Tuesday, April 1, 2014

Hujan dan Mimpi-mimpi

Hujan dan Mimpi-mimpi
By Ftrohx


Di handphone nya dia memutar mp3 'Re-Pray' dari Aimer yang merupakan ost. Ending Bleach season terakhir.

Mata ku terarah pada tetesan hujan di parkiran motor, Ckkk... berengsek soundtrack nya pas banget dengan suasana ini.

"Kamu tahu selain Jakarta, ada dua kota lagi di dunia ini yang indah dengan hujan?"

"Iya, tahu kamu sudah pernah cerita di blog, London dan Tokyo kan."

"Hahaha..." Aku menatap senyum nya, lalu jatuh ke kopi susu, dia tidak terlalu suka latte. Sementara gelas plastik di hadapanku di isi cappucino dengan coklat yang terlalu banyak, teman-teman ku sering komplain masalah itu. Hahaha... Tapi ku bilang mumpung coklatnya gratis nggak papakan banyak-banyak.

Jarang ada teman cewek ku yang suka kopi, mungkin hanya dia satu-satunya. Alasannya minum kopi karena semalaman dia tidur mengerjakan tugas.

Iya begitulah.

Kembali lagi ke hujan dan London, aku jadi ingat satu hal.

"Kamu sudah baca novel terbarunya J K Rowling?"

"Hm, yang detektif itu ya?"

"Iya,, Cuckoo's Calling."

"Aku agak sulit merapal judulnya,"

"Hahaha... kamu nggak tahu berapa kali aku salah mengetiknya menjadi Cucok Calling."

"Baka," dia tertawa. "Jadi ceritanya gimana? bagus?"

"Pas-pasan sih cerita detektifnya, kamu tahukan aku suka yang rumit dan banyak analisisnya, tapi novel ini biasa. Dari sisi plotting nggak spektakuler, cerita tentang petualangan detektif swasta di London bernama Strike bersama dengan asistennya cewek muda bernama Robin. Mereka mendapat Job dari seorang pengacara bernama John, untuk memecahkan kasus pembunuhan adik trinya yaitu super-model ternama Lula Landry. Iya gituhlah skenarionya terlalu klasik seperti Phillip Marlow jamannya Raymond Chadler, seorang detektif mendapatkan sebuah pekerjaan penyelidikan dari seseorang yang misterius dan ternyata orang misterius itu memiliki skandal yang coba dia tutupi." 

"Tapi kulihat di Goodreads, review sudah puluhan ribu orang."

"Iya, karena penulis adalah J K Rowling. Tapi ya disitu ada khasnya Rowling, sama seperti Harry Potter, novel ini pakai POV 3."

"Sama kayak kamu,"

"Neng, di mana-mana novel detektif susah kalau pakai POV 1."

"Sherlock Holmes pakai POV 1, suaranya Watson kan."

Haduh bisa lama dah kalau berdebat masalah ini. Tapi gara-gara novel detektif lah kami jadi saling kenal dan cepat akrab. "Sebenarnya aku sudah duga dari dulu kalau Rowling adalah penulis novel detektif. Khas misterinya sudah ada sejak di Harry Potter - Chamber of Secret."

"Film keduanya Harry itu ya? Yang satu per satu siswa Hogwart menjadi pingsan kaku secara misterius."

"Iya, cerita yang itu kan detektif banget."

Perbincangan-perbincangan hangat seperti ini nih, selalu membuatku terbang.

Dia kembali meneguk lembut kopi-nya. "Eh, lanjutin lagi donk tentang Cuckoo's Calling?"

"Hm, kalau dari segi plotting Cuckoo's ntuh mirip 'Peril at End House'-nya Agatha Christie. Aku pernah cerita kan tentang novel itu, kalau ku jelaskan secara detail lagi nanti malah spoiler." Aku tahu dari kemarin dia pengen beli buku itu, jadi nggak perlu ku terangkan detail isi-nya.

"Lah itu kamu spoiler kan?"

"iya, iya ini memang spoiler." ujar ku agak kesal.

Aku melihat jam, sebentar lagi mereka datang. Baiknya ku selesaikan review novel ku. "Ok, menurut ku novel ini lebih banyak drama romance nya, cinta segitiga, cinta yang terpendam, iya semacam itu. Antara tiga karakter, Strike si detektif partikelir yang bokek tapi genius, versus Matthew si Akuntan yang punya gaji 5 kali lipat upah minimun regional London, untuk menarik hati si Robin cewek cantik yang punya impian menjadi detektif sungguhan. Pada bagian-bagian awal sampai tengah novel ini menyajikan kehidupan detektif Strike yang menyesakkan, mantan tentara yang mengalami insiden hingga kakinya terpaksa di amputasi dan keluar dari dinas ketentaraan. Strike nggak punya pekerjaan dan nggak ada perusahaan yang mau mempekerjakan dia karena cacat, jadi Strike membuat pekerjaan untuk dirinya sendiri, pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dia dan sangat dia minati yaitu menjadi detektif. Tapi dalam perjalanannya menjadi detektif itu dia mengalami jatuh-bangun, setahun dia cuma dapat beberapa klien, dan di novel ini John Bristow adalah client terbesar. Sedangkan Robin dia adalah anak baru dari Yorkshire yang pindah ke London untuk menemani tunangannya yaitu Matthew, Robin secara kebetulan menyukai tantangan sebagai detektif dan memilih pekerjaan sebagai asisten dari Strike. Tapi Matthew nggak suka Robin bekerja dengan Strike, kata Matthew 'Lihat saja dia (maksudnya detektif Strike) klien nggak ada, rumah nggak punya, gimana dia mau gaji kamu?' Iya tentu saja seorang cewek normal di manapun akan memilih lelaki yang punya penghasilan pasti tiap bulan apalagi di atas upah regional, nggak peduli itu di Jakarta, London, Tokyo, atau kota manapun di dunia ini." 

"Pada klimaks novel ini Robin mendapatkan wawancara pekerjaan dari sebuah perusahaan, Robin memutuskan untuk tidak menemani Strike lagi, tapi yang ku suka ini cewek punya prinsip 'Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.' Sebelum dia keluar, dia memutuskan untuk sekali lagi kembali ke kantor. Pada akhirnya ada titik terang bagi Strike, petunjuknya itu simple tapi nyaris terlupakan yaitu bunga mawar putih yang berserakan di TKP.  Gara-gara itu untuk pertama kalinya Strike berhasil memecahkan kasus yang gede banget (karena melibatkan uang 10 juta poundsterling). Di epilog Robin nggak jadi keluar dari kantor Strike, dia memutuskan untuk kerjasama lagi. Menurutku ini bukan ending tapi baru awal dari kisah petualangan Strike dan Robin. Jujur aku penasaran bagaimana hubungan mereka selanjutnya."

"Di novel selanjutnya," sahut cewek cantik di hadapan ku.

"Iya, itu maksudku. Aku percaya suatu saat Detektif Strike akan jadi legenda, setara dengan Sherlock Holmes, Arsene Lupin, Hercule Poirot, Philip Marlow, Lincoln Rhyme, dan sebagainya." Aku terlalu semangat bercerita sampai dia hanya begong melongo, tapi matanya terlalu indah. Aku tahu dari tatapan itu dia mengerti apa yang ku maskud, cerita ini hanya sebuah kiyasan. Seperti ku bilang di awal ada dua kota di dunia ini yang menurutku mirip dengan Jakarta yaitu London dan Tokyo. Kota yang penuh dengan hujan, kota yang selalu terburu-buru, kota yang tidak pernah tidur, kota dengan jiwa-jiwa penghuninya yang mengalami kesulitan yang sama seperti yang kurasakan juga di sini.

Tanpa ku sadari dua sahabatku sudah datang, Gozali dan pacanya yaitu Tika.

"Cuy, Ridwan mana?" tanya-nya.

"Belum dateng dia dari tadi sudah di teleponin," jawab ku. "Btw lo main ice skate sama Putri nggak ngajak-ngajak gw."

"Sorry, dadakan."

"Sudah mending kita karaokean aja, soundtrack Bleach." ucap cewek di samping ku.

"Siapa yang bayar?" tanya Gozali.

"Gw yang bayar, novel detektif gw baru di konfirmasi penerbit major kemarin." Ujar ku.

.  .  .

No comments:

Post a Comment