Tuesday, April 1, 2014

Hujan dan Cerita Tentang Biru

Hujan dan Cerita Tentang Biru
by Ftrohx


Aku pernah membaca di sebuah blog, si penulisnya berkata 'hujan seakan memiliki tombol untuk kembali ke masa lalu.'

Rasanya aku juga setuju dengan keyakinan si penulis blog.

Mereka menyebut aroma hujan itu dengan nama petrichor, aroma yang 'katanya' lebih indah daripada pheromone. Jika pheromone membawa kamu ke pantai yang panas maka petrichor membawa kamu ke puncak Bogor yang sejuk.

Si penulis bercerita tiap kali dia melihat dan mencium aroma hujan dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan sang kekasih di Halte Busway depan Bank Indonesia.

Iya, aku tahu lokasi itu. Beberapa kali aku juga pernah berteduh di sana tapi aku nggak merasakan apa-apa.

Justru ada sebuah Halte kecil, Halte Bus umum di dekat Bundaran HI yang membuat kenangan besar untuk ku. Kenangan yang mendominasi otak ku dikala melihat hujan yang jatuh ke tanah.

Bukan hanya karena hujan atau petrichor, bahkan tiap kali aku melewati Bundarahan Hi mata ku selalu tertuju pada halte itu. Di sana aku bahkan sering melihat bayangan diri ku sendiri dan gadis kecil bernama Nisa.

Ah sebenarnya tidak tepat, hanya saja karena tubuhnya yang kecil jadi aku sering menyebutnya gadis kecil.

Berbeda dari Zahra tentunya atau boleh aku bilang hampir semua yang ada pada diri Nisa adalah kebalikan dari Zahra.

Jika warna favorit Zahra adalah Merah, maka warna favorit Nisa adalah Biru.

Semua hal yang berhubungan dengan Nisa bisa ku bilang berwarna Biru.

Dia biasa mengenakan syal warna Biru

Jaket dari bahan jeans warna Biru

Dan tentu saja celana panjang warna Biru.

Tas ransel yang digunakan selalu berwarna biru dengan corak putih, lalu sneaker yang dia kenakan juga warna biru dengan tali yang berwarna putih tentunya.

Klub sepakbola favoritnya juga berwarna Biru yaitu Chelsea FC. Aku ingat dia adalah pemuja Frank Lampard dan dia sangat ingin suatu saat liburan ke London.

Biru dan putih itu ciri khasnya. Warna yang sejuk menurut ku seperti hujan gerimis.

Haduh hujan gerimis lagi, kembali ke Halte Bus itu lagi.

De javu lagi.

Aku ingat bagaimana aku bisa duduk di sana. Semua berawal saat aku menemani dia mencari bahan untuk skripsi di Perpustakaan LIPI.

Setelah menyelesaikan beberapa tugas ketikan, kami makan siang di kantin bawah. Dia selalu memesan menu yang sama Ayam Bakar, sementara aku memesan nasi goreng. 

Siang itu aku tidak ada acara lagi, dan dia ingin jalan-jalan melihat Jakarta, dia bilang dia belum pernah naik Busway. Saat itu Nisa masih tinggal di Bogor jadi jarang main ke Jakarta.

Yaudah aku menemani dia.

Dan entah kenapa siang itu begitu ajaib, tidak biasanya Jakarta begitu sejuk, begitu indah, bahkan aku melihat ke kanan-kiri tidak ada kemacetan. Aku lupa mungkin itu hari sabtu tapi seolah aku berada di kota yang lain atau negeri yang lain di luar Indonesia.

Saat itu kita nggak punya tujuan mau ke mana tapi karena suasana nya sedang indah, dia bilang "terserah kamu?"

Yaudah aku memilih turun di Grand Indonesia, karena seminggu itu Gramedia sedang opening toko baru mereka di sana. Toko buku dengan tiga lantai yang katanya sebagai toko buku terbesar di Jakarta. Itu juga kali pertama aku ke sana, dan kami sempat tersesat. berputar-putar dari lantai ke lantai dan gedung yang berbeda. Mengingat itu aku selalu tertawa sendiri.

Sesampainya di Gramed, kami pergi ke sudut komik. Di sana ada sebuah rak khusus komik Doraemon, termasuk ada akseksori, gantungan kunci, boneka, bantal hingga tas berbentuk Doraemon. Nisa sangat suka Doraemon alasannya simple karena karakter itu berwarna biru dan biru adalah warna favoritnya ! Hahahaha... Gadis ini konyol dan imut, mungkin karena hal itu aku nggak pernah bisa melupakan dia.

Keluar dari Grand Indonesia, angin berhembus begitu kencang, dingin,  sejuk, dan gerimis menerpa wajah kami. Aku mengantarnya ke Halte di seberang, melewati jembatan penyeberangan yang sepi, dan hembusan butiran putih dari semburan air mancur HI. Aku melihat pemandangan spektakuler, seperti pusaran salju di tengah Jakarta. Seandainya aku punya kamera, photo itu akan lebih indah daripada kembang api di malam tahun baru.

Di seberang kami duduk di halte kecil, ada beberapa orang yang berdiri menunggu bus di trotoar. Sebentar saja mereka langsung pergi menghilang, meninggalkan kami berdua. Kami tidak bicara banyak lagi, hanya tentang cuaca, angin, gerimis, dan boneka doraemon berwarna biru. Kami bahkan lupa tentang bahan skripsi yang jadi tujuan awal perjalanan ini. 

Saat itu aku tidak banyak bicara, begitu juga dengan Nisa. Kami hanya menikmati hujan begitu saja seolah menghentikan waktu tuk selamanya.

Iya ada titik magis di Halte ini yang membuat waktu benar-benar berhenti, satu titik di mana semua begitu sepi, dan yang ada hanya kami berdua. Satu titik waktu dan semuanya menghilang aku tidak melihat keramaian mobil atau motor yang melewati Sudirman dan Thamrin. Semuanya menghilang, seperti kamu berada di film Vanila Sky, hanya saja dengan lokasi di pusat Jakarta bukan di Times Square New York. Jika dalam permainan basket situasi yang ku alami bisa disebut zone, yang ada hanya diriku dan dirinya yang merobek ruang dan waktu. Tapi tak ada kata apapun yang keluar dari mulutku, tidak ada kata suka, tidak ada kata cinta ataupun sayang.

Sampai Bus itu datang dan membawanya pergi kembali ke rumahnya di Bogor. Hanya ada kata "Thanks ya sudah menemaniku jalan-jalan."

Saat itu dan sampai sekarang aku belum mengucapkan kata 'Cinta' pada dirinya.

Bukan karena Nisa adalah Biru, dan bukan karena Zahra adalah merah, tapi karena aku melihat bayangan seorang gadis berkerudung putih di seberang sana.

_  _  _


To be continued...

No comments:

Post a Comment