Sunday, April 20, 2014

Hujan di bawah anak tangga



Hujan di bawah anak tangga
By Ftrohx


Setelah melewati jalan yang berliku akhirnya aku sampai di tempat ini, rumah kakaknya Gozali.

Rumah ini berlantai 2 dengan view  tanah lapang di depannya.





Menaiki 5 anak tangga menuju teras depan, aku menemukan Gozali di sana, dia langsung menyambutku. Sahabat ku ini benar-benar cerah dan bahagia.

Kami berbasa-basi singkat sambil mataku sesekali terarah pada panggung di depan lapangan sana.

Di rumah kakaknya ini Gozali mengadakan syukuran karena 5 hari lagi dia akan melangsungkan ijab-kabul dengan Tika.

Acara ini tidak sepenuhnya terlihat seperti acara 'syukuran' formal, justru lebih mirip bachelor party menurutku. Tapi di situlah asiknya. 

Begitu banyak orang di sini, aku tidak bisa mengenali semuanya. Gozali bilang ada teman-temannya dari SD, SMP, SMA, kuliah, teman kerja, teman band hingga anak-anak komunitas Jejepangan.

Dari kelompok yang terakhir itu tentu saja, si cewek berjilbab-kacamata itu datang ke sini.

Dia datang dengan seorang teman ku juga dari komunitas Jejepangan. Dia mengenakan jilbab putih, celana jeans biru, sweater, serta kacamata seperti biasa.

Dia menyapaku lebih "Hei..." menyebut namaku, aku juga menyapa-nya dan teman di sebelah. Setelah itu justru aku berbincang dengan teman di sebelahnya.

Sepertinya dia masih tidak ingin bicara denganku, matanya terarah pada panggung di lapangan dan band yang sedang membawakan lagu Rock.

Setelah kejadian-kejadian yang kemarin mungkin dia masih marah padaku. Iya, kemarin aku terlalu emosional, mungkin aku juga terlalu putus asa. Aku tahu kita berdua sama-sama memiliki ego yang tinggi, sama-sama benci dengan kekalahan dan sama-sama ingin menang sendiri. Kita berdua saling bentrok dan selalu... Ah aku tidak bisa menuliskannya.

Harusnya aku minta maaf, tapi berapa kali kita selalu mengulang hal ini.

Dia tersenyum lagi, tapi bukan padaku melainkan pada Ridwan teman ku anak komunitas Jejepangan yang akan naik ke panggung.

Si Jilbab-kacamata menarik tangan teman (yang sedang berbincang) di sebelah ku dan mengajaknya turun ke lapangan.

Atas permintaan Gozali, Ridwan dan bandnya membawakan lagu 'Ready Steady Go' dari L'arc en Ciel. Lagu yang nge-beat dan membuat penonton berjingkrakan.

Iya, aku hanya bisa melihatnya dari belakang, di antara kerumunan orang dia menari dan melompat. Ah dia terlihat bahagia... mungkin itu yang terbaik untuknya juga untukku aku juga ikut merasa bahagia.

Kerumunan penonton itu dipenuhi oleh cowok dan dia satu-satunya cewek di sana. Aku juga nggak ngerti kenapa dia punya keberanian seperti itu menghadapi laki-laki dan berdiri di dunia laki-laki. Terlihat ajaib juga karena dia satu-satunya yang berdiri mengenakan jilbab putih di tengah sana.

Gozali menghampiriku dan kami kembali bicara tentang konsep pernikahannya nanti. Dia bilang dia telah menyewa gedung dan menyiapkan katering. Dia bilang nanti akan ada band juga yang akan mengisi acara resepsinya dan dia telah menyiapkan daftar lagu.

Aku melihat daftar itu, dari beberapa lagu, ada lagu yang juga suka didengarkan oleh si Jilbab-kacamata. Mungkin ini bisa jadi bahan perbincangan ku dengannya.

Lagu Larc en Ciel itu selesai dan penonton kembali agak tenang. Si Jilbab-kacamata berjalan ke arah meja prasmanan dan mengambil aqua gelas, dia lalu duduk di anak tangga dan aku duduk di sampingnya.

"Hei, lihat ini dah..." aku memberinya daftar lagu tersebut. "Ini akan dibawakan di acara resepsi-nya Gozali."

"Hmm," dia hanya melihat sekilas dengan wajah tidak peduli, sambil mulutnya meneguk air minum itu.

Tak lama dia tersenyum, tapi kusadari itu bukan untuk ku. Dia berdiri dari posisi sambil tangannya melambaikan tangan ke seseorang.

Aku juga berdiri dan menengok ke arah itu. Seorang pria berbadan tegap berjalan ke arah kami. Melihat dia berjalan ke sini membuatku sangat malu, aku sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku tidak mengenalinya dan aku juga tidak melihat seluruh wajahnya, yang pasti dia memiliki hidung mancung, kulit putih, dan badan yang tinggi.

Dia mengenakan kemeja putih dibalut setelan jas yang terlihat mahal, layaknya seorang ekskutif muda. Aku melihat sepatu pantofel hitamnya yang mengkilat tanpa debu, kurasa dia pasti membawa sebuah sedan dan memarkirkannya di samping jalan.

Si Pria metrosexual ini langsung menyapa Jilbab-kacamata,

"Hei acara masih lama?"

"Nggak kok, emang kita mau langsung jalan?"

"Iya, takutnya ke sorean."

"Aku pamit sama temanku dulu ya."

Si Jilbab-kacamata berjalan ke ruang depan, dia menyalami Gozali dan berpamitan.

Mataku tetap terarah pada panggung, dan kamu tahu dia bahkan tidak mengenalkan ku siapa pria itu.

Dua sejoli ini langsung berjalan begitu saja melewatiku yang berada di anak tangga. Mataku masih memandang lurus ke depan berusaha untuk tidak meliriknya, berusaha untuk tidak melihatnya, tapi aku tidak bisa mengendalikan inderaku. Bola mata ini melihat dua tangan yang saling bergandengan, dia tersenyum begitu ceria pada pria berjas mahal itu. Lalu berjalan ke samping dan tak terlihat lagi.

Mungkin jika kamu bisa melihat wajahku semua terlihat amburadul, kamu bisa melihat muka ku yang shock, mimik yang sangat terkejut dan emosional. Atau mungkin pria itu juga melihat betapa anehnya aku.

Kamu tahu rasa yang kualami, ini seperti ulu hatiku di tendang oleh atlet Taekwondo,  bukan-bukan, bahkan lebih dari itu seperti dadaku dihantam oleh palu godam hingga tulang dadaku patah dan patahannya merobek jantungku. Rasanya bukan hanya sakit yang sangat kuat tapi juga perih yang menyayat.

Aku rasa, aku ingin berhenti saja.

Aku rasa aku ingin pulang atau pergi jauh dari kota ini.

Aku sempat juga berpikir seandainya saja aku tidak datang ke tempat ini.

Mungkin rasa sakit ini tidak pernah ada.

PUKK!!

Sebuah tangan menepuk bahu ku "Oiy bengong aja," aku melirik ke samping dia adalah Gozali.

Dia tersenyum, dia tahu apa yang baru saja kuhadapi. "Sudah lah masih ada yang lain kok, sudah sabar aja."

Gozali tahu banyak hal tentang ku, tentang jatuh bangun hidupku, tentang cita-citaku, tentang kehidupan rumahku hingga tentang orang yang kucintai. Aku bersyukur memiliki sahabat sebaik dan sehebat dia.

Lalu sebuah suara menyusul dari belakang ku "Kakak..."

Aku menoleh, wanita yang memanggilku adalah Tika yang wajah yang sangat cerah, dia tersenyum padaku dan di sampingnya berdiri seorang Putri.

Hujan pun perlahan turun di teras ini membasahi anak tangga.

.  .  .


Tuesday, April 1, 2014

Hujan dan kata yang tak terucap

Hujan dan kata yang tak terucap
By Ftrohx


Kata seorang penulis di wall sebelah "Hujan itu berengsek. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tapi juga bisa membuatmu galau setengah mampus."

Hujan itu punya tombol untuk pergi ke masa lalu, atau jika kita tidak dapat pergi ke masa lalu, maka masa lalu yang mendatangi kita.

Ini fakta yang ku alami semalam.

Seperti yang kamu tahu minggu-minggu belakangan ini, Jakarta terus di guyur oleh hujan baik itu sedang ataupun berat, dari pagi sampai dengan malam.

Mungkin karena hujan pula lah aku belakangan ini lebih banyak menulis daripada membaca.

Iya, kamu tahu sudah berapa ratus ribu penulis yang terinspirasi bahkan kesurupan karena hujan. Bahkan yang lebih dari itu, ketika kamu bertemu dengan seseorang dari masa lalu kamu.

Semalam aku sedang menunggu nasi goreng favorit ku, tempatnya memang agak jauh dari rumah. Aku mesti pergi ke gang sebelah lalu melewati jalan menurun 50 meter dan belok ke kanan tepat di lapangan di depan TK Ananda.

Udara lumayan sejuk, jalanan becek, dan gerimis masih menerpa wajah ku.

Seperti biasa para pelanggan nasi goreng selalu mengantri, mungkin butuh waktu setengah jam terkadang bisa sampai satu jam baru nasi goreng pesananku disajikan.

Saat menunggu itu, pandangan ku melihat seorang cewek dengan kerudung warna broken white dengan tepian warna kuning. Berjalan berlawanan arah dengan ku.

Aku langsung mengenalinya, cewek cantik itu adalah teman Sekolah ku.

Dan dia sudah menikah tentunya.

"Hei, . . . . " maaf aku tidak menyebut namanya di sini. "Apa kabar," sapa ku basa-basi.

Mukanya terlihat terkejut, lalu senyum merekah terukir dibibirnya, wajahnya indah sekali cantik, lebih cantik daripada terakhir kali ku bertemu. "Alhamdulillah, baik."

"Darimana?" tanyaku

"Ini dari sini," dia menunjuk gang di belakang. Mungkin dari rumah temannya pikir ku.

"Sudah lama banget ya kita nggak ketemu."

"Iya, sudah berapa tahun."

"Hahahaha..." kami tertawa.

"Terakhir pas kamu married,"

"Iya, lagian kamu nggak pernah main ke rumah ku sih."

"Oiya, .  .  .  . (aku menyebut namanya) masih di .  .  . . (aku menyebut nama tempat di pinggiran wilayah Jakarta Selatan)"

"Nggak sekarang aku tinggal di jalan .  .  .  ." DIa menyebut nama sebuah jalan di daerah Tangerang dekat Ciledug.

Aku agak terkejut, "Kamu pindah? Kenapa?"

Dia tidak menjawab

"Terus suami kamu?" tanyaku ngasal.

"Aku sudah putus." ucapnya dengan ringan sambil tersenyum.

Kamu pasti bisa membayangkan reaksi di wajah ku, sangat terkejut. Padahal si cewek cantik ini sudah punya anak dua, anak pertamanya sudah menginjak usia lima tahun, kamu bisa membayangkan bebannya, dengan bekerja sendiri untuk menghidupi kedua anaknya yang mulai akan masuk sekolah.

Sejak lama aku memahami logika ini, pacaran dan putus di tengah jalan tidak sesakit menikah dan putus di tengah jalan. Pernikahan memang awal dari kebahagian yang besar tapi seperti juga hukum equlibrium ada resiko yang lebih besar lagi untuk penderitaan.

Sebenarnya diam-diam aku tahu permasalahannya.

Aku juga menyadari, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa wajahnya terlihat lebih cantik daripada terakhir kali kami bertemu. Sebenarnya aku masih mengawasi dia lewat facebook, aku masih suka stalking photo-photo yang dia upload, beberapa photo terlihat saat dia bersama suaminya (atau lebih tepatnya mantan). Aku melihat ada rasa tidak enak yang dia simpan di wajah itu, aku melihat ada beban atau sakit yang dia pendam di balik photo-photo itu. Namun sekarang di hadapan ku ini dia lebih cantik, lebih segar daripada yang kulihat di photo-photo itu. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus, tapi dia terlihat bahagia, dia bisa tersenyum lepas.

Aku teringat dengan tulisan di blog-nya Eka Kurniawan "Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia." yang dia maksud adalah pernikahan merupakan ujian manusia yang sebenarnya. Bukan cuma tentang bahagia tapi juga tentang rasa sedihnya.

Satu hal yang kusesali sampai sekarang, satu hal yang kupendam sendiri. Sejak masih sekolah, sejak dia masih perawan, sampai dia menikah, sampai dia telah bercerai sekarang. Aku belum pernah sekalipun berani untuk mengungkapkan kata suka sama dia. Belum pernah, berbeda dengan cewek-cewek lain yang kutemui yang dengan mudah aku bisa mengucapkan kata cinta. Entah untuk dia adalah semacam dinding penghalang bukan pada dirinya tapi pada hatiku sendiri. Aku tidak berani, aku tahu resikonya aku takut jika aku mengucapkan kata itu dia akan pergi menjauh dari ku, dia tidak akan jadi teman ku lagi.

Mungkin kamu berargumen bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri, terlalu nyaman dengan keadaan. Seperti kata penulis novel 5 cm. "Hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tidak berani mengatakan cinta," tapi bukan itu sebaliknya mungkin aku terlalu suka dengan dia sampai-sampai aku takut kehilangan senyum-nya. Mungkin rasa ku kepadanya memang lebih besar daripada rasaku kepada wanita lain. Entahlah, mungkin karena hujan, mungkin karena aroma petrichor dari tanah basah yang membuatku jadi mengetik cerita seperti ini.

Satu lagi, setelah pertemuan itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku memimpikan dia semalaman bahkan sampai pagi ini. Melihat wajahku di cermin aku jadi seperti Zabir yang diperankan Junot di film TKVDW, betapa gobloknya padahal masih banyak gadis perawan cantik di luar sana.

.  .  .

nb: Ini hanyalah cerita fiksi,

Gw, Hujan, Soundtrack, dan YUI

Gw, Hujan, Soundtrack, dan YUI
By Ftrohx


Mungkin sudah hampir tiga tahun gw nggak mengupdate lagu Jepang, entah mungkin gw sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang lain.

Tapi gw pikir apa yang gw punya di koleksi mp3 gw sudah lebih dari cukup. Sebenarnya gw jarang juga sih dengar / memutar mp3 gw. Karena gw sudah menikmati apa yang ada di otak gw.

Agak sulit dimengerti ya?

Ok sedikit penjelasan, di saat gw berjalan sendirian, di saat gw menunggu hujan sendirian, di saat gw hanya merenung sendiri. Biasanya secara otomatis otak gw memutar lagu-lagu yang biasa gw dengar. Dan setiap suasana tertentu lagu itu akan berbeda, biasanya di saat gw sedang jogging atau lari otak gw secara otomatis memutar koleksi lagu yang nge-beat, mulai dari Bon Jovi sampai Aquatimez. Tapi di saat gw hanya menunggu hujan, secara otomatis lagu yang soft atau mellow muncul.

Bicara tentang soundtrack dan hujan, lagu yang selalu muncul di otak gw sejak kelas 3 SMP sampai semester 4 kuliah adalah 'Its Gonna Rain' dari Bonnie Pink.

Lo pasti bertanya "Nggak ada lagu lain?"

Sayang saat itu nggak ada.

Bentar, gw coba hitung.

Nyaris tujuh tahun lagu "Its Gonna Rain" stag di otak gw tiap kali melihat hujan turun.

Itu terjadi karena gw belum punya mp3, flashdisk, ataupun notebook sehingga gw nggak punya tempat / digital untuk koleksi lagu anime gw. Tapi bisa dibilang bagus juga sih karena gw menggunakan ingatan gw untuk mendengarkan lagu.

Lalu syukur gw bisa move on dari "Its Gonna Rain".

Semua terjadi saat semestar 6, karena sahabat gw si Gozali memperkenalkan gw dengan "Life is like a boat" - Rie Fu dan "I can change my life" - YUI.

Terutama lagunya YUI itu, sampai sekarang justru YUI jauh lebih lama stag sama gw. Soundtrack Bleach itu jauh membuat gw lebih sulit move on daripada soundtrack-nya Rurouni Kenshin.

Di telinga gw suara YUI itu lebih soft, lebih merdu daripada Bonnie Pink. Mungkin juga karena video klip-nya yang mengambil setting di keramaian Shibuya Tokyo setelah hujan. Mungkin juga karena lagu ini sering di putar di acara wisata di Trans 7 tiap kali ada episode tentang Jepang. Mungkin juga karena banyak banget orang di sekeliling gw yang juga suka sama YUI.

Terlalu banyak alasan.

Hm, gw jadi ingat tadi siang, gw membaca blog sepenulis muda, dia membuat artikel berjudul 'melawan mental block'.

Jauh sebelum dia menjadi seorang penulis, sebelum novelnya di terbitkan, kehidupannya sangat susah. Lebih susah daripada gw.

Dahulu di tengah-tengah kesusahannya itu dia menulis sebuah catatan kecil tentang mimpi-mimpinya. Dia ingin mengobati penyakit katarak di mata ibunya, dia ingin punya laptop sendiri, hingga impiannya memiliki mobil dan jalan-jalan keluar negeri minimal Singapore.

Sekarang dia sudah menerbitkan novelnya, dan satu per satu mimpinya itupun sudah terwujud. 

Sore ini melihat hujan dan membaca blog penulis itu, gw kembali teringat akan mimpi-mimpi gw.

Hal yang simple yang harus gw selesaikan tahun ini 2014, menerbitkan novel Triad of Death di penerbit major (meski saat ini gw masih stag di Bab 16), setelah itu baru dah gw bisa ngopi dengan santai sambil memandangi hujan gerimis di Starbuck Shibuya (Tokyo) sama seorang cewek cantik sambil dengar soundtrack "I can change my life" dari YUI.

.  .  .

Hujan dan Mimpi-mimpi

Hujan dan Mimpi-mimpi
By Ftrohx


Di handphone nya dia memutar mp3 'Re-Pray' dari Aimer yang merupakan ost. Ending Bleach season terakhir.

Mata ku terarah pada tetesan hujan di parkiran motor, Ckkk... berengsek soundtrack nya pas banget dengan suasana ini.

"Kamu tahu selain Jakarta, ada dua kota lagi di dunia ini yang indah dengan hujan?"

"Iya, tahu kamu sudah pernah cerita di blog, London dan Tokyo kan."

"Hahaha..." Aku menatap senyum nya, lalu jatuh ke kopi susu, dia tidak terlalu suka latte. Sementara gelas plastik di hadapanku di isi cappucino dengan coklat yang terlalu banyak, teman-teman ku sering komplain masalah itu. Hahaha... Tapi ku bilang mumpung coklatnya gratis nggak papakan banyak-banyak.

Jarang ada teman cewek ku yang suka kopi, mungkin hanya dia satu-satunya. Alasannya minum kopi karena semalaman dia tidur mengerjakan tugas.

Iya begitulah.

Kembali lagi ke hujan dan London, aku jadi ingat satu hal.

"Kamu sudah baca novel terbarunya J K Rowling?"

"Hm, yang detektif itu ya?"

"Iya,, Cuckoo's Calling."

"Aku agak sulit merapal judulnya,"

"Hahaha... kamu nggak tahu berapa kali aku salah mengetiknya menjadi Cucok Calling."

"Baka," dia tertawa. "Jadi ceritanya gimana? bagus?"

"Pas-pasan sih cerita detektifnya, kamu tahukan aku suka yang rumit dan banyak analisisnya, tapi novel ini biasa. Dari sisi plotting nggak spektakuler, cerita tentang petualangan detektif swasta di London bernama Strike bersama dengan asistennya cewek muda bernama Robin. Mereka mendapat Job dari seorang pengacara bernama John, untuk memecahkan kasus pembunuhan adik trinya yaitu super-model ternama Lula Landry. Iya gituhlah skenarionya terlalu klasik seperti Phillip Marlow jamannya Raymond Chadler, seorang detektif mendapatkan sebuah pekerjaan penyelidikan dari seseorang yang misterius dan ternyata orang misterius itu memiliki skandal yang coba dia tutupi." 

"Tapi kulihat di Goodreads, review sudah puluhan ribu orang."

"Iya, karena penulis adalah J K Rowling. Tapi ya disitu ada khasnya Rowling, sama seperti Harry Potter, novel ini pakai POV 3."

"Sama kayak kamu,"

"Neng, di mana-mana novel detektif susah kalau pakai POV 1."

"Sherlock Holmes pakai POV 1, suaranya Watson kan."

Haduh bisa lama dah kalau berdebat masalah ini. Tapi gara-gara novel detektif lah kami jadi saling kenal dan cepat akrab. "Sebenarnya aku sudah duga dari dulu kalau Rowling adalah penulis novel detektif. Khas misterinya sudah ada sejak di Harry Potter - Chamber of Secret."

"Film keduanya Harry itu ya? Yang satu per satu siswa Hogwart menjadi pingsan kaku secara misterius."

"Iya, cerita yang itu kan detektif banget."

Perbincangan-perbincangan hangat seperti ini nih, selalu membuatku terbang.

Dia kembali meneguk lembut kopi-nya. "Eh, lanjutin lagi donk tentang Cuckoo's Calling?"

"Hm, kalau dari segi plotting Cuckoo's ntuh mirip 'Peril at End House'-nya Agatha Christie. Aku pernah cerita kan tentang novel itu, kalau ku jelaskan secara detail lagi nanti malah spoiler." Aku tahu dari kemarin dia pengen beli buku itu, jadi nggak perlu ku terangkan detail isi-nya.

"Lah itu kamu spoiler kan?"

"iya, iya ini memang spoiler." ujar ku agak kesal.

Aku melihat jam, sebentar lagi mereka datang. Baiknya ku selesaikan review novel ku. "Ok, menurut ku novel ini lebih banyak drama romance nya, cinta segitiga, cinta yang terpendam, iya semacam itu. Antara tiga karakter, Strike si detektif partikelir yang bokek tapi genius, versus Matthew si Akuntan yang punya gaji 5 kali lipat upah minimun regional London, untuk menarik hati si Robin cewek cantik yang punya impian menjadi detektif sungguhan. Pada bagian-bagian awal sampai tengah novel ini menyajikan kehidupan detektif Strike yang menyesakkan, mantan tentara yang mengalami insiden hingga kakinya terpaksa di amputasi dan keluar dari dinas ketentaraan. Strike nggak punya pekerjaan dan nggak ada perusahaan yang mau mempekerjakan dia karena cacat, jadi Strike membuat pekerjaan untuk dirinya sendiri, pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dia dan sangat dia minati yaitu menjadi detektif. Tapi dalam perjalanannya menjadi detektif itu dia mengalami jatuh-bangun, setahun dia cuma dapat beberapa klien, dan di novel ini John Bristow adalah client terbesar. Sedangkan Robin dia adalah anak baru dari Yorkshire yang pindah ke London untuk menemani tunangannya yaitu Matthew, Robin secara kebetulan menyukai tantangan sebagai detektif dan memilih pekerjaan sebagai asisten dari Strike. Tapi Matthew nggak suka Robin bekerja dengan Strike, kata Matthew 'Lihat saja dia (maksudnya detektif Strike) klien nggak ada, rumah nggak punya, gimana dia mau gaji kamu?' Iya tentu saja seorang cewek normal di manapun akan memilih lelaki yang punya penghasilan pasti tiap bulan apalagi di atas upah regional, nggak peduli itu di Jakarta, London, Tokyo, atau kota manapun di dunia ini." 

"Pada klimaks novel ini Robin mendapatkan wawancara pekerjaan dari sebuah perusahaan, Robin memutuskan untuk tidak menemani Strike lagi, tapi yang ku suka ini cewek punya prinsip 'Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.' Sebelum dia keluar, dia memutuskan untuk sekali lagi kembali ke kantor. Pada akhirnya ada titik terang bagi Strike, petunjuknya itu simple tapi nyaris terlupakan yaitu bunga mawar putih yang berserakan di TKP.  Gara-gara itu untuk pertama kalinya Strike berhasil memecahkan kasus yang gede banget (karena melibatkan uang 10 juta poundsterling). Di epilog Robin nggak jadi keluar dari kantor Strike, dia memutuskan untuk kerjasama lagi. Menurutku ini bukan ending tapi baru awal dari kisah petualangan Strike dan Robin. Jujur aku penasaran bagaimana hubungan mereka selanjutnya."

"Di novel selanjutnya," sahut cewek cantik di hadapan ku.

"Iya, itu maksudku. Aku percaya suatu saat Detektif Strike akan jadi legenda, setara dengan Sherlock Holmes, Arsene Lupin, Hercule Poirot, Philip Marlow, Lincoln Rhyme, dan sebagainya." Aku terlalu semangat bercerita sampai dia hanya begong melongo, tapi matanya terlalu indah. Aku tahu dari tatapan itu dia mengerti apa yang ku maskud, cerita ini hanya sebuah kiyasan. Seperti ku bilang di awal ada dua kota di dunia ini yang menurutku mirip dengan Jakarta yaitu London dan Tokyo. Kota yang penuh dengan hujan, kota yang selalu terburu-buru, kota yang tidak pernah tidur, kota dengan jiwa-jiwa penghuninya yang mengalami kesulitan yang sama seperti yang kurasakan juga di sini.

Tanpa ku sadari dua sahabatku sudah datang, Gozali dan pacanya yaitu Tika.

"Cuy, Ridwan mana?" tanya-nya.

"Belum dateng dia dari tadi sudah di teleponin," jawab ku. "Btw lo main ice skate sama Putri nggak ngajak-ngajak gw."

"Sorry, dadakan."

"Sudah mending kita karaokean aja, soundtrack Bleach." ucap cewek di samping ku.

"Siapa yang bayar?" tanya Gozali.

"Gw yang bayar, novel detektif gw baru di konfirmasi penerbit major kemarin." Ujar ku.

.  .  .

Hujan dan Cerita Tentang Biru

Hujan dan Cerita Tentang Biru
by Ftrohx


Aku pernah membaca di sebuah blog, si penulisnya berkata 'hujan seakan memiliki tombol untuk kembali ke masa lalu.'

Rasanya aku juga setuju dengan keyakinan si penulis blog.

Mereka menyebut aroma hujan itu dengan nama petrichor, aroma yang 'katanya' lebih indah daripada pheromone. Jika pheromone membawa kamu ke pantai yang panas maka petrichor membawa kamu ke puncak Bogor yang sejuk.

Si penulis bercerita tiap kali dia melihat dan mencium aroma hujan dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan sang kekasih di Halte Busway depan Bank Indonesia.

Iya, aku tahu lokasi itu. Beberapa kali aku juga pernah berteduh di sana tapi aku nggak merasakan apa-apa.

Justru ada sebuah Halte kecil, Halte Bus umum di dekat Bundaran HI yang membuat kenangan besar untuk ku. Kenangan yang mendominasi otak ku dikala melihat hujan yang jatuh ke tanah.

Bukan hanya karena hujan atau petrichor, bahkan tiap kali aku melewati Bundarahan Hi mata ku selalu tertuju pada halte itu. Di sana aku bahkan sering melihat bayangan diri ku sendiri dan gadis kecil bernama Nisa.

Ah sebenarnya tidak tepat, hanya saja karena tubuhnya yang kecil jadi aku sering menyebutnya gadis kecil.

Berbeda dari Zahra tentunya atau boleh aku bilang hampir semua yang ada pada diri Nisa adalah kebalikan dari Zahra.

Jika warna favorit Zahra adalah Merah, maka warna favorit Nisa adalah Biru.

Semua hal yang berhubungan dengan Nisa bisa ku bilang berwarna Biru.

Dia biasa mengenakan syal warna Biru

Jaket dari bahan jeans warna Biru

Dan tentu saja celana panjang warna Biru.

Tas ransel yang digunakan selalu berwarna biru dengan corak putih, lalu sneaker yang dia kenakan juga warna biru dengan tali yang berwarna putih tentunya.

Klub sepakbola favoritnya juga berwarna Biru yaitu Chelsea FC. Aku ingat dia adalah pemuja Frank Lampard dan dia sangat ingin suatu saat liburan ke London.

Biru dan putih itu ciri khasnya. Warna yang sejuk menurut ku seperti hujan gerimis.

Haduh hujan gerimis lagi, kembali ke Halte Bus itu lagi.

De javu lagi.

Aku ingat bagaimana aku bisa duduk di sana. Semua berawal saat aku menemani dia mencari bahan untuk skripsi di Perpustakaan LIPI.

Setelah menyelesaikan beberapa tugas ketikan, kami makan siang di kantin bawah. Dia selalu memesan menu yang sama Ayam Bakar, sementara aku memesan nasi goreng. 

Siang itu aku tidak ada acara lagi, dan dia ingin jalan-jalan melihat Jakarta, dia bilang dia belum pernah naik Busway. Saat itu Nisa masih tinggal di Bogor jadi jarang main ke Jakarta.

Yaudah aku menemani dia.

Dan entah kenapa siang itu begitu ajaib, tidak biasanya Jakarta begitu sejuk, begitu indah, bahkan aku melihat ke kanan-kiri tidak ada kemacetan. Aku lupa mungkin itu hari sabtu tapi seolah aku berada di kota yang lain atau negeri yang lain di luar Indonesia.

Saat itu kita nggak punya tujuan mau ke mana tapi karena suasana nya sedang indah, dia bilang "terserah kamu?"

Yaudah aku memilih turun di Grand Indonesia, karena seminggu itu Gramedia sedang opening toko baru mereka di sana. Toko buku dengan tiga lantai yang katanya sebagai toko buku terbesar di Jakarta. Itu juga kali pertama aku ke sana, dan kami sempat tersesat. berputar-putar dari lantai ke lantai dan gedung yang berbeda. Mengingat itu aku selalu tertawa sendiri.

Sesampainya di Gramed, kami pergi ke sudut komik. Di sana ada sebuah rak khusus komik Doraemon, termasuk ada akseksori, gantungan kunci, boneka, bantal hingga tas berbentuk Doraemon. Nisa sangat suka Doraemon alasannya simple karena karakter itu berwarna biru dan biru adalah warna favoritnya ! Hahahaha... Gadis ini konyol dan imut, mungkin karena hal itu aku nggak pernah bisa melupakan dia.

Keluar dari Grand Indonesia, angin berhembus begitu kencang, dingin,  sejuk, dan gerimis menerpa wajah kami. Aku mengantarnya ke Halte di seberang, melewati jembatan penyeberangan yang sepi, dan hembusan butiran putih dari semburan air mancur HI. Aku melihat pemandangan spektakuler, seperti pusaran salju di tengah Jakarta. Seandainya aku punya kamera, photo itu akan lebih indah daripada kembang api di malam tahun baru.

Di seberang kami duduk di halte kecil, ada beberapa orang yang berdiri menunggu bus di trotoar. Sebentar saja mereka langsung pergi menghilang, meninggalkan kami berdua. Kami tidak bicara banyak lagi, hanya tentang cuaca, angin, gerimis, dan boneka doraemon berwarna biru. Kami bahkan lupa tentang bahan skripsi yang jadi tujuan awal perjalanan ini. 

Saat itu aku tidak banyak bicara, begitu juga dengan Nisa. Kami hanya menikmati hujan begitu saja seolah menghentikan waktu tuk selamanya.

Iya ada titik magis di Halte ini yang membuat waktu benar-benar berhenti, satu titik di mana semua begitu sepi, dan yang ada hanya kami berdua. Satu titik waktu dan semuanya menghilang aku tidak melihat keramaian mobil atau motor yang melewati Sudirman dan Thamrin. Semuanya menghilang, seperti kamu berada di film Vanila Sky, hanya saja dengan lokasi di pusat Jakarta bukan di Times Square New York. Jika dalam permainan basket situasi yang ku alami bisa disebut zone, yang ada hanya diriku dan dirinya yang merobek ruang dan waktu. Tapi tak ada kata apapun yang keluar dari mulutku, tidak ada kata suka, tidak ada kata cinta ataupun sayang.

Sampai Bus itu datang dan membawanya pergi kembali ke rumahnya di Bogor. Hanya ada kata "Thanks ya sudah menemaniku jalan-jalan."

Saat itu dan sampai sekarang aku belum mengucapkan kata 'Cinta' pada dirinya.

Bukan karena Nisa adalah Biru, dan bukan karena Zahra adalah merah, tapi karena aku melihat bayangan seorang gadis berkerudung putih di seberang sana.

_  _  _


To be continued...