Hujan dan kata yang tak terucap
By Ftrohx
Kata seorang penulis di wall sebelah "Hujan itu berengsek. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tapi juga bisa membuatmu galau setengah mampus."
Hujan itu punya tombol untuk pergi ke masa lalu, atau jika kita tidak dapat pergi ke masa lalu, maka masa lalu yang mendatangi kita.
Ini fakta yang ku alami semalam.
Seperti yang kamu tahu minggu-minggu belakangan ini, Jakarta terus di guyur oleh hujan baik itu sedang ataupun berat, dari pagi sampai dengan malam.
Mungkin karena hujan pula lah aku belakangan ini lebih banyak menulis daripada membaca.
Iya, kamu tahu sudah berapa ratus ribu penulis yang terinspirasi bahkan kesurupan karena hujan. Bahkan yang lebih dari itu, ketika kamu bertemu dengan seseorang dari masa lalu kamu.
Semalam aku sedang menunggu nasi goreng favorit ku, tempatnya memang agak jauh dari rumah. Aku mesti pergi ke gang sebelah lalu melewati jalan menurun 50 meter dan belok ke kanan tepat di lapangan di depan TK Ananda.
Udara lumayan sejuk, jalanan becek, dan gerimis masih menerpa wajah ku.
Seperti biasa para pelanggan nasi goreng selalu mengantri, mungkin butuh waktu setengah jam terkadang bisa sampai satu jam baru nasi goreng pesananku disajikan.
Saat menunggu itu, pandangan ku melihat seorang cewek dengan kerudung warna broken white dengan tepian warna kuning. Berjalan berlawanan arah dengan ku.
Aku langsung mengenalinya, cewek cantik itu adalah teman Sekolah ku.
Dan dia sudah menikah tentunya.
"Hei, . . . . " maaf aku tidak menyebut namanya di sini. "Apa kabar," sapa ku basa-basi.
Mukanya terlihat terkejut, lalu senyum merekah terukir dibibirnya, wajahnya indah sekali cantik, lebih cantik daripada terakhir kali ku bertemu. "Alhamdulillah, baik."
"Darimana?" tanyaku
"Ini dari sini," dia menunjuk gang di belakang. Mungkin dari rumah temannya pikir ku.
"Sudah lama banget ya kita nggak ketemu."
"Iya, sudah berapa tahun."
"Hahahaha..." kami tertawa.
"Terakhir pas kamu married,"
"Iya, lagian kamu nggak pernah main ke rumah ku sih."
"Oiya, . . . . (aku menyebut namanya) masih di . . . . (aku menyebut nama tempat di pinggiran wilayah Jakarta Selatan)"
"Nggak sekarang aku tinggal di jalan . . . ." DIa menyebut nama sebuah jalan di daerah Tangerang dekat Ciledug.
Aku agak terkejut, "Kamu pindah? Kenapa?"
Dia tidak menjawab
"Terus suami kamu?" tanyaku ngasal.
"Aku sudah putus." ucapnya dengan ringan sambil tersenyum.
Kamu pasti bisa membayangkan reaksi di wajah ku, sangat terkejut. Padahal si cewek cantik ini sudah punya anak dua, anak pertamanya sudah menginjak usia lima tahun, kamu bisa membayangkan bebannya, dengan bekerja sendiri untuk menghidupi kedua anaknya yang mulai akan masuk sekolah.
Sejak lama aku memahami logika ini, pacaran dan putus di tengah jalan tidak sesakit menikah dan putus di tengah jalan. Pernikahan memang awal dari kebahagian yang besar tapi seperti juga hukum equlibrium ada resiko yang lebih besar lagi untuk penderitaan.
Sebenarnya diam-diam aku tahu permasalahannya.
Aku juga menyadari, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa wajahnya terlihat lebih cantik daripada terakhir kali kami bertemu. Sebenarnya aku masih mengawasi dia lewat facebook, aku masih suka stalking photo-photo yang dia upload, beberapa photo terlihat saat dia bersama suaminya (atau lebih tepatnya mantan). Aku melihat ada rasa tidak enak yang dia simpan di wajah itu, aku melihat ada beban atau sakit yang dia pendam di balik photo-photo itu. Namun sekarang di hadapan ku ini dia lebih cantik, lebih segar daripada yang kulihat di photo-photo itu. Tubuhnya memang terlihat lebih kurus, tapi dia terlihat bahagia, dia bisa tersenyum lepas.
Aku teringat dengan tulisan di blog-nya Eka Kurniawan "Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia." yang dia maksud adalah pernikahan merupakan ujian manusia yang sebenarnya. Bukan cuma tentang bahagia tapi juga tentang rasa sedihnya.
Satu hal yang kusesali sampai sekarang, satu hal yang kupendam sendiri. Sejak masih sekolah, sejak dia masih perawan, sampai dia menikah, sampai dia telah bercerai sekarang. Aku belum pernah sekalipun berani untuk mengungkapkan kata suka sama dia. Belum pernah, berbeda dengan cewek-cewek lain yang kutemui yang dengan mudah aku bisa mengucapkan kata cinta. Entah untuk dia adalah semacam dinding penghalang bukan pada dirinya tapi pada hatiku sendiri. Aku tidak berani, aku tahu resikonya aku takut jika aku mengucapkan kata itu dia akan pergi menjauh dari ku, dia tidak akan jadi teman ku lagi.
Mungkin kamu berargumen bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri, terlalu nyaman dengan keadaan. Seperti kata penulis novel 5 cm. "Hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tidak berani mengatakan cinta," tapi bukan itu sebaliknya mungkin aku terlalu suka dengan dia sampai-sampai aku takut kehilangan senyum-nya. Mungkin rasa ku kepadanya memang lebih besar daripada rasaku kepada wanita lain. Entahlah, mungkin karena hujan, mungkin karena aroma petrichor dari tanah basah yang membuatku jadi mengetik cerita seperti ini.
Satu lagi, setelah pertemuan itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku memimpikan dia semalaman bahkan sampai pagi ini. Melihat wajahku di cermin aku jadi seperti Zabir yang diperankan Junot di film TKVDW, betapa gobloknya padahal masih banyak gadis perawan cantik di luar sana.
. . .
nb: Ini hanyalah cerita fiksi,
No comments:
Post a Comment