Tuesday, December 16, 2014

Butuh Mesin Waktu


Butuh Mesin Waktu
By Ftrohx


Kejadiannya benar-benar mendadak dan kali ini aku tidak mempersiapkan apa-apa.

Tidak seperti sebelumnya setiap kali nonton film, aku selalu baca sinopsisnya di wikipedia atau IMDB atau kadang aku nonton dulu trailernya di youtube.

Tapi tidak untuk yang kali ini.

Bisa dibilang ini adalah film paling menyesakkan yang pernah kutonton bareng kamu.

Dan kita berdua sama-sama tahu, mungkin kita memang butuh mesin waktu.

Kita butuh itu untuk memperbaiki banyak hal.

Terlalu banyak hal yang mesti kita perbaiki, terlalu banyak rasa sakit yang kita hadapi, terlalu banyak kekecewaan dan janji-janji yang selalu terlambat untuk dipenuhi.

Aku tahu kamupun tidak bisa banyak berkata.

Aku tahu kamu marah pada banyak hal, marah karena aku yang tidak bisa buat apa-apa, dan juga marah dengan kehidupan kamu yang tidak seindah apa yang kamu mimpikan.



Kamu bilang bahwa cerita Doraemon, Nobita, Shizuka, dan teman-temannya terlalu konyol.

Kamu bilang bahwa ceritanya terlalu melodrama dan bodoh.

Tapi lain dengan apa yang kamu ucapkan. Aku bisa melihatnya bekas airmata yang basah di pipi kamu.

Aku tahu apa yang ingin kamu ucapkan, bahwa kita berdua mengalami hal yang sama dengan yang ada di film itu.

Aku adalah cowok paling pecundang se-sekolahan dan kamu adalah cewek tercantik yang pernah ada dalam hidupku.

Aku selalu melakukan hal-hal bodoh seperti Nobita, lebih bodoh lagi karena terlalu banyak janji yang tidak bisa kutepati.

Dan kamu sendiri, kamu menangis karena orang yang begitu kamu sayangi telah tiada sebelum kamu sempat meminta restunya.

Aku tahu melihat layar itu, dada kamu terasa begitu sesak.

Akupun juga sama.

Rasanya kita berdua memang benar-benar butuh mesin waktu.

Kita harus kembali ke sana dan memperbaiki masa-masa itu.

.  .  .

Tuesday, November 18, 2014

Thanks to Kishimoto-Sensei ( II )


Thanks to Kishimoto-Sensei ( II )
by Ftrohx


Tujuh ratus chapter, begitu banyak hal yang gw lalui bersamaan dengan Uzumaki Naruto, Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Hatake Kakashi, dan lain sebagainya.

Begitu banyak kenangan, gw nggak tahu harus menulisnya darimana. Yang pasti diawal kemunculannya, Naruto langsung membuat gw RELA bolos sekolah tiap minggu untuk menonton-nya. Naruto itu unik, beda dari anime di zamannya. Kesan pertama gw nonton Naruto, gw langsung teringat pada 4 anime yang mendekatkinya. Pertama Ninku (12 Shio), Rurouni Kenshin, Yuyu Hakusho, dan Hunter X Hunter.

Jauh sebelum membahas filosofi, hal pertama kali menarik gw untuk nonton naruto adalah jurus kagebushin, terutama gara-gara opening pertama anime-nya itu.

Naruto bertarung dengan beberapa preman dan dia menggunakan jurus Kagebushin dia mengalahkan preman berbadan raksasa itu.

Ajaib itu bukan jurus bayangan biasa, bukan trik sulap menjadi banyak. Itu benar-benar jurus membelah diri menjadi banyak, tubuh yang benar-benar utuh bukan trik pembiasan cahaya atau visual. Aaaaaaaa... Selain Kamehameha - SonGoku, gw pengen banget jurus Kagebushin-nya Naruto. Dengan jurus itu gw bisa berada dibeberapa tempat berbeda dalam satu waktu. Keren banget.

Sebenarnya meski anime-nya sudah populer pas gw SMA, gw belum memulai mengikuti Naruto. Justru pas zaman kuliah dan mengenal internet, barulah gw belajar tentang Naruto. Hahaha... belajar.

Gara-gara Naruto gw menemukan banyak hal ajaib, gara-gara Naruto pula gw kenal dengan orang-orang hebat dalam hidup gw.

Naruto adalah sebuah ide, ide yang tertanam di otak gw, lebih kuat daripada Kenshin ataupun Death Note.

Sangat kuat, sampai-sampai gw menyamakan hidup gw dengan Naruto. Kesusahan-kesusahan hidupnya, perjuangannya, hingga kisah Cinta! Hahaha... ajaib sebuah komik bisa berpengaruh besar dalam hidup elo. 

Naruto bicara tentang keberanian untuk bertarung, tentang semangat pantang menyerah, dan pencarian akan jati diri dan harapan. Filosofi-filosofi itu, di saat orang-orang terinspirasi oleh Mario Teguh dan Andrea Hirata, justru gw terinspirasi oleh Uzumaki Naruto, bahkan di kampus beberapa teman menjuluki saya dengan nama Naruto.

Sebenarnya Naruto sangat berpengaruh dalam hidup gw, Bukan hanya menjadi alasan kenapa gw menjadi seorang penulis. Naruto juga yang mempertemukan gw sahabat baik gw sampai sekarang Gozali. Gara-gara ngomongin Naruto dan Final Fantasy gw jadi akrab dengan Gozali. Hahaha... ajaib.

.  .  .

Thanks to Kishimoto-sensei ( I )


Thanks to Kishimoto-sensei ( I )
By Ftrohx


Seandainya artikel ini gw tulisan 2007 atau seandainya gw bisa mengirim artikel ini ke diri gw sendiri di tahun 2007. Rasanya pasti sangat-sangat-sangat bahagia. Pasti gw sudah jadi seorang PEMENANG diatas para pemenang.

Tagline-nya simple. "Dalam dunia para Otaku, pemenang adalah yang tahu sebelum orang lain tahu dan bisa sebelum orang lain," itu kata Tora karakter fiksi gw yang terinspirasi dari teman gw yang meracuni gw menjadi Otaku (meski cuma ngikutin Naruto dan Bleach doank.)

Apa yang kalian lihat saat ini, apa yang terjadi dengan gw dan semua tulisan di blog ini, bisa dibilang semua gara-gara Naruto.

Jujur, dulu gw nggak pernah punya cita-cita menjadi seorang penulis. Kehidupan gw biasa-biasa aja jadi nggak ada apapun yang menarik yang bisa gw tulis.

Gw cuma ingin hidup sebagai karyawan biasa yang berangkat jam 9 pulang jam 5 dan ngampel tiap sabtu dan minggu di rumah seorang cewek cantik.

Sialnya, mimpi gw yang itu tidak terwujud karena berbagai masalah internal. Sehingga gw berakhir di sebuah warnet. Menjadi penjaga warnet yang hobi baca manga online karena males beli komik (atau lebih tepatnya gak punya duit buat beli komik.) Semua terjadi karena kebetulan, gw masuk di sebuah forum diskusi tentang Naruto.

Gw sering berdebat di sana, sering adu teori, adu deduksi, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Naruto. Kami mencoba meramal masa depan Naruto, kami menulis spoiler dengan imajinasi dan data-data sebelumnya. Sampai sekarang gw masih ingat apa yang dulu kami perdebatkan.

Tentang teori Klan Uchiha, darimana mereka bisa mendapatkan mata merah Sharingan itu. Gw ingat banget teori-teori kocak mereka, ada yang menulis teori panjang bahwa klan Uchiha adalah vampir, ada juga yang menghubungkan Klan Uchiha dengan Iblis Tengu. Mata Klan Uchiha itu dari Tengu! Hahaha...

Tapi yang paling sering gw perdebatkan adalah teori siapa karakter dibalik topeng TOBI. Topeng dengan simbol spiral itu. Tadinya gw pikir bahwa Tobi adalah android atau mungkin boneka.

Lalu keadaan menjadi lebih rumit, karena Pain Akatsuki berlutut di hadapan Tobi, semua menjadi absurd di situ.

Lah bukan ketuanya adalah Pain, dan bukannya Pain adalah murid dari Jiraya? Lalu siapa ini Tobi?

Kemudian flashback ke masa lalu dan ternyata Tobi adalah orang yang men-summon Rubah Ekor Sembilan menyerang Konoha saat kelahiran Naruto. Gara-gara itu banyak orang yang ngotot dan berspekulasi bahwa Obito adalah Madara Uchiha, karena hanya Madara yang punya kekuatan legendaris yang sanggup men-summon Rubah Ekor Sembilan. Sedangkan gw sebaliknya, gw tidak percaya itu.

Menurut gw Tobi adalah Obito. Tapi semua orang di forum tidak ada yang percaya dengan gw, mereka NGOTOT Tobi adalah Madara Uchiha, Sampai akhirnya topeng itu pecah dan ternyata Tobi adalah Obito Uchiha. Dan gw berteriak ke mereka. "Selamat makan sendal!"

Gara-gara Naruto gw mengenal diri gw sendiri. Gw bisa berdebat, gw bisa menulis banyak dengan sekali ketik, berparagraf-paragraf hingga berhalaman-halaman hanya membahas apa yang gw suka. Dari forum itu gw beranjak ke beberapa forum anime lain seperti forum Bleach dan Death Note. Gw sadar gw juga bisa melakukan hal yang sama di situ.

Gw bisa berdebat dan menulis banyak, lalu sampai pada suatu titik. Ada sesuatu yang menggerakan hati gw. Daripada hanya memperdebatkan karya orang lain, bagaimana jika gw menulis karya gw sendiri.

Dan perjalanan panjang itu membawa gw sampai ke sini, menulis banyak hal, bertemu dengan orang-orang baru.

Berduet dengan Ariza, hingga akhirnya gw membuat projek bareng Jeni Suhadi dan Putra Perdana. Semoga akhir tahun ini projek terbaru gw terbit. Hahaha... semoga semua lancar.

.  .  .

Wednesday, November 5, 2014

Hal-hal Konyol


Hal-hal Konyol
By Ftrohx


Dulu waktu SD gw punya teman namanya Hendra Putra alias bodak.

Hahaha... Dia nge-fans berat sama Leonardo DiCaprio. Gara-gara ngelihat DiCaprio di film Titanic

Hampir tiap hari, tiap berangkat ke sekolah rambutnya dikasih Bliz atau Gatsby yang tebal

Kayak DiCaprio pas acara pesta di Kapal itu.

Rambutnya jadi basah tebal kaku dengan sisir ke belakang.

Hahahaha... #Gila padahal dia anak SD boi, tapi gaya-nya sok TUA kayak gitu.

Selain itu Hendra juga nge-fans berat sama lagu-nya Potret Melly Goeslaw.

Ajaib benar dia.

Padahal itu SD tapi kita sudah kenal dengan cinta, kita kenal dengan tuntutan hidup, kita dituntut untuk mengikuti apa yang keren dan menghindari apa yang tidak keren.

Lalu SMP gw bertema dengan Agus Setiawan.

Dia nggak jauh beda dengan Hendra, dia sering banget menceramahi gw apa yang keren dan yang tidak keren menurutnya.

Agus sangat nge-fans sama Ariel Peterpan, saat itu si Ariel lagi booming dengan lagu Sahabat, dengan pakaian tampil ala Hyuga temannya Tsubasa.

Iya si Agus sangat suka itu, ke sekolah dengan lengan di gulung untuk memamerkan otot bisep-nya. "Cewek suka dengan cowok yang berotot," itu yang selalu dia ceramahi ke gw.

Dan si Agus juga maksa gw untuk jadi berotot seperti dia ! Hahaha...

Beda lagi dengan Achzan.

Dia punya gaya-nya sendiri, dia punya prinsip dan nggak ngikutin orang lain.

Bisa dibilang Zan adalah panutan gw, yang paling gw kagumi diantara teman-teman gw.

"Cowok keren itu harus pintar, harus tahu sebelum orang lain tahu, dan bisa sebelum orang lain bisa!" Itu yang di doktrinkan Zan ke gw. 

Gara-gara Zan gw jadi haus akan ilmu, gara-gara Zan gw jadi banyak baca buku, banyak nonton film, gw harus punya pengetahuan baru setiap hari.

Itu semua bisa dibilang karena tuntutan bergaul dengan Zan.

Mungkin juga karena obsesi gw ingin setara dengan dia.

.  .  .

Masa-masa SMA


Masa-masa SMA
By Ftrohx


Jam sembilan malam, menyalakan TV, di Trans tiba-tiba muncul film berjudul The Kick.

Film yang bercerita tentang keluarga atlet Taekwondo, beda dengan film action lain yang menggunakan mixed martial art.

Ini film koreografi-nya Taekwondo banget; tendangannya, cara berdirinya, cara menghindar, pukulannya, kuda-kuda, semuanya benar-benar disiplin Taekwondo. 

Yang mengejutkan justru ini bukan film Korea, melainkan Thailand.

Ah, beladiri ini begitu memorable untuk gw.

Meski gw nggak pernah ikut ekskul Taekwondo, tapi para sahabat gw di SMA, kebanyakan adalah anak Taekwon. Rahmat Hidayat, Achzan Farid, dan Putri Yuli mereka adalah anak Taekwon yang hebat.

Tadinya gw ingin masuk ekskul itu, tapi entah kenapa gw justru memilih pencak silat! Hahahaha... Bukan hanya di SMA, dua nama penting lain dalam hidup gw (saat ini) juga adalah anak Taekwon yaitu Jeni Suhadi dan Putra Perdana.

Kembali ke judul di atas.

Melihat koreografi dari film ini, gw jadi ingat dengan koreografi anak-anak Taekwon setiap ada promosi ekskul di sekolah dulu.

Rasanya gw begitu KANGEN dengan masa-masa SMA. Terlalu banyak yang belum terselesaikan, terlalu banyak.

Gw ingin kembali ke sana, menjadi karakter yang lebih baik lagi, lebih baik daripada gw yang dulu.

Mungkin seandainya gw bisa kembali ke masa itu, mungkin gw ingin mengambil banyak ekskul.

Mulai dari Pencak Silat, Taekwondo, Basket, juga KIR dan klub penulis manding.

Sayang banget, masa-masa SMA gw terpuruk dalam kemiskinan, hingga gw nggak bisa berbuat banyak.

Gw ingin berbuat LEBIH di masa itu, seandainya bisa gw ingin berlatih lebih keras.

Pertanyaannya apa masa lalu bisa diubah? Kebanyakan orang bilang masa lalu tidak bisa diubah? Tapi bagaimana jika bisa diubah?

Entah sampai saat ini gw masih belum yakin akan hal itu, tapi Eka Kurniawan bilang bahwa "Kita bisa memilih masa lalu? Kita bisa menentukan sejarah kita sendiri?"

Sayangnya sampai saat ini gw belum punya kekuatan seperti Eka Kurniawan. Gw hanya penulis blog biasa yang hidup masih dalam keterbatasan ! Aaaaaaaaa...

Kembali, rasanya gw hanya ingin balik ke masa-masa SMA dan memperbaiki semuanya.

.  .  .

Tuesday, October 21, 2014

Pertemuan


Pertemuan
By Ftrohx


Beberapa tempat begitu mistik untuk ku, begitu memorable hingga tiap kali melalui, aku langsung teringat akan sebuah kisah, entah itu nyata atau fksi yang kukhayalkan. 

Kadang hal ini menjadi masalah, dimana memori nyata dan artificial saling bercampur hingga tak kentara.

Seperti yang kamu tahu, dengan segala keterbatasanku, waktu di sekolah dan kuliah.

Karena kemiskinan dan hal-hal yang tak dapat kumiliki, aku sering  bermimpi menjadi orang lain dan memiliki kehidupan lain. (sayangnya mimpi-mimpi itu tak pernah kutuliskan waktu SMA.)

Untuk beberapa kasus, kadang memori fiktif itu begitu kuat, sampai-sampai mengubur memori asliku.

Sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lalu, namun terus kukhayalkan sehingga seolah-olah terjadi. Seandainya aku begini, seandainya aku bisa begitu. Semua hal-hal bullshit itu.  Daya kreasi positif bercampur-aduk dengan rasa sesal akan sesuatu yang telah terjadi (ataupun yang tidak terjadi.) Sesuatu yang kulakukan dan yang tidak pernah aku lakukan.
.  .  .

Sore ini, mencoba menghilangkan migran, aku berlari kecil dari Tanah Kursi ke Bintaro Rel Kereta. Tempat yang sudah, entah berapa ribu kali kulewati. Selama bertahun-tahun tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Jajaran ruko yang sama, yang hanya sudah berganti pemilik atau penyewanya saja.

Waktu aku masih kuliah, aku suka mampir ke sini, entah pagi ataupun sorenya.

Dulu di jajaran Ruko ini adalah dua warnet, bahkan pernah sampai tiga warnet saling berjajar. Dulu semua orang rasanya ingin membuka usaha warnet karena begitu menguntungkan. Aku suka berada di warnet ruko bagian yang pojok, berseberangan dengan konter Handphone milik sahabatku Romadhon.

Jika diingat kembali pertama kali ku membuka youtube adalah di warnet itu, dan terakhir kali aku main di sini, aku kehilangan flashdisk yang berisi bahan skripsi. Luar biasa sial.

Pernah juga aku hampir menginap di warnet itu. Mereka buka 24 jam dan zaman itu begitu banyak anak muda yang hobi begadang sampai pagi cuma untuk meningkat level games DOTA ataupun Counter Strike (karena belum ada point blank.) Di warnet itu juga aku pertama kali kenal dengan manga Bleach dari weekly shounen jump. Sial, begitu banyak hal bersejarah di sana.

Dan diantara semua memori nyata ku di sana, ada juga memori fiktif yang hanya aku khayalkan.

Sebuah pertemuan antara AZRA dengan VIRLI.

Sebuah cerita yang jauh terpendam, sebelum aku membuat cerita yang lain.

Ceritanya simple, Azra bermain counter strike semalam di sana. Lalu, secara ajaib muncul seorang wanita cantik yang mengambil PC kosong di sebelahnya.

Azra tidak tahan untuk menyapa gadis cantik itu, kemudian mereka berkenalan. Hanya sesederhana itu, namun selanjutnya semua tidak sederhana.

Ada hal-hal lain, ada petualangan setelahnya.

Kami melalui banyak hal, kami pergi berpetualang ke banyak tempat, aku menemukan hal-hal baru yang tidak pernah kutemui dalam kehidupan nyataku yang membosankan.

Kembali melihat Ruko itu, di terasnya terdapat spanduk 'DISEWAKAN' terakhir aku melewati tempat ini. Ruko tersebut dipakai untuk warung bakso yang tidak sukses. Mereka menghilang, sekarang dijajaran ruko sudah tidak warnet lagi.

Mungkin karena sekarang tiap orang sudah punya warnet sendiri di rumahnya; smartphone, PC ataupun laptop itu semua sudah jauh lebih canggih daripada warnet. Sama seperti sepeda motor hampir ada dua buah di setiap rumah yang ada di Jakarta.

Entah kenapa saat ini aku merindukan masa-masa, seandainya aku bisa kembali ke zaman itu dengan apa yang kupunya sekarang.

.  .  .

Thursday, October 9, 2014

Menghilang


Menghilang
By Ftrohx


Entah kenapa, saya kangen dengan seorang teman lama. Seorang sahabat, namanya Heri.

Dia sahabat baik saya dari SD sampai SMP. Bahkan setelah lulus SMA pun saya sering mengunjungi rumahnya. Sampai berbagai kesibukan dan permasalahan membuat saya tidak datang ke rumahnya lagi saat lebaran.

Lalu setahun yang lalu dia datang ke rumah saya untuk bersilaturahmi. Dia mengira saya sudah berkeluarga, dan saya pikir juga sebaliknya dia pasti telah sukses dengan pekerjaannya. Ternyata tidak, dia telah keluar dari pekerjaan terakhir di Ford. Sekarang dia bekerja di bengkel biasa.

Lalu waktu berlalu setahun lebih saya tidak bertemu dengannya dan ada sesuatu yang malam ini menggerakkan kaki saya untuk berkunjung ke tempatnya, di Petukangan Selatan. Seperti biasa, saya melewati jalan yang sama, gang kecil di dekat empang Bang Ridun. Menelusuri jalan menanjak melewati bekas rumah Herman. Namun begitu sampai di atas, gang itu sudah terputus oleh jalan Tol Bintaro - Tanah Abang.

Saya tahu ujung jalan ini, tapi saya tidak tahu kalau jalan ini telah menggusur rumah teman saya. Saya pun menelusurinya hingga lampu merah petukangan. Banyak rumah yang hilang dan banyak kenangan yang hilang seolah tidak pernah ada. Menelusurinya, saya merenungkan tentang teman saya, sahabat saya, ke mana dia pergi sekarang, pindah ke mana dia.

Berbeda dengan teman-teman saya yang lain.

Heri ini tidak bisa menggunakan komputer, dia tidak kenal dengan internet, dan tidak punya akun social media apapun. Mungkin dia punya Pin BB tapi saya tidak pernah menemukannya. Mengingat ke masa lalu, ada rasa sesal tersendiri, seandainya waktu saya mengunjungi rumahnya sebelum digusur, seandainya saya menemukan alamat pindahnya. Melihat ke samping jalan, tidak ada rumah lagi. Bahkan rumah teman saya yang lain Terry, dia juga kena gusur, yang tersisa hanya separuh dari halamannya dan rumah-rumah lain pun juga ikut rata. Sekarang menjadi taman pinggir tol yang tidak terawat, atau lebih tepatnya mungkin seperti tempat pemakaman yang sepi. Penggusuran bukan hanya menghilangkan rumah yang berada di jalur tol tapi juga  enam sampai tujuh rumah yang ada di pinggirannya pun ikut ditinggalkan.

Tapi ini bukan hanya masalah rumah yang digusur, tapi mengenai teman yang menghilang tanpa jejak. Kadang rasanya seperti kerinduan bercampur sesal.

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya-tanya sendiri. "Apa itu ikatan?"

Saya memiliki sahabat yang lain, bahkan sampai sekarang kami terus terhubung yaitu Mujib dan Gozali. Rasanya benar-benar ajaib, kami melalui banyak hal namun kami masih bisa bersama. Mereka memang telah berubah, mereka jauh lebih mapan, namun mereka masih hadir dalam hidup saya.

Namun, kembali lagi ke Heri dan yang lain, mungkin bukan merekalah yang menghilang, tapi sayalah yang menghilang dari mereka. Sayalah yang egois dan menjadi pudar di antara debu jalanan.

.  .  .