Sunday, April 20, 2014

Hujan di bawah anak tangga



Hujan di bawah anak tangga
By Ftrohx


Setelah melewati jalan yang berliku akhirnya aku sampai di tempat ini, rumah kakaknya Gozali.

Rumah ini berlantai 2 dengan view  tanah lapang di depannya.





Menaiki 5 anak tangga menuju teras depan, aku menemukan Gozali di sana, dia langsung menyambutku. Sahabat ku ini benar-benar cerah dan bahagia.

Kami berbasa-basi singkat sambil mataku sesekali terarah pada panggung di depan lapangan sana.

Di rumah kakaknya ini Gozali mengadakan syukuran karena 5 hari lagi dia akan melangsungkan ijab-kabul dengan Tika.

Acara ini tidak sepenuhnya terlihat seperti acara 'syukuran' formal, justru lebih mirip bachelor party menurutku. Tapi di situlah asiknya. 

Begitu banyak orang di sini, aku tidak bisa mengenali semuanya. Gozali bilang ada teman-temannya dari SD, SMP, SMA, kuliah, teman kerja, teman band hingga anak-anak komunitas Jejepangan.

Dari kelompok yang terakhir itu tentu saja, si cewek berjilbab-kacamata itu datang ke sini.

Dia datang dengan seorang teman ku juga dari komunitas Jejepangan. Dia mengenakan jilbab putih, celana jeans biru, sweater, serta kacamata seperti biasa.

Dia menyapaku lebih "Hei..." menyebut namaku, aku juga menyapa-nya dan teman di sebelah. Setelah itu justru aku berbincang dengan teman di sebelahnya.

Sepertinya dia masih tidak ingin bicara denganku, matanya terarah pada panggung di lapangan dan band yang sedang membawakan lagu Rock.

Setelah kejadian-kejadian yang kemarin mungkin dia masih marah padaku. Iya, kemarin aku terlalu emosional, mungkin aku juga terlalu putus asa. Aku tahu kita berdua sama-sama memiliki ego yang tinggi, sama-sama benci dengan kekalahan dan sama-sama ingin menang sendiri. Kita berdua saling bentrok dan selalu... Ah aku tidak bisa menuliskannya.

Harusnya aku minta maaf, tapi berapa kali kita selalu mengulang hal ini.

Dia tersenyum lagi, tapi bukan padaku melainkan pada Ridwan teman ku anak komunitas Jejepangan yang akan naik ke panggung.

Si Jilbab-kacamata menarik tangan teman (yang sedang berbincang) di sebelah ku dan mengajaknya turun ke lapangan.

Atas permintaan Gozali, Ridwan dan bandnya membawakan lagu 'Ready Steady Go' dari L'arc en Ciel. Lagu yang nge-beat dan membuat penonton berjingkrakan.

Iya, aku hanya bisa melihatnya dari belakang, di antara kerumunan orang dia menari dan melompat. Ah dia terlihat bahagia... mungkin itu yang terbaik untuknya juga untukku aku juga ikut merasa bahagia.

Kerumunan penonton itu dipenuhi oleh cowok dan dia satu-satunya cewek di sana. Aku juga nggak ngerti kenapa dia punya keberanian seperti itu menghadapi laki-laki dan berdiri di dunia laki-laki. Terlihat ajaib juga karena dia satu-satunya yang berdiri mengenakan jilbab putih di tengah sana.

Gozali menghampiriku dan kami kembali bicara tentang konsep pernikahannya nanti. Dia bilang dia telah menyewa gedung dan menyiapkan katering. Dia bilang nanti akan ada band juga yang akan mengisi acara resepsinya dan dia telah menyiapkan daftar lagu.

Aku melihat daftar itu, dari beberapa lagu, ada lagu yang juga suka didengarkan oleh si Jilbab-kacamata. Mungkin ini bisa jadi bahan perbincangan ku dengannya.

Lagu Larc en Ciel itu selesai dan penonton kembali agak tenang. Si Jilbab-kacamata berjalan ke arah meja prasmanan dan mengambil aqua gelas, dia lalu duduk di anak tangga dan aku duduk di sampingnya.

"Hei, lihat ini dah..." aku memberinya daftar lagu tersebut. "Ini akan dibawakan di acara resepsi-nya Gozali."

"Hmm," dia hanya melihat sekilas dengan wajah tidak peduli, sambil mulutnya meneguk air minum itu.

Tak lama dia tersenyum, tapi kusadari itu bukan untuk ku. Dia berdiri dari posisi sambil tangannya melambaikan tangan ke seseorang.

Aku juga berdiri dan menengok ke arah itu. Seorang pria berbadan tegap berjalan ke arah kami. Melihat dia berjalan ke sini membuatku sangat malu, aku sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku tidak mengenalinya dan aku juga tidak melihat seluruh wajahnya, yang pasti dia memiliki hidung mancung, kulit putih, dan badan yang tinggi.

Dia mengenakan kemeja putih dibalut setelan jas yang terlihat mahal, layaknya seorang ekskutif muda. Aku melihat sepatu pantofel hitamnya yang mengkilat tanpa debu, kurasa dia pasti membawa sebuah sedan dan memarkirkannya di samping jalan.

Si Pria metrosexual ini langsung menyapa Jilbab-kacamata,

"Hei acara masih lama?"

"Nggak kok, emang kita mau langsung jalan?"

"Iya, takutnya ke sorean."

"Aku pamit sama temanku dulu ya."

Si Jilbab-kacamata berjalan ke ruang depan, dia menyalami Gozali dan berpamitan.

Mataku tetap terarah pada panggung, dan kamu tahu dia bahkan tidak mengenalkan ku siapa pria itu.

Dua sejoli ini langsung berjalan begitu saja melewatiku yang berada di anak tangga. Mataku masih memandang lurus ke depan berusaha untuk tidak meliriknya, berusaha untuk tidak melihatnya, tapi aku tidak bisa mengendalikan inderaku. Bola mata ini melihat dua tangan yang saling bergandengan, dia tersenyum begitu ceria pada pria berjas mahal itu. Lalu berjalan ke samping dan tak terlihat lagi.

Mungkin jika kamu bisa melihat wajahku semua terlihat amburadul, kamu bisa melihat muka ku yang shock, mimik yang sangat terkejut dan emosional. Atau mungkin pria itu juga melihat betapa anehnya aku.

Kamu tahu rasa yang kualami, ini seperti ulu hatiku di tendang oleh atlet Taekwondo,  bukan-bukan, bahkan lebih dari itu seperti dadaku dihantam oleh palu godam hingga tulang dadaku patah dan patahannya merobek jantungku. Rasanya bukan hanya sakit yang sangat kuat tapi juga perih yang menyayat.

Aku rasa, aku ingin berhenti saja.

Aku rasa aku ingin pulang atau pergi jauh dari kota ini.

Aku sempat juga berpikir seandainya saja aku tidak datang ke tempat ini.

Mungkin rasa sakit ini tidak pernah ada.

PUKK!!

Sebuah tangan menepuk bahu ku "Oiy bengong aja," aku melirik ke samping dia adalah Gozali.

Dia tersenyum, dia tahu apa yang baru saja kuhadapi. "Sudah lah masih ada yang lain kok, sudah sabar aja."

Gozali tahu banyak hal tentang ku, tentang jatuh bangun hidupku, tentang cita-citaku, tentang kehidupan rumahku hingga tentang orang yang kucintai. Aku bersyukur memiliki sahabat sebaik dan sehebat dia.

Lalu sebuah suara menyusul dari belakang ku "Kakak..."

Aku menoleh, wanita yang memanggilku adalah Tika yang wajah yang sangat cerah, dia tersenyum padaku dan di sampingnya berdiri seorang Putri.

Hujan pun perlahan turun di teras ini membasahi anak tangga.

.  .  .


No comments:

Post a Comment