Sunday, August 31, 2014

Sebut Saja dia S.



Sebut Saja dia S.
By Ftrohx


Setiap hari di antara kepadatan lalu lintas Jakarta, di antara keramaian orang di dalam Halte Busway ataupun Bus TransJakarta.

Kita selalu bertemu dengan orang yang asing, orang-orang yang tidak pernah kita kenal, kita melihat wajah mereka dan kita tidak pernah melihat mereka untuk yang kedua kali.

Ada rasa sesal di sini, di saat aku tidak mengenal mereka dan tiba-tiba mereka menghilang.

Kemarin Jeni bercerita tentang sesalnya, tidak menolong seseorang di antara keramaian lalu lintas Kota.

Seorang tua yang katanya terjatuh dan sulit berdiri, lalu seorang supir angkot menolong. Jeni sangat ingin menolong orang itu namun tubuhnya tak bergerak dia hanya bisa melihat dari jauh. Hingga orang itu menghilang. Ada rasa sesal yang sangat di hatinya, kenapa aku tidak turun ke sana dan membantu orang tua itu.

Melihat Jakarta yang begitu luas dengan jutaan orang yang berada di sini.

Kita tidak pernah tahu, kita akan bertemu dengan siapa ataupun kehilangan siapa. Setiap kali aku melihat ribuan kendaraan bermotor, ribuan mobil yang melintas, dan ribuan orang berada di dalam kendaraan umum.

Aku merasa diriku begitu kecil, aku hanyalah sebuah debu di antara jutaan manusia.

Ini cerita lama, saat itu aku naik Bus TransJakarta dari Harmoni ke arah Lebak Bulus.

Sore itu seperti biasa, cukup padat dan aku mengambil bangku kosong di lorong belakang. Di sampingku tiba-tiba duduk seorang wanita berwajah bule dengan belanjaannya.

Aku gugup dengan sesekali menghela nafas panjang, karena wajah wanita cantik di sampingku begitu mirip dengan teman sekolahku dulu. Sebut saja dia S. Dia gadis cantik yang kukenal cukup lama, dIa memiliki wajah blasteran bule dengan rambut keriting yang selalu dikuncir.

Sekarang ini dia telah berkeluarga, menikah dan memiliki dua anak kecil.

Kisahku dengan S. sangat jarang kuceritakan, bahkan Gozali sahabatku pun hampir tidak pernah mendengar ceritaku tentang S. Beda dengan wanita cantik lain yang ada dalam hidupku, di mana aku berani mengutarakan rasa cinta. Kepada S. tak pernah sekalipun kata itu muncul. Bahkan mengucapkan kalimat sederhana seperti 'KAMU CANTIK'-pun aku tidak berani, apalagi berujar kata SUKA.

Padahal aku begitu santai berjalan bersamanya, begitu akrab ketika bicara. Tapi, untuk kata-kata yang menjurus ke CINTA semua itu berhenti di ujung lidah.

Aku sering memimpikan S. bahkan lebih daripada aku memimpikan gadis cantik yang lain.

S. adalah wanita yang baik, dia cantik namun sangat sederhana. Dia bukan cewek yang pintar dalam bidang akademik, tapi dia sangat cerdas bersikap sebagai wanita dewasa.

Iya, siapapun yang mendapatkan S. dia adalah laki-laki yang SANGAT-SANGAT beruntung menurutku.

Kebanyakan wanita cantik yang kukenal selalu banyak maunya, selalu punya keinginan dan mimpi-mimpi yang tinggi. Tapi S. sederhana, dia hanya menginginkan seorang imam yang baik yang memimpin rumah tangga-nya. Ah, aku takut, aku tidak berani bercerita banyak tentang dia.

Ok, kembali lagi ke dalam Bus TransJakarta ke wanita cantik berwajah bule yang ada di sampingku.

Beberapa kali aku meliriknya dan benar wajah mirip dengan S. hanya saja wanita di sampingku ini memiliki badan yang lebih tinggi. Mungkin bisa kubilang versi upgrade dari S. Dia membawa belanjaan roti dari Breadtalk. Begitu melewati halte Indosiar dan menuju Kedoya, dia tampak gelisah sesekali memainkan handphone-nya. Kuduga dia turun di antara Kedoya ataupun Kebon Jeruk.

Ternyata aku salah, melewati Palmerah dan Permata Hijau dia masih duduk di sampingku.

Harusnya aku turun di Kebayoran Lama, tapi rasa penasaranku membuatku tetap berada di bangku penumpang sampai aku memutuskan untuk ke Pondok Indah Mall, dan tepat saja dia juga turun di sini.

Dunia ini benar-benar sangat luas dan ajaib. Apapun yang tak terduga bisa kamu temui dalam Busway.

Aku terus memperhatikannya dari belakang dia berjalan santai ke jembatan penghubung Mall. Aku terus memperhatikannya dan dia berbelok ke kiri ke PIM 2 sedangkan aku mengambil kanan ke arah Gramed PIM 1. Melihat ke belakang lagi, aku tidak tahu dia akan pergi ke mana, aku tidak siapa namanya, dan sesal itu terus ada sampai sekarang.

Sesal yang sama dengan cinta yang kupendam kepada S.

.  .  .

No comments:

Post a Comment