Ksatria, Naga, dan Tuan Putri
Sebuah Cerpen
By Ftrohx
Terkadang tahu sebelum orang lain tahu itu tidaklah indah, ketika kita mengetahui sesuatu sementara orang lain yang kita ajak bicara tidak tahu. Rasanya seperti sebuah kehampaan. Begitu pikir Fachrie, sering dia merasa hampa ketika bicara dengan seseorang tentang apa yang dia tahu sementara teman yang dia ajak bicara tidak tahu. Mereka hanya bengong, melongok, beberapa bahkan mentertawakannya, karena apa yang dia bicarakan jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh orang-orang itu.
Sempat tersirat dalam benak Fachrie, mungkin metode-nya beda dengan TORA, atau mungkin Tora memang punya kharisma untuk memikat banyak orang dengan perkataannya. Sehingga apa yang dia tahu, bisa dia pamerkan. Sedangkan bagi Fachrie, rasa itu begitu sepi. "Lo sok tahu sendiri," atau "Nggak ngerti gw apa yang lo omongin?" Tapi, ketika Tora bicara meskipun mereka tidak mengerti tapi mereka begitu mengagumi Tora. Rasanya seperti seribu tahun kesepian. Fachrie sering bertanya-tanya "Apa ada orang yang mengabaikan Tora?!"
Dia seperti monster di mata Fachrie, manusia yang tidak punya rasa peduli ataupun rasa sakit. Tora tidak percaya dengan kesepian, karena kesepian hanya untuk orang yang lemah. Dan dia tidak peduli apakah orang suka atau tidak suka dengan ucapannya, Dia tidak peduli apakah seseorang mengikutinya atau tidak... Mungkin inilah disebut ekstrovert, mereka hanya bicara dan tidak peduli dengan efeknya. "Antusias atau tidak seseorang mendengarkan lo, bukanlah persoalan pengetahuan lo. Bukan tentang apa yang lo tahu dan orang lain tidak tahu." Fachrie sering mengalaminya ketika bicara dengan seorang cewek dan cewek itu tidak tahu apa yang Fachrie bicarakan.
Maka si cewek hanya bilang "Hm... Oh... Iya... Tul... dsb." lalu "Maka-nya jangan sok tahu sendiri donk!" hardik itu cewek.
Sedangkan jika Tora yang bicara, maka si cewek akan menanggapi "Wah, seru ntuh... ajarin donk... apalagi selanjutnya... kamu keren tahu banyak hal... kamu genius... kamu bla bla bla... dsb."
Dari situ Fachrie menyadari bahwa Tora memiliki lebih dari sekedar pengetahuan, dia punya charisma. Meski dengan pengetahuan yang pas-pasan namun dengan Kharisma, Tora bisa mendapatkan apa yang dia mau. Di sisi lain Fachrie sadar bahwa dia tidak memiliki kharisma seperti Tora. Namun, dia memiliki kekuataan yang lain yaitu imajinasi.
Inka mencari kata-kata yang tepat namun tak ada yang bisa dia ucapkan selain. “I’m very HAPPY with you!”
Seminggu yang lalu di Neunzig, Fachrie begitu banyak bicara tentang Singapore Flyer, sebuah Giant Ferris Wheels terbesar di Asia, bahkan mengalahkan Eyes of London. Terdiri dari 28 kapsul yang setiap kapsul mampu menampung 28 orang, dan sekarang mereka berdua berada di dalamnya. Memandangi langit dan kota yang bertabur cahaya. “Apalagi aku, lebih dari bahagia!”
Di ujung sana di kapsul sebelumnya, Liana, Satria, & Harry telah melaju terlebih dahulu mereka melambaikan tangan. Sambil memotret sekitar Liana berharap menemukan adegan romantic seperti di Before Sunrise dari Fachrie dan Inka.
“Kamu lihat di sana?”
“Iya, Liana!”
“Aku rasa dia sangat berharap melihat kita berdua berciuman!”
“Iya, sepertinya begitu.” Fachrie tertawa. “Tapi, enggak mungkinlah kita ngasih itu, adegan itu terlalu klise!”
“Hahaha…” Inka juga ikut tertawa. Dia merasa belum pernah sebahagia ini sebelumnya.
"Tahu sekarang tanggal berapa?" Tanya Fachrie.
"1 November kan!"
"Iya, Kamu ingat Bakuman volume 18?"
"Oiya, kok bisa kebetulan begini ya? Mereka berdua (Hiramaru & Aoki) juga berada di Flyer Wheels! Jangan-jangan kamu sudah men-setting semuanya ya!?" Inka takjub lalu di susul tawa keduanya.
“Tentu aja enggak."
“Serius?”
“Iya.” Fachrie menatap mata Inka. "Ini bukan karena Hiramaru Kazuya juga bukan ide-nya Ethan Hawk di Before Sunrise.”
Kembali keduanya tertawa.
“Romantis itu apa sih?” Lanjutnya.
“Nah, itu aku belum pernah menemukan jawabanya. Terkadang hal-hal bodoh bagi orang lain, merupakan hal romantis bagi kita, sedangkan hal romantis bagi orang lain, sama sekali tidak menarik untuk kita?”
“Hahaha… Dasar detektif koplak dari dulu gak bisa romantis!”
“Apanya yang enggak romantis?”
“Tempat ini maksud ku, enggak romantis banget tahu, capsule-nya terlalu besar untuk hanya kita berdua?”
"Hahaha..." Fachrie tertawa. Oh, my God she’s so beautiful.
“Iya, lalu…” Inka penasaran dengan apalagi yang ingin diungkap Fachrie.
“Sengaja tadi aku nggak cerita hal yang ini di hadapan teman-teman yang lain,” Fachrie memberi Inka sebuah note. “Ada sebuah cerita, sebuah kisah yang telah ada jauh dari ribuan tahun yang lalu dan akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kisah ini bukan hanya ada di dunia barat tapi juga di dunia timur.”
Inka membacanya.
Dahulu kala, Terdapat seorang Ksatria muda yang jatuh cinta pada seorang Putri yang sangat cantik. Namun, Putri itu di culik oleh seekor Naga Raksasa. Dia di bawa ke sebuah kastil tinggi di puncak gunung.
Sang Naga memiliki Kulitnya lebih keras daripada besi, tubuh yang lebih besar daripada gajah, dan taring yang lebih tajam daripada harimau, serta mulut yang menyemburkan api. Sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan oleh manusia manapun dari bangsa apapun.
Kecantikan sang Putri mengalahkan rasa takut semua orang, kecantikannya menarik semua orang untuk bertaruh dengan nyawa menyelamatkan dirinya.
Semua Ksatria mencoba untuk mengalahkan sang Naga, menyelamatkan sang Putri, namun semuanya berakhir dengan kematian.
Berbagai cara mereka coba untuk mengalahkan sang Naga, Dengan Tombak, Panah, Pedang, Palu, dan Kampak. Dengan Api, Angin, Batu, maupun Air. Tapi, jangankan melukai, merobek kulitnya saja tak ada yang mampu.
Disaat begitu banyak orang yang telah terbunuh di sana, disaat begitu banyak pria yang melarikan diri, disaat keputusasaan menyelimuti udara. Terdapat satu orang ksatria muda yang tidak mau menyerah. Ksatria muda yang tetap berusaha bangkit sekalipun semua senjatanya telah hancur.
Dengan pedangnya yang patah itu sang Ksatria muda, berhasil merobek jantung Naga. Dia mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan, dia menyelamatkan sang Putri dan semua berakhir bahagia selamanya.
Tapi, sebenarnya cerita itu tidak berakhir bahagia. Kenyataannya Ksatria tidak pernah mengalahkan sang Naga, dan sang Putri tidak pernah terselamatkan. Selamanya Manusia tidak bisa mengalahkan makhluk yang jauh lebih besar dari dirinya hanya dengan kekuataan besi dan otot. Tidak akan pernah.
Ksatria muda itu tewas bersama mimpi-nya. Namun, sebelum dia menutup mata. Dia berdoa pada Tuhan untuk hidup sekali lagi, untuk bertarung lagi, sekalipun dia tahu dia tidak akan mungkin menang, tidak akan mungkin mendapatkan cintanya. Begitu pula dengan sang Putri, dia tahu semuanya tidak akan berhasil. Tapi dia rela untuk menunggu selamanya. Sekalipun bukan di kehidupan ini dia berdoa seandainya dia diberi kehidupan sekali lagi untuk menunggu Ksatria menyelamatkannya.
Dan tentu saja, Tuhan adalah Maha Mengabulkan doa, dan Dia menjawab doa tersebut.
Mereka menjelma kedalam ribuan kisah, ribuan cerita cinta, ribuan pasang manusia, dan aku yakin mereka akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kamu ingat ada kisah Aladin, Jafar, dan Putri Yasmin. Betapa miripnya dengan kisah Ksatria, Naga, dan Tuan Putri. Hanya saja sang Naga menjelma menjadi penyihir Jafar yang mencoba menguasai seluruh kerajaan. Kamu pasti tahu Romeo & Juliet. Cinta mereka terhalang oleh takdir keluarga yang saling berperang. Ya, peperangan adalah kebencian, dan kebencian merupakan jelmaan dari sang Naga jahat yang pernah menghalangi cinta sang Ksatria dan Tuan Putri.
Di tengah keputusasaan sang Ksatria berharap dia bisa kembali lagi ke masa lalu, kembali lagi bertarung dan mencari cara untuk mengalahkan Naga. Apapun dan bagaimanapun itu dia akan terus berusahan untuk mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk di kalahkan. Sang Ksatria menjadi pemuda bernama Alexander. Seorang penemu genius di New York abad ke-19. Dia mencintai seorang gadis cantik, namun takdir merenggutnya dia membawanya pergi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalahkan takdir, dan Alexander pun menciptakan Time Machine untuk kembali ke awal, kembali menyelamatkan sang kekasih berapa kalipun itu dia akan terus mencoba untuk menemukan jawabannya.
Sang Ksatria menjelma menjadi Jonathan Harker yang berani menantang Count Dracula (sang Maha vampire dari segala vampire) untuk mendepatkan kembali tunangannya yaitu Wilhem Mina. Semua orang di dunia ini tahu nama besar Dracula, nama itu adalah terror tersendiri, nama itu tabu bagi banyak orang untuk di ucapkan, Ketakutan bahkan untuk orang yang tidak memiliki akal sekalipun. Sedangkan Harker hanya seorang manusia biasa yang tidak mungkin hidup jika melawannya. Namun Harker begitu idiot bertarung, Musthahil bagi Harker yang hanya manusia biasa untuk tetap hidup, namun dia dengan begitu idiotnya tetap bertarung melawan Dracula.
Sang ksatria menjelma menjadi Kenshi Himura yang menyelamatkan Kaoru dari Enichi. Semangat membaranya berhebus di tiap nafas Hanamichi, saat menghempaskan bola ke dalam ring basket. Mimpinya hanya ingin menjadi pemain basket dan mendapatkan cinta Haruko. Sang Ksatria berada dalam diri Mashiro Kun yang bertarung melawan kemusthahilan, berusaha menggapai mimpi sebagai seorang manga-ka nomor satu untuk melamar Azuki. Sang Ksatria juga bereinkarnasi dalam diri Ichigo Kurosaki bertarung untuk menyelamatkan Rukia dan seluruh Soul Society dari Aizen yang tak terkalahkan.
Inka tidak pernah tahu kalau Fachrie jago mendongeng, tulisannya itu membuat matanya berkaca-kaca. Dia menarik nafas dalam, tangannya perlahan melipat note tersebut.
“Kisah itu akan terus ada, Kisah seorang Ksatria yang bertarung melawan kemusthahilan, bertarung untuk mendapatkan cintanya, bertarung untuk mendapatkan sang putri.” Ucap Fachrie sambil tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
Mungkin kotak kecil ini yang sebenarnya diburu oleh Tora dan anak buahnya, mungkin karena isi dalam kotak kecil inilah semua insiden itu terjadi… Tapi tidak semua misteri mesti dipecahkan, pikir Inka.
Sementara tubuh gadis cantik itu tidak dapat menahan degup kencang di jantungnya.
. . .
Nb: Cerpen ini terdapat pada novel saya yang berjudul Sepuluh Tiga Satu
No comments:
Post a Comment