yang terlalu berlalu puluhan tahun yang lalu tiba-tiba terwujud dalam satu malam.
Setelah makan malam yang indah
Kamu pulang dan tertawa lepas
Kamu menangisi bahwa ternyata hidup bisa menjadi begitu indah
Kamu menangis sekaligus tertawa bahwa sebuah doa bisa terkabul, meski harus menanti puluhan tahun.
. . .
Tuesday, July 29, 2014
Surat Untuk Putri
Surat Untuk Putri
By Ftrohx
Kamu memang benar, aku sudah berbuat banyak kesalahan.
Aku bukan orang yang hebat, aku bukan yang terbaik untuk kamu. Aku selalu terlambat.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun untuk hal itu. Aku juga tidak bisa bilang bahwa ini adalah takdir, aku tidak tahu apa tepatnya.
Putri, kamu benar. Sampai saat ini aku memang tidak bisa berbuat baik untuk kedua orang tuaku. Di umurku yang sekarang ini aku masih belum bisa berbuat apapun untuk mereka.
Pekerjaanku saat inipun belum bisa menghasilkan apa-apa. Tapi aku terus mengerjakannya.
Kamu bilang supaya aku berhenti saja. Bekerja hal yang lain, yang bisa kukerjakan hanya dengan ijasah SMA. Tapi tetap sampai saja aku tidak bisa. Kamu tidak tahu apa yang aku alami, kamu tidak pernah tahu keputusasaan yang telah kulewati, kamu tidak benar-benar tahu apa yang telah terjadi dalam hidupku.
Akupun tidak tahu harus menuliskannya darimana.
Mungkin membaca ini, kamu tetap tidak akan peduli, mungkin kamu juga akan bilang alasanku hanyalah dibuat-buat. Tapi ini adalah kejujuranku.
Aku adalah orang yang kurang beruntung, aku tidak pernah mendapatkan apa-apa di SMP dan SMA. Aku tidak seperti teman-temanku (tidak seperti ZAN ataupun Rahmat) yang punya motor dan bisa ngecengin cewek serta pergi berkencan. Aku sangat tidak beruntung saat itu. Aku hanya bisa bermimpi, aku hanya bisa melihat dari jauh seorang gadis tercantik di seluruh daerah Jakarta Selatan dan hanya memimpikannya.
Saat kelas 2 SMA, satu per satu teman-temanku meninggalkanku.
Mereka pergi begitu saja tanpa pernah bilang alasannya. Tapi aku tahu kenapa mereka pergi. Karena aku tidak punya motor seperti mereka. Aku tidak punya sehingga aku tidak layak bersama mereka. Aku tidak tahu harus berbuat apa di saat mereka selalu membanggakan apa yang mereka punya.
Mereka selalu membanggakan pacar mereka dan kegiatan apa yang pernah mereka lakukan. Sedangkan aku tidak punya hal seperti itu.
Aku hanya punya sebuah mimpi, yaitu bersama dengan kamu.
Aku berharap seandainya aku bisa dekat dengan kamu Tuan Putri tercantik, aku bisa menembus semua kekalahan yang telah terjadi. Aku bisa memiliki kebanggaan dan kehormatanku kembali di hadapan mereka. Tapi sampai SMA berakhir aku tetap tidak mendapatkan apapun.
Lulus SMA kamu menghilang entah ke mana.
Sedangkan aku di Jakarta berjuang sendirian.
Aku mengambil ujian masuk STAN, namun di tahun itu aku tidak berhasil lulus.
Kamu tahu dengan hanya bekal ijasah SMA sangat sulit mendapatkan pekerjaan di Jakarta.
Tidak kuliah, aku berakhir menjadi pengangguran selama beberapa bulan.
Kemudian di akhir tahun aku mendapatkan pekerjaan sebagai Cleaning Service di Auditorium Lemigas. Pekerjaan dengan gaji sangat kecil hanya 500ribu, untuk dapat 700ribu sebulan aku mesti kerja lembur Sabtu dan Minggu di Auditorium juga. Tapi meski gajinya kecil, di banding pekerjaanku yang lain. Menjadi Cleaning Service di Lemigas adalah pekerjaan yang paling banyak kenangan indah yang pernah kualami.
Suatu sore saat pulang dari Lemigas, di Perdatam aku bertemu dengan Agus Setiawan, dia pulang dari pekerjaan dengan membawa motor bebek.
Dia bertanya aku kerja di mana? Aku pun menjelaskan, "aku adalah Cleaning Service di Lemigas." Lalu, Agus pun tertawa. "Hahahaha... Lulusan SMA 90, salah satu SMA paling keren di Jakarta Selatan, jadi Cleaning Service!!"
Kamu tahu RASA ITU SANGAT SAKIT.
Aku berpikir untuk berhenti saja dari pekerjaanku. Sebenarnya bukan hanya Agus yang bilang begitu, tetangga-tetangga rumahku dan teman-temanku di staf Lemigas juga sering bertanya seperti itu. "Kamu lulusan SMA 90, kok kerja di sini?" Permasalahannya, aku tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Sudah puluhan lamaran kukirim tapi tidak satu pun yang memilihku.
Karena berbagai macam BISIKAN SETAN itu akhirnya aku memutuskan keluar dari Lemigas. Belakangan, aku menyesali keputusan itu. Aku tidak pernah mendapatkan pekerjaan lain sebaik saat aku bekerja di Lemigas. Pekerjaan lain yang kudapatkan setelah itu justru lebih buruk dan menyiksaku. Aku tidak perlu menceritakannya di sini.
Bulan pun berlalu dan penerimaan mahasiswa baru di mulai. Ini adalah setahun setelah aku lulus SMA.
Karena kegagalanku di STAN sebelumnya aku memutuskan untuk masuk kampus yang lain, yaitu UIN Syarif Hidayatullah. Kebetulan di kampus ini terdapat sahabatku Mujib, teman kamu juga bukan.
Sejak pertama kali melangkahkan kaki di sini, aku langsung mengaguminya. Bangunan kampusnya yang besar, para mahasiswanya yang banyak berlalu lalang dari penjuru Indonesia. Seolah memaksaku untuk menjadi bagian dari mereka. Setidaknya ini adalah kampus negeri nomor dua di Jakarta setelah Universitas Indonesia.
Dengan berbagai macam pertimbangan, IBU-ku pun setuju untuk mengkuliahkan ku.
Untuk membiayaiku dengan sangat terpaksa IBU mengkontrakkan rumah kami di gang Langgar, dan kami pun tinggal di rumah Paman di Rajai Bawah. Dana dari mengkontrakkan rumah itupun sebenarnya tidak benar-benar cukup untuk membiayai kuliah ku tapi kami memaksakan diri.
Aku ikut ujian lokal, kemudian dengan ajaibnya aku lulus dan di terima di jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi-nya.
Semester-semester awal di UIN adalah HIDUP BARU bagiku. Aku merasa benar-benar bisa bernafas setelah keluar dari lautan penderitaan.
Aku punya kebanggaan tersendiri ketika bertemu dengan teman-teman SMP atau SMA, aku punya status baru Mahasiswa Universitas Negeri.
Secara kebetulan pula aku bertemu kembali dengan Agus, dia masih sama hanya seorang Satpam. Melihat statusku sebagai Mahasiswa dia tidak bisa berkomentar banyak. Dia tidak tahu dia tidak bisa menggapai posisiku. Dia tahu kedengarannya mustahil untuk anakmuda dengan latar belakang sepertiku untuk KULIAH, apalagi di Universitas Negeri.
Akupun mulai bisa masuk kembali ke komunitasnya ZAN. Mereka dan gangsternya mulai bisa menerimaku (meski tidak benar-benar menerimaku) karena aku tidak punya gandengan cewek cantik. Iya, meski tidak lolos ke ITB tapi sebagai mahasiswa Mercu Buana, ZAN masih punya kekuasaan yang absolut.
. . .
Di kampus kehidupanku berubah, jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Aku kenal orang-orang baru, teman-teman yang jauh lebih baik daripada yang kukenal di SMP & SMA.
Di kelas Manajemen E. aku berteman dengan Haryo si bocah cuek dari Depok yang punya kejeniusan seperti Shikamaru Nara. Lalu ada Yoga Gendut, temanku yang paling dermawan dan paling baik hati selalu traktir teman-teman yang kesusahan. Dan si Cumi Wahyudi, yang punya kosan yang menjadi markas kami.
Bagiku kosan Cumi menjadi surga kecil di tengah neraka kehidupanku. Di saat aku menghadapi segala kesulitan dan kesusahan hidup di luar kampus. Berada di kosan Cumi, semuanya hilang, semua kesulitan dan kesusahan itu terlupakan.
Berlanjut ke semester 5 ada satu matakuliah yang bentrok dengan jadwal pengulanganku yaitu kuliah Penganggaran. Jadi, aku memutuskan mengambil matakuliah itu di kelas lain yaitu Manajemen C. Di kelas itu secara kebetulan aku bertemu dengan anakmuda yang juga suka anime dan manga seperti ku. Aku berkenalan dengan dia, namanya adalah Gozali. Karena satu hobi kami dengan mudah menjadi sahabat dan sekarang dia adalah adik ipar kamu.
Semester 6 aku masuk jurusan Manajemen Keuangan. Secara kebetulan Gozali juga masuk di sana.
Waktu berlalu hingga ke skripsi, tapi aku belum menceritakan MASALAHKU YANG SEBENARNYA.
Selama ini aku tinggal di keluarga Betawi yang kolot.
Keluargaku tidak ada yang kuliah. Keluargaku tidak pernah ada yang punya pekerjaan mapan atau lebih tepatnya paman-paman dari keluarga besarku kebanyakan adalah pengangguran.
Bisa kubilang, keluargaku adalah terparah dari semua keluarga yang pernah kulihat.
Lebih-lebih lagi mereka membenciku, terutama Paman pertamaku, dia tidak punya anak sedangkan Ibuku adalah adiknya justru yang punya anak, dan akulah adalah cucu pertama dalam keluarga ini.
Setiap hari, setiap aku berangkat dan pulang dari kampus, pamanku selalu membicarakan tentang aku ke semua orang.
Dia selalu memfitnahku, seolah semua hal yang ada padaku adalah hal yang buruk. "Orang miskin ntuh nggak pantas kuliah," atau "Dia nggak mungkin kuliah, paling-paling nongkrong di rumah temannya," dan sebagainya dan sebagainya. Setiap hari dari semester 1 sampai semester akhir hidup kami benar-benar tersiksa di rumah keluarga besar itu.
Kesalahan utama kami adalah karena Ibu membiayai ku kuliah di UIN dengan mengkontrakan rumah.
Mereka benci itu, uang kontrakan kami hanya terpakai untuk biaya kuliah. Mereka pun tak peduli apakah aku kesulitan di kampus atau tidak.
Semester 4 dan 5 aku bekerja freelance di sebuah service AC tapi setelah itu aku kembali menanggur sambil kuliah. Berusaha mencari-cari pekerjaan, melamar ke banyak tempat tapi hasilnya kembali nihil.
Di semester akhir, permasalahan bertambah rumit. Rumah kontrakan kami tidak laku, selama beberapa bulan tidak ada pemasukan. Lalu tuntutan skripsi yang harus kukejar juga terus keteteran. Aku tidak punya komputer di rumah seperti halnya teman-teman. Aku selalu terlambat, juga masalah dengan dosen pembimbing yang tidak pernah usai. +Plus tekanan berat dari permasalahan internal antara Ibuku dan keluarga besarnya.
Akhirnya membuatku harus mengambil keputusan untuk pulang ke rumah. Keluar dari rumah pamanku dan kembali ke rumah kami di gang Langgar, dengan konsekuensi aku keluar dari kampus.
Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya, ok kamu bisa menyalahkanku akan semua ini.
Kadang aku berpikir bagaimana jika orang lain yang ada di posisi aku, bagaimana mereka bisa mencari solusi dengan segala keterbatasan dan hal yang buruk yang terjadi. Mungkin tidak ada yang bisa menghadapi hal ini selain aku sendiri, tidak ada yang bisa mengambil keputusan seperti aku. Tidak ada, karena ini adalah takdir yang harus kujalani.
Sebenarnya aku tidak ingin berjanji lagi, tapi semalam kamu memaksaku untuk bicara. kamu benar-benar memaksaku. Sebenarnya aku juga tidak ingin dibanding-bandingkan dengan dia, tapi kamu memaksaku untuk mengucapkan hal itu. "Aku bisa setara dengan Gozali, aku bisa LEBIH DARI dia dengan segala potensiku," lalu kamu bertanya. "Bagaimana jika tidak berhasil?"
"Kalau tidak berhasil maka aku akan nyebur ke kali. Tapi, jika berhasil. Aku akan MEMELUK KAMU."
. . .
nb: ilustrasi, sumber gadget.qopeqo.com
Sunday, April 20, 2014
Hujan di bawah anak tangga
Hujan di bawah anak tangga
By Ftrohx
Setelah melewati jalan yang berliku akhirnya aku sampai di tempat ini, rumah kakaknya Gozali.
Rumah ini berlantai 2 dengan view tanah lapang di depannya.

Menaiki 5 anak tangga menuju teras depan, aku menemukan Gozali di sana, dia langsung menyambutku. Sahabat ku ini benar-benar cerah dan bahagia.
Kami berbasa-basi singkat sambil mataku sesekali terarah pada panggung di depan lapangan sana.
Di rumah kakaknya ini Gozali mengadakan syukuran karena 5 hari lagi dia akan melangsungkan ijab-kabul dengan Tika.
Acara ini tidak sepenuhnya terlihat seperti acara 'syukuran' formal, justru lebih mirip bachelor party menurutku. Tapi di situlah asiknya.
Begitu banyak orang di sini, aku tidak bisa mengenali semuanya. Gozali bilang ada teman-temannya dari SD, SMP, SMA, kuliah, teman kerja, teman band hingga anak-anak komunitas Jejepangan.
Dari kelompok yang terakhir itu tentu saja, si cewek berjilbab-kacamata itu datang ke sini.
Dia datang dengan seorang teman ku juga dari komunitas Jejepangan. Dia mengenakan jilbab putih, celana jeans biru, sweater, serta kacamata seperti biasa.
Dia menyapaku lebih "Hei..." menyebut namaku, aku juga menyapa-nya dan teman di sebelah. Setelah itu justru aku berbincang dengan teman di sebelahnya.
Sepertinya dia masih tidak ingin bicara denganku, matanya terarah pada panggung di lapangan dan band yang sedang membawakan lagu Rock.
Setelah kejadian-kejadian yang kemarin mungkin dia masih marah padaku. Iya, kemarin aku terlalu emosional, mungkin aku juga terlalu putus asa. Aku tahu kita berdua sama-sama memiliki ego yang tinggi, sama-sama benci dengan kekalahan dan sama-sama ingin menang sendiri. Kita berdua saling bentrok dan selalu... Ah aku tidak bisa menuliskannya.
Harusnya aku minta maaf, tapi berapa kali kita selalu mengulang hal ini.
Dia tersenyum lagi, tapi bukan padaku melainkan pada Ridwan teman ku anak komunitas Jejepangan yang akan naik ke panggung.
Si Jilbab-kacamata menarik tangan teman (yang sedang berbincang) di sebelah ku dan mengajaknya turun ke lapangan.
Atas permintaan Gozali, Ridwan dan bandnya membawakan lagu 'Ready Steady Go' dari L'arc en Ciel. Lagu yang nge-beat dan membuat penonton berjingkrakan.
Iya, aku hanya bisa melihatnya dari belakang, di antara kerumunan orang dia menari dan melompat. Ah dia terlihat bahagia... mungkin itu yang terbaik untuknya juga untukku aku juga ikut merasa bahagia.
Kerumunan penonton itu dipenuhi oleh cowok dan dia satu-satunya cewek di sana. Aku juga nggak ngerti kenapa dia punya keberanian seperti itu menghadapi laki-laki dan berdiri di dunia laki-laki. Terlihat ajaib juga karena dia satu-satunya yang berdiri mengenakan jilbab putih di tengah sana.
Gozali menghampiriku dan kami kembali bicara tentang konsep pernikahannya nanti. Dia bilang dia telah menyewa gedung dan menyiapkan katering. Dia bilang nanti akan ada band juga yang akan mengisi acara resepsinya dan dia telah menyiapkan daftar lagu.
Aku melihat daftar itu, dari beberapa lagu, ada lagu yang juga suka didengarkan oleh si Jilbab-kacamata. Mungkin ini bisa jadi bahan perbincangan ku dengannya.
Lagu Larc en Ciel itu selesai dan penonton kembali agak tenang. Si Jilbab-kacamata berjalan ke arah meja prasmanan dan mengambil aqua gelas, dia lalu duduk di anak tangga dan aku duduk di sampingnya.
"Hei, lihat ini dah..." aku memberinya daftar lagu tersebut. "Ini akan dibawakan di acara resepsi-nya Gozali."
"Hmm," dia hanya melihat sekilas dengan wajah tidak peduli, sambil mulutnya meneguk air minum itu.
Tak lama dia tersenyum, tapi kusadari itu bukan untuk ku. Dia berdiri dari posisi sambil tangannya melambaikan tangan ke seseorang.
Aku juga berdiri dan menengok ke arah itu. Seorang pria berbadan tegap berjalan ke arah kami. Melihat dia berjalan ke sini membuatku sangat malu, aku sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tidak mengenalinya dan aku juga tidak melihat seluruh wajahnya, yang pasti dia memiliki hidung mancung, kulit putih, dan badan yang tinggi.
Dia mengenakan kemeja putih dibalut setelan jas yang terlihat mahal, layaknya seorang ekskutif muda. Aku melihat sepatu pantofel hitamnya yang mengkilat tanpa debu, kurasa dia pasti membawa sebuah sedan dan memarkirkannya di samping jalan.
Si Pria metrosexual ini langsung menyapa Jilbab-kacamata,
"Hei acara masih lama?"
"Nggak kok, emang kita mau langsung jalan?"
"Iya, takutnya ke sorean."
"Aku pamit sama temanku dulu ya."
Si Jilbab-kacamata berjalan ke ruang depan, dia menyalami Gozali dan berpamitan.
Mataku tetap terarah pada panggung, dan kamu tahu dia bahkan tidak mengenalkan ku siapa pria itu.
Dua sejoli ini langsung berjalan begitu saja melewatiku yang berada di anak tangga. Mataku masih memandang lurus ke depan berusaha untuk tidak meliriknya, berusaha untuk tidak melihatnya, tapi aku tidak bisa mengendalikan inderaku. Bola mata ini melihat dua tangan yang saling bergandengan, dia tersenyum begitu ceria pada pria berjas mahal itu. Lalu berjalan ke samping dan tak terlihat lagi.
Mungkin jika kamu bisa melihat wajahku semua terlihat amburadul, kamu bisa melihat muka ku yang shock, mimik yang sangat terkejut dan emosional. Atau mungkin pria itu juga melihat betapa anehnya aku.
Kamu tahu rasa yang kualami, ini seperti ulu hatiku di tendang oleh atlet Taekwondo, bukan-bukan, bahkan lebih dari itu seperti dadaku dihantam oleh palu godam hingga tulang dadaku patah dan patahannya merobek jantungku. Rasanya bukan hanya sakit yang sangat kuat tapi juga perih yang menyayat.
Aku rasa, aku ingin berhenti saja.
Aku rasa aku ingin pulang atau pergi jauh dari kota ini.
Aku sempat juga berpikir seandainya saja aku tidak datang ke tempat ini.
Mungkin rasa sakit ini tidak pernah ada.
PUKK!!
Sebuah tangan menepuk bahu ku "Oiy bengong aja," aku melirik ke samping dia adalah Gozali.
Dia tersenyum, dia tahu apa yang baru saja kuhadapi. "Sudah lah masih ada yang lain kok, sudah sabar aja."
Gozali tahu banyak hal tentang ku, tentang jatuh bangun hidupku, tentang cita-citaku, tentang kehidupan rumahku hingga tentang orang yang kucintai. Aku bersyukur memiliki sahabat sebaik dan sehebat dia.
Lalu sebuah suara menyusul dari belakang ku "Kakak..."
Aku menoleh, wanita yang memanggilku adalah Tika yang wajah yang sangat cerah, dia tersenyum padaku dan di sampingnya berdiri seorang Putri.
Hujan pun perlahan turun di teras ini membasahi anak tangga.
. . .
Tuesday, April 1, 2014
Hujan dan kata yang tak terucap
Hujan dan kata yang tak terucap
By Ftrohx
Kata seorang penulis di wall sebelah "Hujan itu berengsek. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tapi juga bisa membuatmu galau setengah mampus."
Hujan itu punya tombol untuk pergi ke masa lalu, atau jika kita tidak dapat pergi ke masa lalu, maka masa lalu yang mendatangi kita.
Ini fakta yang ku alami semalam.
Seperti yang kamu tahu minggu-minggu belakangan ini, Jakarta terus di guyur oleh hujan baik itu sedang ataupun berat, dari pagi sampai dengan malam.
Mungkin karena hujan pula lah aku belakangan ini lebih banyak menulis daripada membaca.
Iya, kamu tahu sudah berapa ratus ribu penulis yang terinspirasi bahkan kesurupan karena hujan. Bahkan yang lebih dari itu, ketika kamu bertemu dengan seseorang dari masa lalu kamu.
Semalam aku sedang menunggu nasi goreng favorit ku, tempatnya memang agak jauh dari rumah. Aku mesti pergi ke gang sebelah lalu melewati jalan menurun 50 meter dan belok ke kanan tepat di lapangan di depan TK Ananda.
Udara lumayan sejuk, jalanan becek, dan gerimis masih menerpa wajah ku.
Seperti biasa para pelanggan nasi goreng selalu mengantri, mungkin butuh waktu setengah jam terkadang bisa sampai satu jam baru nasi goreng pesananku disajikan.
Saat menunggu itu, pandangan ku melihat seorang cewek dengan kerudung warna broken white dengan tepian warna kuning. Berjalan berlawanan arah dengan ku.
Aku langsung mengenalinya, cewek cantik itu adalah teman Sekolah ku.
Dan dia sudah menikah tentunya.
"Hei, . . . . " maaf aku tidak menyebut namanya di sini. "Apa kabar," sapa ku basa-basi.
Mukanya terlihat terkejut, lalu senyum merekah terukir dibibirnya, wajahnya indah sekali cantik, lebih cantik daripada terakhir kali ku bertemu. "Alhamdulillah, baik."
"Darimana?" tanyaku
"Ini dari sini," dia menunjuk gang di belakang. Mungkin dari rumah temannya pikir ku.
"Sudah lama banget ya kita nggak ketemu."
"Iya, sudah berapa tahun."
"Hahahaha..." kami tertawa.
"Terakhir pas kamu married,"
"Iya, lagian kamu nggak pernah main ke rumah ku sih."
"Oiya, . . . . (aku menyebut namanya) masih di . . . . (aku menyebut nama tempat di pinggiran wilayah Jakarta Selatan)"
"Nggak sekarang aku tinggal di jalan . . . ." DIa menyebut nama sebuah jalan di daerah Tangerang dekat Ciledug.
Aku agak terkejut, "Kamu pindah? Kenapa?"
Dia tidak menjawab
"Terus suami kamu?" tanyaku ngasal.
"Aku sudah putus." ucapnya dengan ringan sambil tersenyum.
Kamu pasti bisa membayangkan reaksi di wajah ku, sangat terkejut. Padahal si cewek cantik ini sudah punya anak dua, anak pertamanya sudah menginjak usia lima tahun, kamu bisa membayangkan bebannya, dengan bekerja sendiri untuk menghidupi kedua anaknya yang mulai akan masuk sekolah.
Sejak lama aku memahami logika ini, pacaran dan putus di tengah jalan tidak sesakit menikah dan putus di tengah jalan. Pernikahan memang awal dari kebahagian yang besar tapi seperti juga hukum equlibrium ada resiko yang lebih besar lagi untuk penderitaan.
Sebenarnya diam-diam aku tahu permasalahannya.
Aku juga menyadari, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa wajahnya terlihat lebih cantik daripada terakhir kali kami bertemu. Sebenarnya aku masih mengawasi dia lewat facebook, aku masih suka stalking photo-photo yang dia upload, beberapa photo terlihat saat dia bersama suaminya (atau lebih tepatnya mantan). Aku melihat ada rasa tidak enak yang dia simpan di wajah itu, aku melihat ada beban atau sakit yang dia pendam di balik photo-photo itu. Namun sekarang di hadapan ku ini dia lebih cantik, lebih segar daripada yang kulihat di photo-photo itu. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus, tapi dia terlihat bahagia, dia bisa tersenyum lepas.
Aku teringat dengan tulisan di blog-nya Eka Kurniawan "Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia." yang dia maksud adalah pernikahan merupakan ujian manusia yang sebenarnya. Bukan cuma tentang bahagia tapi juga tentang rasa sedihnya.
Satu hal yang kusesali sampai sekarang, satu hal yang kupendam sendiri. Sejak masih sekolah, sejak dia masih perawan, sampai dia menikah, sampai dia telah bercerai sekarang. Aku belum pernah sekalipun berani untuk mengungkapkan kata suka sama dia. Belum pernah, berbeda dengan cewek-cewek lain yang kutemui yang dengan mudah aku bisa mengucapkan kata cinta. Entah untuk dia adalah semacam dinding penghalang bukan pada dirinya tapi pada hatiku sendiri. Aku tidak berani, aku tahu resikonya aku takut jika aku mengucapkan kata itu dia akan pergi menjauh dari ku, dia tidak akan jadi teman ku lagi.
Mungkin kamu berargumen bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri, terlalu nyaman dengan keadaan. Seperti kata penulis novel 5 cm. "Hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tidak berani mengatakan cinta," tapi bukan itu sebaliknya mungkin aku terlalu suka dengan dia sampai-sampai aku takut kehilangan senyum-nya. Mungkin rasa ku kepadanya memang lebih besar daripada rasaku kepada wanita lain. Entahlah, mungkin karena hujan, mungkin karena aroma petrichor dari tanah basah yang membuatku jadi mengetik cerita seperti ini.
Satu lagi, setelah pertemuan itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku memimpikan dia semalaman bahkan sampai pagi ini. Melihat wajahku di cermin aku jadi seperti Zabir yang diperankan Junot di film TKVDW, betapa gobloknya padahal masih banyak gadis perawan cantik di luar sana.
. . .
nb: Ini hanyalah cerita fiksi,
By Ftrohx
Kata seorang penulis di wall sebelah "Hujan itu berengsek. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tapi juga bisa membuatmu galau setengah mampus."
Hujan itu punya tombol untuk pergi ke masa lalu, atau jika kita tidak dapat pergi ke masa lalu, maka masa lalu yang mendatangi kita.
Ini fakta yang ku alami semalam.
Seperti yang kamu tahu minggu-minggu belakangan ini, Jakarta terus di guyur oleh hujan baik itu sedang ataupun berat, dari pagi sampai dengan malam.
Mungkin karena hujan pula lah aku belakangan ini lebih banyak menulis daripada membaca.
Iya, kamu tahu sudah berapa ratus ribu penulis yang terinspirasi bahkan kesurupan karena hujan. Bahkan yang lebih dari itu, ketika kamu bertemu dengan seseorang dari masa lalu kamu.
Semalam aku sedang menunggu nasi goreng favorit ku, tempatnya memang agak jauh dari rumah. Aku mesti pergi ke gang sebelah lalu melewati jalan menurun 50 meter dan belok ke kanan tepat di lapangan di depan TK Ananda.
Udara lumayan sejuk, jalanan becek, dan gerimis masih menerpa wajah ku.
Seperti biasa para pelanggan nasi goreng selalu mengantri, mungkin butuh waktu setengah jam terkadang bisa sampai satu jam baru nasi goreng pesananku disajikan.
Saat menunggu itu, pandangan ku melihat seorang cewek dengan kerudung warna broken white dengan tepian warna kuning. Berjalan berlawanan arah dengan ku.
Aku langsung mengenalinya, cewek cantik itu adalah teman Sekolah ku.
Dan dia sudah menikah tentunya.
"Hei, . . . . " maaf aku tidak menyebut namanya di sini. "Apa kabar," sapa ku basa-basi.
Mukanya terlihat terkejut, lalu senyum merekah terukir dibibirnya, wajahnya indah sekali cantik, lebih cantik daripada terakhir kali ku bertemu. "Alhamdulillah, baik."
"Darimana?" tanyaku
"Ini dari sini," dia menunjuk gang di belakang. Mungkin dari rumah temannya pikir ku.
"Sudah lama banget ya kita nggak ketemu."
"Iya, sudah berapa tahun."
"Hahahaha..." kami tertawa.
"Terakhir pas kamu married,"
"Iya, lagian kamu nggak pernah main ke rumah ku sih."
"Oiya, . . . . (aku menyebut namanya) masih di . . . . (aku menyebut nama tempat di pinggiran wilayah Jakarta Selatan)"
"Nggak sekarang aku tinggal di jalan . . . ." DIa menyebut nama sebuah jalan di daerah Tangerang dekat Ciledug.
Aku agak terkejut, "Kamu pindah? Kenapa?"
Dia tidak menjawab
"Terus suami kamu?" tanyaku ngasal.
"Aku sudah putus." ucapnya dengan ringan sambil tersenyum.
Kamu pasti bisa membayangkan reaksi di wajah ku, sangat terkejut. Padahal si cewek cantik ini sudah punya anak dua, anak pertamanya sudah menginjak usia lima tahun, kamu bisa membayangkan bebannya, dengan bekerja sendiri untuk menghidupi kedua anaknya yang mulai akan masuk sekolah.
Sejak lama aku memahami logika ini, pacaran dan putus di tengah jalan tidak sesakit menikah dan putus di tengah jalan. Pernikahan memang awal dari kebahagian yang besar tapi seperti juga hukum equlibrium ada resiko yang lebih besar lagi untuk penderitaan.
Sebenarnya diam-diam aku tahu permasalahannya.
Aku juga menyadari, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa wajahnya terlihat lebih cantik daripada terakhir kali kami bertemu. Sebenarnya aku masih mengawasi dia lewat facebook, aku masih suka stalking photo-photo yang dia upload, beberapa photo terlihat saat dia bersama suaminya (atau lebih tepatnya mantan). Aku melihat ada rasa tidak enak yang dia simpan di wajah itu, aku melihat ada beban atau sakit yang dia pendam di balik photo-photo itu. Namun sekarang di hadapan ku ini dia lebih cantik, lebih segar daripada yang kulihat di photo-photo itu. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus, tapi dia terlihat bahagia, dia bisa tersenyum lepas.
Aku teringat dengan tulisan di blog-nya Eka Kurniawan "Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia." yang dia maksud adalah pernikahan merupakan ujian manusia yang sebenarnya. Bukan cuma tentang bahagia tapi juga tentang rasa sedihnya.
Satu hal yang kusesali sampai sekarang, satu hal yang kupendam sendiri. Sejak masih sekolah, sejak dia masih perawan, sampai dia menikah, sampai dia telah bercerai sekarang. Aku belum pernah sekalipun berani untuk mengungkapkan kata suka sama dia. Belum pernah, berbeda dengan cewek-cewek lain yang kutemui yang dengan mudah aku bisa mengucapkan kata cinta. Entah untuk dia adalah semacam dinding penghalang bukan pada dirinya tapi pada hatiku sendiri. Aku tidak berani, aku tahu resikonya aku takut jika aku mengucapkan kata itu dia akan pergi menjauh dari ku, dia tidak akan jadi teman ku lagi.
Mungkin kamu berargumen bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri, terlalu nyaman dengan keadaan. Seperti kata penulis novel 5 cm. "Hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tidak berani mengatakan cinta," tapi bukan itu sebaliknya mungkin aku terlalu suka dengan dia sampai-sampai aku takut kehilangan senyum-nya. Mungkin rasa ku kepadanya memang lebih besar daripada rasaku kepada wanita lain. Entahlah, mungkin karena hujan, mungkin karena aroma petrichor dari tanah basah yang membuatku jadi mengetik cerita seperti ini.
Satu lagi, setelah pertemuan itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku memimpikan dia semalaman bahkan sampai pagi ini. Melihat wajahku di cermin aku jadi seperti Zabir yang diperankan Junot di film TKVDW, betapa gobloknya padahal masih banyak gadis perawan cantik di luar sana.
. . .
nb: Ini hanyalah cerita fiksi,
Gw, Hujan, Soundtrack, dan YUI
Gw, Hujan, Soundtrack, dan YUI
By Ftrohx
Mungkin sudah hampir tiga tahun gw nggak mengupdate lagu Jepang, entah mungkin gw sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang lain.
Tapi gw pikir apa yang gw punya di koleksi mp3 gw sudah lebih dari cukup. Sebenarnya gw jarang juga sih dengar / memutar mp3 gw. Karena gw sudah menikmati apa yang ada di otak gw.
Agak sulit dimengerti ya?
Ok sedikit penjelasan, di saat gw berjalan sendirian, di saat gw menunggu hujan sendirian, di saat gw hanya merenung sendiri. Biasanya secara otomatis otak gw memutar lagu-lagu yang biasa gw dengar. Dan setiap suasana tertentu lagu itu akan berbeda, biasanya di saat gw sedang jogging atau lari otak gw secara otomatis memutar koleksi lagu yang nge-beat, mulai dari Bon Jovi sampai Aquatimez. Tapi di saat gw hanya menunggu hujan, secara otomatis lagu yang soft atau mellow muncul.
Bicara tentang soundtrack dan hujan, lagu yang selalu muncul di otak gw sejak kelas 3 SMP sampai semester 4 kuliah adalah 'Its Gonna Rain' dari Bonnie Pink.
Lo pasti bertanya "Nggak ada lagu lain?"
Sayang saat itu nggak ada.
Bentar, gw coba hitung.
Nyaris tujuh tahun lagu "Its Gonna Rain" stag di otak gw tiap kali melihat hujan turun.
Itu terjadi karena gw belum punya mp3, flashdisk, ataupun notebook sehingga gw nggak punya tempat / digital untuk koleksi lagu anime gw. Tapi bisa dibilang bagus juga sih karena gw menggunakan ingatan gw untuk mendengarkan lagu.
Lalu syukur gw bisa move on dari "Its Gonna Rain".
Semua terjadi saat semestar 6, karena sahabat gw si Gozali memperkenalkan gw dengan "Life is like a boat" - Rie Fu dan "I can change my life" - YUI.
Terutama lagunya YUI itu, sampai sekarang justru YUI jauh lebih lama stag sama gw. Soundtrack Bleach itu jauh membuat gw lebih sulit move on daripada soundtrack-nya Rurouni Kenshin.
Di telinga gw suara YUI itu lebih soft, lebih merdu daripada Bonnie Pink. Mungkin juga karena video klip-nya yang mengambil setting di keramaian Shibuya Tokyo setelah hujan. Mungkin juga karena lagu ini sering di putar di acara wisata di Trans 7 tiap kali ada episode tentang Jepang. Mungkin juga karena banyak banget orang di sekeliling gw yang juga suka sama YUI.
Terlalu banyak alasan.
Hm, gw jadi ingat tadi siang, gw membaca blog sepenulis muda, dia membuat artikel berjudul 'melawan mental block'.
Jauh sebelum dia menjadi seorang penulis, sebelum novelnya di terbitkan, kehidupannya sangat susah. Lebih susah daripada gw.
Dahulu di tengah-tengah kesusahannya itu dia menulis sebuah catatan kecil tentang mimpi-mimpinya. Dia ingin mengobati penyakit katarak di mata ibunya, dia ingin punya laptop sendiri, hingga impiannya memiliki mobil dan jalan-jalan keluar negeri minimal Singapore.
Sekarang dia sudah menerbitkan novelnya, dan satu per satu mimpinya itupun sudah terwujud.
Sore ini melihat hujan dan membaca blog penulis itu, gw kembali teringat akan mimpi-mimpi gw.
Hal yang simple yang harus gw selesaikan tahun ini 2014, menerbitkan novel Triad of Death di penerbit major (meski saat ini gw masih stag di Bab 16), setelah itu baru dah gw bisa ngopi dengan santai sambil memandangi hujan gerimis di Starbuck Shibuya (Tokyo) sama seorang cewek cantik sambil dengar soundtrack "I can change my life" dari YUI.
. . .
By Ftrohx
Mungkin sudah hampir tiga tahun gw nggak mengupdate lagu Jepang, entah mungkin gw sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang lain.
Tapi gw pikir apa yang gw punya di koleksi mp3 gw sudah lebih dari cukup. Sebenarnya gw jarang juga sih dengar / memutar mp3 gw. Karena gw sudah menikmati apa yang ada di otak gw.
Agak sulit dimengerti ya?
Ok sedikit penjelasan, di saat gw berjalan sendirian, di saat gw menunggu hujan sendirian, di saat gw hanya merenung sendiri. Biasanya secara otomatis otak gw memutar lagu-lagu yang biasa gw dengar. Dan setiap suasana tertentu lagu itu akan berbeda, biasanya di saat gw sedang jogging atau lari otak gw secara otomatis memutar koleksi lagu yang nge-beat, mulai dari Bon Jovi sampai Aquatimez. Tapi di saat gw hanya menunggu hujan, secara otomatis lagu yang soft atau mellow muncul.
Bicara tentang soundtrack dan hujan, lagu yang selalu muncul di otak gw sejak kelas 3 SMP sampai semester 4 kuliah adalah 'Its Gonna Rain' dari Bonnie Pink.
Lo pasti bertanya "Nggak ada lagu lain?"
Sayang saat itu nggak ada.
Bentar, gw coba hitung.
Nyaris tujuh tahun lagu "Its Gonna Rain" stag di otak gw tiap kali melihat hujan turun.
Itu terjadi karena gw belum punya mp3, flashdisk, ataupun notebook sehingga gw nggak punya tempat / digital untuk koleksi lagu anime gw. Tapi bisa dibilang bagus juga sih karena gw menggunakan ingatan gw untuk mendengarkan lagu.
Lalu syukur gw bisa move on dari "Its Gonna Rain".
Semua terjadi saat semestar 6, karena sahabat gw si Gozali memperkenalkan gw dengan "Life is like a boat" - Rie Fu dan "I can change my life" - YUI.
Terutama lagunya YUI itu, sampai sekarang justru YUI jauh lebih lama stag sama gw. Soundtrack Bleach itu jauh membuat gw lebih sulit move on daripada soundtrack-nya Rurouni Kenshin.
Di telinga gw suara YUI itu lebih soft, lebih merdu daripada Bonnie Pink. Mungkin juga karena video klip-nya yang mengambil setting di keramaian Shibuya Tokyo setelah hujan. Mungkin juga karena lagu ini sering di putar di acara wisata di Trans 7 tiap kali ada episode tentang Jepang. Mungkin juga karena banyak banget orang di sekeliling gw yang juga suka sama YUI.
Terlalu banyak alasan.
Hm, gw jadi ingat tadi siang, gw membaca blog sepenulis muda, dia membuat artikel berjudul 'melawan mental block'.
Jauh sebelum dia menjadi seorang penulis, sebelum novelnya di terbitkan, kehidupannya sangat susah. Lebih susah daripada gw.
Dahulu di tengah-tengah kesusahannya itu dia menulis sebuah catatan kecil tentang mimpi-mimpinya. Dia ingin mengobati penyakit katarak di mata ibunya, dia ingin punya laptop sendiri, hingga impiannya memiliki mobil dan jalan-jalan keluar negeri minimal Singapore.
Sekarang dia sudah menerbitkan novelnya, dan satu per satu mimpinya itupun sudah terwujud.
Sore ini melihat hujan dan membaca blog penulis itu, gw kembali teringat akan mimpi-mimpi gw.
Hal yang simple yang harus gw selesaikan tahun ini 2014, menerbitkan novel Triad of Death di penerbit major (meski saat ini gw masih stag di Bab 16), setelah itu baru dah gw bisa ngopi dengan santai sambil memandangi hujan gerimis di Starbuck Shibuya (Tokyo) sama seorang cewek cantik sambil dengar soundtrack "I can change my life" dari YUI.
. . .
Subscribe to:
Comments (Atom)
