Eks Pecundang Lajang
By Ftrohx
Banyak pakar yang bilang bahwa. "Kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya," tapi menurutku kita tidak tahu apa yang kita miliki karena kita kurang mensyukuri hidup, karena kurang bersyukur kita jadi lupakan hal-hal penting sudah ada pada diri kita.
Kita baru menyadari hal penting bukan saat kita kehilangan, tapi saat memberi jarak dalam kehidupan kita. Saat melihat dari sudut mata orang lain.
Jujur, selama ini aku adalah orang bodoh dalam hal bersyukur. Aku tidak pernah tahu apa yang harus aku syukuri, aku tidak pernah tahu apa yang telah kumiliki yang membuat orang lain iri padaku.
Aku selalu berkhayal seandainya aku menjadi orang lain. Tapi mereka orang-orang itu justru bilang bahwa sangat-sangat beruntung. Dan dari tatapan mata, mereka benar-benar jujur mengungkap hal itu.
"Kok bisa sih, lo ada di dekat dia? Kok bisa sih lo selalu berada di momen penting hidupnya?" ucap mereka dan aku tidak bisa menjawabnya karena selama aku tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu begitu panjang bersama dengannya.
Sebuah cerita yang dimulai dari masa-masa sekolah, lalu terus berlanjut sampai sekarang, dan mungkin masih akan panjang ke depannya.
Dahulu, di kelasku ada dua cowok tampan.
Yang satu sebut saja Aomine, dia memiliki tubuh atletis, berkulit coklat gelap, punya perut six pack dan jago main basket. Dan satu lagi, sebut saja Richard, dia tampan memiliki wajah bule, kulit putih hidung mancung, supel dalam pergaulan, serta jago matematik dan fisika.
Mereka berdua adalah kutub magnet bagi kelas kami.

Sementara aku? Siapa Troh?
Bocah introvert bertampang pas-pasan yang hobinya berkhayal bisa jadian sama cewek paling cantik se-sekolahan yaitu Putri. Aku nggak punya apa-apa, tidak punya perut six pack seperti Aomine dan tidak punya muka bule seperti Richard. Nilai akademis cuma Cukup, dan main basket pun tidak bisa. Bidang seni apalagi ancur, aku tidak pernah punya guitar, menyanyi pun juga fals.
Aku bukan saingan untuk cowok macam Aomine apalagi Richard.
Aku hanya bisa melihat dari jauh di saat Putri bermain basket berdua dengan Aomine ataupun mengerjakan PR Fisika dengan Richard yang tampan.
Menurut kamu apa mimpi itu bisa terwujud? Apa aku bisa berada di sampingnya? Apa aku bisa tertawa bersamanya. Dan semua orang pun bilang itu mustahil. Hahahaha... bocah pecundang sepertiku hanya bisa berdoa dan menangis.
Lalu, waktupun berjalan.
Aku tidak pernah benar-benar dekat dengan Putri. Aku hanya secara kebetulan sering bermain ke rumahnya. Aku sering bertemu dengan adiknya ataupun kedua orang tuanya. Hanya itu saja, aku tidak tahu apa aku bisa lebih dekat lagi. Aku tidak punya apa-apa kecuali hanya mencoba untuk berani duduk di sampingnya.
Kemudian, sepuluh tahun berlalu sejak kami lulus SMA.
Aomine muncul di depan rumahku. Dia mampir karena daerah Cipulir banjir dan pekerjaannya sebagai pengantar paket harus tertunda. Aku tahu Aomine pasti datang untuk menghinaku.
Selama bertahun-tahun dia selalu menghinaku masalah cewek, selama bertahun-tahun dia selalu membanggakan apa yang telah dia dapat saat di sekolah. Saat dia bisa memeluk gadis-gadis cantik karena perutnya yang six pack, dan karena keahliannya main Basket.
Kamu tahu aku tidak punya apa-apa untuk menandingi Aomine, aku tidak punya pacar atau cewek yang bisa disebut gebetan.
Namun, kebetulan saat itu dia iseng melihat isi laptopku, dan ada fotoku bersama Putri saat dia ulang tahun.
Sontak saja Aomine terkejut. "Nggak mungkin? Kok bisa sih lo dekat dengan dia? Kok bisa sih lo ada di acara ulang tahun dia?" wajah cowok playboy itu terlihat sangat geram.
Dia benar-benar tidak percaya aku bisa berada di dalam rumahnya Putri, bahkan terlihat begitu dekat di foto itu.
"Gw IRI sama elo," ucapnya.
Saat itu aku sendiri tertegun, aku nggak bisa cerita apa yang terjadi. Semuanya begitu panjang dan menyedihkan. Tapi kenyataannya sebagai manusia kita hanya melihat sebuah hasil, bukan sebuah proses.
Akupun berkata. "Justru selama ini gw yang sangat IRI dengan hidup lo,"
Tak lama si Aomine ini pun beranjak pamit dari rumahku. Dia tampak emosional,
Kalau kembali ke sepuluh tahun yang lalu, apa yang aku dapati sekarang rasanya juga sangat tidak mungkin.
Aku memang bukan pacarnya Putri, tapi dalam sepuluh tahun ini aku menyadari bahwa kami melalui banyak hal bersama, lebih daripada orang lain yang pernah bersama dengan dia.
Sebulan pun berlalu setelah itu.
Ada acara reunian sekolah di sebuah kafe di Petukangan Selatan. Seperti yang kubilang sebelumnya. Di Sekolah dulu, aku bukan siapa-siapa? Aku tidak punya prestasi atau apapun untuk dikenang.
Lalu di kafe itu, aku bertemu dengan RIchard. Cowok paling tampan dan paling keren di Sekolah dulu. Masih sama seperti dulu, dia sangat ramah dan supel. Masih sama seperti dulu, semua cewek menyukai dia. Selama sepuluh tahun ini pun Putri sering bicara tentang dia, bahwa Richard adalah cowok yang paling dia kenang di Sekolah dulu, dan bukannya aku.
Sepuluh tahun lebih tidak bertemu dan hampir tidak ada yang kukenal di ruangan itu selain Richard. Kami duduk satu meja dan mengenang banyak hal di masa lalu. Berbicara tentang teman-teman lain yang tidak datang hingga masalah pekerjaan.
Lalu Richard pun berkata. "Kemarin gw lihat di wall-nya Putri ada video ulang tahun ya? dan lo ada di sana,"
"Oh, iya yang itu."
"Hubungan lo sudah sampai di mana, segera lah lamar dia?"
"Gw lagi nggak ada modal,"
"Ngelamar nggak perlu pakai modal, niat'in aja dulu, bilang ke dia kalau lo serius."
Entah, aku tidak bisa menjawab lagi. Richard sendiri saat ini sudah married dengan seorang wanita dan iya begitupula teman-teman alumni sekolah yang ada di ruangan ini..
"Lo itu beruntung banget tahu Troh, lo bisa dekat dia, bisa kenal dengan orang tuanya, bisa kenal dengan saudara-saudaranya dan selalu ada di momen-momen penting, hidupnya dia. Jujur, gw sendiri IRI sama lo," ucap Richard cowok paling ganteng dan populer di sekolah ku dulu.
Padahal justru sebaliknya dari dulu, aku sangat iri dengan semua hal yang ada pada Richard. Sering aku berkhayal bahkan berdoa seandainya aku dilahirkan sebagai dia, cowok paling populer di sekolah. Tapi hidup sungguh aneh, kita tidak pernah apa itu sesuatu yang berharga sampai kita melihat dari sudut pandang orang lain.
"Hei, lagi ngomongin gw ya?" Tiba-tiba Putri sudah berada di belakang kami.
"Nggak, pede banget lo," ucapku.
Lalu di melangkah mengambil bangku kosong, dan semua mata yang berada di dalam ruangan langsung terarah kepadanya. Walaupun waktu berjalan begitu lama sejak kami lulus sekolah tapi pesona dari seorang Putri masih sangat kuat.
Dia tetap cewek tercantik di sekolah yang bisa membuat luluh semua lelaki.
"Put, lo sudah married?" tanya Bowo si ketua panitia.
"Belum,"
"Pacar?"
Putri tidak menjawab, dia hanya tertunduk sambil tersenyum.
Cowok-cowok yang lain pun berteriak. "Boleh nih, tinggal pilih saja banyak cowok ganteng di sini."
Putri hanya tersenyum, dan tangan kananku merangkulnya. Aku mendekapnya, hingga membuat semua mata di seluruh ruangan ini melotot ke arahku, eks cowok paling pecundang se-sekolahan.
. . .
No comments:
Post a Comment