Sunday, August 31, 2014

Sebut Saja dia S.



Sebut Saja dia S.
By Ftrohx


Setiap hari di antara kepadatan lalu lintas Jakarta, di antara keramaian orang di dalam Halte Busway ataupun Bus TransJakarta.

Kita selalu bertemu dengan orang yang asing, orang-orang yang tidak pernah kita kenal, kita melihat wajah mereka dan kita tidak pernah melihat mereka untuk yang kedua kali.

Ada rasa sesal di sini, di saat aku tidak mengenal mereka dan tiba-tiba mereka menghilang.

Kemarin Jeni bercerita tentang sesalnya, tidak menolong seseorang di antara keramaian lalu lintas Kota.

Seorang tua yang katanya terjatuh dan sulit berdiri, lalu seorang supir angkot menolong. Jeni sangat ingin menolong orang itu namun tubuhnya tak bergerak dia hanya bisa melihat dari jauh. Hingga orang itu menghilang. Ada rasa sesal yang sangat di hatinya, kenapa aku tidak turun ke sana dan membantu orang tua itu.

Melihat Jakarta yang begitu luas dengan jutaan orang yang berada di sini.

Kita tidak pernah tahu, kita akan bertemu dengan siapa ataupun kehilangan siapa. Setiap kali aku melihat ribuan kendaraan bermotor, ribuan mobil yang melintas, dan ribuan orang berada di dalam kendaraan umum.

Aku merasa diriku begitu kecil, aku hanyalah sebuah debu di antara jutaan manusia.

Ini cerita lama, saat itu aku naik Bus TransJakarta dari Harmoni ke arah Lebak Bulus.

Sore itu seperti biasa, cukup padat dan aku mengambil bangku kosong di lorong belakang. Di sampingku tiba-tiba duduk seorang wanita berwajah bule dengan belanjaannya.

Aku gugup dengan sesekali menghela nafas panjang, karena wajah wanita cantik di sampingku begitu mirip dengan teman sekolahku dulu. Sebut saja dia S. Dia gadis cantik yang kukenal cukup lama, dIa memiliki wajah blasteran bule dengan rambut keriting yang selalu dikuncir.

Sekarang ini dia telah berkeluarga, menikah dan memiliki dua anak kecil.

Kisahku dengan S. sangat jarang kuceritakan, bahkan Gozali sahabatku pun hampir tidak pernah mendengar ceritaku tentang S. Beda dengan wanita cantik lain yang ada dalam hidupku, di mana aku berani mengutarakan rasa cinta. Kepada S. tak pernah sekalipun kata itu muncul. Bahkan mengucapkan kalimat sederhana seperti 'KAMU CANTIK'-pun aku tidak berani, apalagi berujar kata SUKA.

Padahal aku begitu santai berjalan bersamanya, begitu akrab ketika bicara. Tapi, untuk kata-kata yang menjurus ke CINTA semua itu berhenti di ujung lidah.

Aku sering memimpikan S. bahkan lebih daripada aku memimpikan gadis cantik yang lain.

S. adalah wanita yang baik, dia cantik namun sangat sederhana. Dia bukan cewek yang pintar dalam bidang akademik, tapi dia sangat cerdas bersikap sebagai wanita dewasa.

Iya, siapapun yang mendapatkan S. dia adalah laki-laki yang SANGAT-SANGAT beruntung menurutku.

Kebanyakan wanita cantik yang kukenal selalu banyak maunya, selalu punya keinginan dan mimpi-mimpi yang tinggi. Tapi S. sederhana, dia hanya menginginkan seorang imam yang baik yang memimpin rumah tangga-nya. Ah, aku takut, aku tidak berani bercerita banyak tentang dia.

Ok, kembali lagi ke dalam Bus TransJakarta ke wanita cantik berwajah bule yang ada di sampingku.

Beberapa kali aku meliriknya dan benar wajah mirip dengan S. hanya saja wanita di sampingku ini memiliki badan yang lebih tinggi. Mungkin bisa kubilang versi upgrade dari S. Dia membawa belanjaan roti dari Breadtalk. Begitu melewati halte Indosiar dan menuju Kedoya, dia tampak gelisah sesekali memainkan handphone-nya. Kuduga dia turun di antara Kedoya ataupun Kebon Jeruk.

Ternyata aku salah, melewati Palmerah dan Permata Hijau dia masih duduk di sampingku.

Harusnya aku turun di Kebayoran Lama, tapi rasa penasaranku membuatku tetap berada di bangku penumpang sampai aku memutuskan untuk ke Pondok Indah Mall, dan tepat saja dia juga turun di sini.

Dunia ini benar-benar sangat luas dan ajaib. Apapun yang tak terduga bisa kamu temui dalam Busway.

Aku terus memperhatikannya dari belakang dia berjalan santai ke jembatan penghubung Mall. Aku terus memperhatikannya dan dia berbelok ke kiri ke PIM 2 sedangkan aku mengambil kanan ke arah Gramed PIM 1. Melihat ke belakang lagi, aku tidak tahu dia akan pergi ke mana, aku tidak siapa namanya, dan sesal itu terus ada sampai sekarang.

Sesal yang sama dengan cinta yang kupendam kepada S.

.  .  .

Friday, August 29, 2014

Supranatural


Supranatural
By Ftrohx


Seandainya aku diberikan kekuatan supranatural, ada dua hal yang aku inginkan.

Pertama retrocognition, kekuatan untuk melihat masa lalu dari benda atau makhluk yang kusentuh.

Aku sangat menginginkan kekuatan ini. Iya karena aku selalu merasa kesepian di tengah keramaian.

Tiap kali berada di halte Busway ataupun di dalam Bus TransJakarta. Aku selalu bertanya-tanya sendiri siapa saja orang yang berada di sekitarku, baik itu yang duduk maupun yang berdiri, baik itu yang di dalam bus atau yang berkendaran di luar dengan sepeda motor atau mobilnya. 

Aku suka memperhatikan mereka, orang-orang yang tak kukenal, pria dan wanita, muda ataupun tua, cantik atau jelek. Aku suka melihat mereka sambil bertanya-tanya sendiri.  Siapa nama mereka? Ke mana mereka akan pergi? Di mana kantor atau tempat kerja mereka? Pekerjaan apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup? DI mana rumah mereka untuk pulang? Seperti apa kehidupan mereka di sana? Apa hobi mereka dan apa yang mereka perbuat untuk bisa bahagia?

Bukan hanya bertanya-tanya, kadang aku berkhayal seandainya aku berada di posisi mereka, seandainya aku bisa melihat dunia dari sudut pandang mereka.

Mungkin seandainya retrocognition itu ada, aku akan sangat ketagihan 'memori' dari orang-orang yang kutemui.

Kedua kekuatan supranatural yang sangat kuinginkan adalah kekuatan menghentikan waktu.

Terkadang aku merasa waktu tidak pernah cukup, kadang aku selalu terlambat dalam banyak hal, terlalu banyak yang ingin kuperbuat tapi dengan segala keterbatasanku semua janji-janji itu hanya tinggal janji.

Seandainya aku bisa menghentikan waktu mungkin aku bisa mengerjakan tugas-tugasku dengan lebih baik, mungkin semua PR-PR ku bisa selesai dengan mudah, mungkin aku bisa memberikan kebanggaan dan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarku. 

.  .  .

Monday, August 25, 2014

Ksatria, Naga, dan Tuan Putri

Ksatria, Naga, dan Tuan Putri
Sebuah Cerpen
By Ftrohx


Terkadang tahu sebelum orang lain tahu itu tidaklah indah, ketika kita mengetahui sesuatu sementara orang lain yang kita ajak bicara tidak tahu. Rasanya seperti sebuah kehampaan. Begitu pikir Fachrie, sering dia merasa hampa ketika bicara dengan seseorang tentang apa yang dia tahu sementara teman yang dia ajak bicara tidak tahu. Mereka hanya bengong, melongok, beberapa bahkan mentertawakannya, karena apa yang dia bicarakan jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh orang-orang itu.

Sempat tersirat dalam benak Fachrie, mungkin metode-nya beda dengan TORA, atau mungkin Tora memang punya kharisma untuk memikat banyak orang dengan perkataannya. Sehingga apa yang dia tahu, bisa dia pamerkan. Sedangkan bagi Fachrie, rasa itu begitu sepi. "Lo sok tahu sendiri," atau "Nggak ngerti gw apa yang lo omongin?" Tapi, ketika Tora bicara meskipun mereka tidak mengerti tapi mereka begitu mengagumi Tora. Rasanya seperti seribu tahun kesepian. Fachrie sering bertanya-tanya "Apa ada orang yang mengabaikan Tora?!"

Dia seperti monster di mata Fachrie, manusia yang tidak punya rasa peduli ataupun rasa sakit. Tora tidak percaya dengan kesepian, karena kesepian hanya untuk orang yang lemah. Dan dia tidak peduli apakah orang suka atau tidak suka dengan ucapannya, Dia tidak peduli apakah seseorang mengikutinya atau tidak... Mungkin inilah disebut ekstrovert, mereka hanya bicara dan tidak peduli dengan efeknya. "Antusias atau tidak seseorang mendengarkan lo, bukanlah persoalan pengetahuan lo. Bukan tentang apa yang lo tahu dan orang lain tidak tahu." Fachrie sering mengalaminya ketika bicara dengan seorang cewek dan cewek itu tidak tahu apa yang Fachrie bicarakan.

Maka si cewek hanya bilang "Hm... Oh... Iya... Tul... dsb." lalu "Maka-nya jangan sok tahu sendiri donk!" hardik itu cewek.

Sedangkan jika Tora yang bicara, maka si cewek akan menanggapi "Wah, seru ntuh... ajarin donk... apalagi selanjutnya... kamu keren tahu banyak hal... kamu genius... kamu bla bla bla... dsb."

Dari situ Fachrie menyadari bahwa Tora memiliki lebih dari sekedar pengetahuan, dia punya charisma. Meski dengan pengetahuan yang pas-pasan namun dengan Kharisma, Tora bisa mendapatkan apa yang dia mau. Di sisi lain Fachrie sadar bahwa dia tidak memiliki kharisma seperti Tora. Namun, dia memiliki kekuataan yang lain yaitu imajinasi.

Inka mencari kata-kata yang tepat namun tak ada yang bisa dia ucapkan selain. “I’m very HAPPY with you!”

Seminggu yang lalu di Neunzig, Fachrie begitu banyak bicara tentang Singapore Flyer, sebuah Giant Ferris Wheels terbesar di Asia, bahkan mengalahkan Eyes of London. Terdiri dari 28 kapsul yang setiap kapsul mampu menampung 28 orang, dan sekarang mereka berdua berada di dalamnya. Memandangi langit dan kota yang bertabur cahaya. “Apalagi aku, lebih dari bahagia!”

Di ujung sana di kapsul sebelumnya, Liana, Satria, & Harry telah melaju terlebih dahulu mereka melambaikan tangan. Sambil memotret sekitar Liana berharap menemukan adegan romantic seperti di Before Sunrise dari Fachrie dan Inka.

“Kamu lihat di sana?”

“Iya, Liana!”

“Aku rasa dia sangat berharap melihat kita berdua berciuman!”

“Iya, sepertinya begitu.” Fachrie tertawa. “Tapi, enggak mungkinlah kita ngasih itu, adegan itu terlalu klise!”

“Hahaha…” Inka juga ikut tertawa. Dia merasa belum pernah sebahagia ini sebelumnya.

"Tahu sekarang tanggal berapa?" Tanya Fachrie.

"1 November kan!"

"Iya, Kamu ingat Bakuman volume 18?"

"Oiya, kok bisa kebetulan begini ya? Mereka berdua (Hiramaru & Aoki) juga berada di Flyer Wheels! Jangan-jangan kamu sudah men-setting semuanya ya!?" Inka takjub lalu di susul tawa keduanya.

“Tentu aja enggak."

“Serius?”

“Iya.” Fachrie menatap mata Inka. "Ini bukan karena Hiramaru Kazuya juga bukan ide-nya Ethan Hawk di Before Sunrise.” 

Kembali keduanya tertawa.

“Romantis itu apa sih?” Lanjutnya.

“Nah, itu aku belum pernah menemukan jawabanya. Terkadang hal-hal bodoh bagi orang lain, merupakan hal romantis bagi kita, sedangkan hal romantis bagi orang lain, sama sekali tidak menarik untuk kita?”

“Hahaha… Dasar detektif koplak dari dulu gak bisa romantis!”

“Apanya yang enggak romantis?”

“Tempat ini maksud ku, enggak romantis banget tahu, capsule-nya terlalu besar untuk hanya kita berdua?”

"Hahaha..." Fachrie tertawa. Oh, my God she’s so beautiful.

“Iya, lalu…” Inka penasaran dengan apalagi yang ingin diungkap Fachrie.

“Sengaja tadi aku nggak cerita hal yang ini di hadapan teman-teman yang lain,” Fachrie memberi Inka sebuah note. “Ada sebuah cerita, sebuah kisah yang telah ada jauh dari ribuan tahun yang lalu dan akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kisah ini bukan hanya ada di dunia barat tapi juga di dunia timur.”

Inka membacanya.

Dahulu kala, Terdapat seorang Ksatria muda yang jatuh cinta pada seorang Putri yang sangat cantik. Namun, Putri itu di culik oleh seekor Naga Raksasa. Dia di bawa ke sebuah kastil tinggi di puncak gunung.

Sang Naga memiliki Kulitnya lebih keras daripada besi, tubuh yang lebih besar daripada gajah, dan taring yang lebih tajam daripada harimau, serta mulut yang menyemburkan api. Sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan oleh manusia manapun dari bangsa apapun.

Kecantikan sang Putri mengalahkan rasa takut semua orang, kecantikannya menarik semua orang untuk bertaruh dengan nyawa menyelamatkan dirinya.

Semua Ksatria mencoba untuk mengalahkan sang Naga, menyelamatkan sang Putri, namun semuanya berakhir dengan kematian.

Berbagai cara mereka coba untuk mengalahkan sang Naga, Dengan Tombak, Panah, Pedang, Palu, dan Kampak. Dengan Api, Angin, Batu, maupun Air. Tapi, jangankan melukai, merobek kulitnya saja tak ada yang mampu.

Disaat begitu banyak orang yang telah terbunuh di sana, disaat begitu banyak pria yang melarikan diri, disaat keputusasaan menyelimuti udara. Terdapat satu orang ksatria muda yang tidak mau menyerah. Ksatria muda yang tetap berusaha bangkit sekalipun semua senjatanya telah hancur.

Dengan pedangnya yang patah itu sang Ksatria muda, berhasil merobek jantung Naga. Dia mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk dikalahkan, dia menyelamatkan sang Putri dan semua berakhir bahagia selamanya.

Tapi, sebenarnya cerita itu tidak berakhir bahagia. Kenyataannya Ksatria tidak pernah mengalahkan sang Naga, dan sang Putri tidak pernah terselamatkan. Selamanya Manusia tidak bisa mengalahkan makhluk yang jauh lebih besar dari dirinya hanya dengan kekuataan besi dan otot. Tidak akan pernah.

Ksatria muda itu tewas bersama mimpi-nya. Namun, sebelum dia menutup mata. Dia berdoa pada Tuhan untuk hidup sekali lagi, untuk bertarung lagi, sekalipun dia tahu dia tidak akan mungkin menang, tidak akan mungkin mendapatkan cintanya. Begitu pula dengan sang Putri, dia tahu semuanya tidak akan berhasil. Tapi dia rela untuk menunggu selamanya. Sekalipun bukan di kehidupan ini dia berdoa seandainya dia diberi kehidupan sekali lagi untuk menunggu Ksatria menyelamatkannya.

Dan tentu saja, Tuhan adalah Maha Mengabulkan doa, dan Dia menjawab doa tersebut.

Mereka menjelma kedalam ribuan kisah, ribuan cerita cinta, ribuan pasang manusia, dan aku yakin mereka akan terus ada sampai ribuan tahun ke depan. Kamu ingat ada kisah Aladin, Jafar, dan Putri Yasmin. Betapa miripnya dengan kisah Ksatria, Naga, dan Tuan Putri. Hanya saja sang Naga menjelma menjadi penyihir Jafar yang mencoba menguasai seluruh kerajaan. Kamu pasti tahu Romeo & Juliet. Cinta mereka terhalang oleh takdir keluarga yang saling berperang. Ya, peperangan adalah kebencian, dan kebencian merupakan jelmaan dari sang Naga jahat yang pernah menghalangi cinta sang Ksatria dan Tuan Putri.

Di tengah keputusasaan sang Ksatria berharap dia bisa kembali lagi ke masa lalu, kembali lagi bertarung dan mencari cara untuk mengalahkan Naga. Apapun dan bagaimanapun itu dia akan terus berusahan untuk mengalahkan sesuatu yang musthahil untuk di kalahkan. Sang Ksatria menjadi pemuda bernama Alexander. Seorang penemu genius di New York abad ke-19. Dia mencintai seorang gadis cantik, namun takdir merenggutnya dia membawanya pergi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalahkan takdir, dan Alexander pun menciptakan Time Machine untuk kembali ke awal, kembali menyelamatkan sang kekasih berapa kalipun itu dia akan terus mencoba untuk menemukan jawabannya.

Sang Ksatria menjelma menjadi Jonathan Harker yang berani menantang Count Dracula (sang Maha vampire dari segala vampire) untuk mendepatkan kembali tunangannya yaitu Wilhem Mina. Semua orang di dunia ini tahu nama besar Dracula, nama itu adalah terror tersendiri, nama itu tabu bagi banyak orang untuk di ucapkan, Ketakutan bahkan untuk orang yang tidak memiliki akal sekalipun. Sedangkan Harker hanya seorang manusia biasa yang tidak mungkin hidup jika melawannya. Namun Harker begitu idiot bertarung, Musthahil bagi Harker yang hanya manusia biasa untuk tetap hidup, namun dia dengan begitu idiotnya tetap bertarung melawan Dracula.

Sang ksatria menjelma menjadi Kenshi Himura yang menyelamatkan Kaoru dari Enichi. Semangat membaranya berhebus di tiap nafas Hanamichi, saat menghempaskan bola ke dalam ring basket. Mimpinya hanya ingin menjadi pemain basket dan mendapatkan cinta Haruko. Sang Ksatria berada dalam diri Mashiro Kun yang bertarung melawan kemusthahilan, berusaha menggapai mimpi sebagai seorang manga-ka nomor satu untuk melamar Azuki. Sang Ksatria juga bereinkarnasi dalam diri Ichigo Kurosaki bertarung untuk menyelamatkan Rukia dan seluruh Soul Society dari Aizen yang tak terkalahkan.

Inka tidak pernah tahu kalau Fachrie jago mendongeng, tulisannya itu membuat matanya berkaca-kaca. Dia menarik nafas dalam, tangannya perlahan melipat note tersebut. 

“Kisah itu akan terus ada, Kisah seorang Ksatria yang bertarung melawan kemusthahilan, bertarung untuk mendapatkan cintanya, bertarung untuk mendapatkan sang putri.” Ucap Fachrie sambil tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.

Mungkin kotak kecil ini yang sebenarnya diburu oleh Tora dan anak buahnya, mungkin karena isi dalam kotak kecil inilah semua insiden itu terjadi… Tapi tidak semua misteri mesti dipecahkan, pikir Inka.

Sementara tubuh gadis cantik itu tidak dapat menahan degup kencang di jantungnya.

.  .  .

Nb: Cerpen ini terdapat pada novel saya yang berjudul Sepuluh Tiga Satu

Thursday, August 14, 2014

Kenapa aku pilih Detektif?


Kenapa aku pilih Detektif?
By Ftrohx


Kenapa aku pengen banget jadi detektif atau penulis novel detektif?

Kenapa nggak yang lain? Kenapa aku nggak jadi penulis galau-galauan atau pocong-pocongan atau komedi romantis? Toh ,mereka banyak peminatnya? Kenapa? Kenapa?

"Karena orang-orang dalam lingkaran kehidupan gue selalu COOL semua,"

Cewek yang kusukai dari zaman SMA dulu dia cantik, dia keras kepala, dia cool, dan tidak pernah bercanda.

Ketua geng ku waktu di SMA, sama juga karakter high machiavellians begitu dan sebagainya.

Iya, aku juga kenal beberapa teman yang kocak-kocak tapi sebagai laki-laki kita nggak boleh terlihat lemah, apalagi melakukan hal-hal yang memalukan.

Membuka aib atau mengaku galau di social media adalah hal yang memalukan, dan aku berusaha sebisa mungkin itu tidak melakukan itu, apalagi mempublikasikannya dalam sebuah buku. "Oh, tidak itu bukan gue BANGET!"

Ok, kembali lagi kenapa aku pengen jadi detektif? Kenapa nggak jadi yang lain?

Menjadi detektif itu adalah pekerjaan yang COOL menurutku, KEREN karena kamu bisa melakukan hal-hal yang orang lain tidak bisa lakukan atau jarang bisa lakukan. Kami memiliki keahlian khusus dalam memecahkan teka-taki, dan jelas itu KEREN.

Tidak perlu melihat ke Detektif Yakumo, Sherlock Holmes, Lincoln Rhyme, Arsene Lupin, Shinichi Kudo, Alex Cross, L Lawliet, dan sebagainya. Mereka sudah terlalu keren, tidak perlu disanksikan lagi, dalam alam bawah sadar kamu. Kamu ingin menjadi seperti mereka, hebat dan dipuja banyak orang tanpa perlu menjadi artis.

Dengan menjadi detektif, kamu menjadi ROCKSTAR tanpa perlu menjadi artis.

Tapi, tanpa perlu menjadi sekeren mereka, kamu juga bisa punya hidup enak. Lihat saja detektif konyol nan idiot seperti Kogoro Mori. Meskipun bego-nya minta ampun, namun detektif Mori bisa punya banyak kenalan dan teman-teman selebritis loh, padahal lu tahukan idiotnya dia seperti apa.

Ok, aku memang bukan ROCKSTAR, aku juga nggak punya wajah tampan seperti artis. Tapi aku yakin dengan menjadi penulis novel detektif, aku bisa setara dengan mereka.

.  .  .

Saturday, August 9, 2014

Mimpi dan Realita (I)



Mimpi dan Realita (I)
By Ftrohx


Apa sebenarnya mimpi itu? Yang kubicarakan bukan tentang mimpi di saat kita tertidur, tapi mimpi disaat kita terbangun.

Mimpi yang kita ciptakan secara sadar.

Mereka bilang bahwa mimpi hanya mimpi, mimpi yang terlalu tinggi tidak dapat terwujud.

Tapi, kupikir sebaliknya. Dengan segala hal yang telah terjadi pada hidupku. Menurutku tidak ada mimpi yang terlalu tinggi.

Inilah yang aku alami beberapa hari yang lalu,

Sebenarnya, aku selalu takut membawa motor sendiri, beberapa tahun yang lalu, sewaktu di kampus aku membuat motor seorang teman menabrak pagar pembatas. Tapi kemarin aku mencoba untuk memberanikan diri, membawa motor sendiri dan ternyata jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan, daripada yang kuimpikan. Semua begitu mudah, aku sendiri tidak mengerti. Mengendarai motor ini lebih mudah daripada yang pernah aku impikan.

Bukan cuma motor, hal-hal yang lain juga. Dahulu aku selalu khawatir mendekati cewek cantik, aku selalu gugup, aku terlalu dan terlalu cemas memikirkan banyak hal. Sampai aku sadari bahwa semuanya itu begitu mudah. Jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan. Semuanya mengalir begitu saja.

Menulis note ini, aku mencoba menyadari hal-hal terbaik yang pernah kualami dan kudapati dengan begitu mudah.



Di saat orang-orang lain hanya bermimpi untuk kuliah, dengan mudah setelah satu tahun lulus dari SMA aku masuk sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Dengan mudah pula aku masuk di jurusan yang kuinginkan yaitu Manajemen Keuangan. Meski berbagai masalah membuatku terhenti. Tapi kusadari lagi, beberapa hal berjalan dengan begitu mudah dalam hidupku, lebih mudah daripada apa yang aku impikan lebih mudah daripada apa yang aku khawatirkan.

Begitu juga dengan menulis sebuah cerita, kadang aku terlalu khawatir tulisanku jelek. Kekhawatiran itu menghambatku. Kadang kekhawatiran itu membuatku tidak menulis sama sekali. Dan ketika aku melepaskan kekhawatiran itu, tulisanku mengalir dengan sendirinya hingga ribuan kata sekali ketik. Begitupula dengan sebuah cerita yang bagus, selama ini aku selalu khawatir ketika aku menulis sebuah cerita yang bagus, apakah aku masih punya back up atau cadangan cerita supaya jadi senjata rahasia. Tapi ketika aku melepaskannya, ketika aku membuang kekhawatiran itu. Ide cerita yang lebih bagus lagi, muncul dengan mudahnya.

Kembali bicara tentang impian lagi, mimpi yang sedang kukejar saat ini adalah menjadi penulis crime thriller no. 1 di Indonesia. Sebuah mimpi yang ambisius, banyak orang bilang mimpiku ini tidak realistis. Tapi satu hal yang mesti kamu tahu bahwa semua penulis adalah pemimpi yang ambisius, karena ambisi menciptakan energi tersendiri di dalam tubuh kami. Energi itu yang membawa kami pergi terlalu jauh, membawa kami menelusuri jalan yang tidak pernah orang pijakan, menelusuri tempat-tempat yang sepi, membuat kami tersesat untuk menemukan sebuah harta karun.

Sekeping harta karun terbesar bagi kami yaitu impian yang terwujud menjadi nyata.
.  .  .

Nb: ilustrasi, sumber paulparish.wordpress.com

Wednesday, August 6, 2014

Eks Pecundang Lajang



Eks Pecundang Lajang
By Ftrohx


Banyak pakar yang bilang bahwa. "Kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya," tapi menurutku kita tidak tahu apa yang kita miliki karena kita kurang mensyukuri hidup, karena kurang bersyukur kita jadi lupakan hal-hal penting sudah ada pada diri kita.

Kita baru menyadari hal penting bukan saat kita kehilangan, tapi saat memberi jarak dalam kehidupan kita. Saat melihat dari sudut mata orang lain.

Jujur, selama ini aku adalah orang bodoh dalam hal bersyukur. Aku tidak pernah tahu apa yang harus aku syukuri, aku tidak pernah tahu apa yang telah kumiliki yang membuat orang lain iri padaku.

Aku selalu berkhayal seandainya aku menjadi orang lain. Tapi mereka orang-orang itu justru bilang bahwa sangat-sangat beruntung. Dan dari tatapan mata, mereka benar-benar jujur mengungkap hal itu.

"Kok bisa sih, lo ada di dekat dia? Kok bisa sih lo selalu berada di momen penting hidupnya?" ucap mereka dan aku tidak bisa menjawabnya karena selama aku tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu begitu panjang bersama dengannya.

Sebuah cerita yang dimulai dari masa-masa sekolah, lalu terus berlanjut sampai sekarang, dan mungkin masih akan panjang ke depannya.

Dahulu, di kelasku ada dua cowok tampan.

Yang satu sebut saja Aomine, dia memiliki tubuh atletis, berkulit coklat gelap, punya perut six pack dan jago main basket. Dan satu lagi, sebut saja Richard, dia tampan memiliki wajah bule, kulit putih hidung mancung, supel dalam pergaulan, serta jago matematik dan fisika.

Mereka berdua adalah kutub magnet bagi kelas kami.



Sementara aku? Siapa Troh?

Bocah introvert bertampang pas-pasan yang hobinya berkhayal bisa jadian sama cewek paling cantik se-sekolahan yaitu Putri. Aku nggak punya apa-apa, tidak punya perut six pack seperti Aomine dan tidak punya muka bule seperti Richard. Nilai akademis cuma Cukup, dan main basket pun tidak bisa. Bidang seni apalagi ancur, aku tidak pernah punya guitar, menyanyi pun juga fals.

Aku bukan saingan untuk cowok macam Aomine apalagi Richard.

Aku hanya bisa melihat dari jauh di saat Putri bermain basket berdua dengan Aomine ataupun mengerjakan PR Fisika dengan Richard yang tampan.

Menurut kamu apa mimpi itu bisa terwujud? Apa aku bisa berada di sampingnya? Apa aku bisa tertawa bersamanya. Dan semua orang pun bilang itu mustahil. Hahahaha... bocah pecundang sepertiku hanya bisa berdoa dan menangis.

Lalu, waktupun berjalan.

Aku tidak pernah benar-benar dekat dengan Putri. Aku hanya secara kebetulan sering bermain ke rumahnya.  Aku sering bertemu dengan adiknya ataupun kedua orang tuanya. Hanya itu saja, aku tidak tahu apa aku bisa lebih dekat lagi. Aku tidak punya apa-apa kecuali hanya mencoba untuk berani duduk di sampingnya.

Kemudian, sepuluh tahun berlalu sejak kami lulus SMA.

Aomine muncul di depan rumahku. Dia mampir karena daerah Cipulir banjir dan pekerjaannya sebagai pengantar paket harus tertunda. Aku tahu Aomine pasti datang untuk menghinaku.

Selama bertahun-tahun dia selalu menghinaku masalah cewek, selama bertahun-tahun dia selalu membanggakan apa yang telah dia dapat saat di sekolah. Saat dia bisa memeluk gadis-gadis cantik karena perutnya yang six pack, dan karena keahliannya main Basket. 

Kamu tahu aku tidak punya apa-apa untuk menandingi Aomine, aku tidak punya pacar atau cewek yang bisa disebut gebetan.

Namun, kebetulan saat itu dia iseng melihat isi laptopku, dan ada fotoku bersama Putri saat dia ulang tahun.

Sontak saja Aomine terkejut. "Nggak mungkin? Kok bisa sih lo dekat dengan dia? Kok bisa sih lo ada di acara ulang tahun dia?" wajah cowok playboy itu terlihat sangat geram.

Dia benar-benar tidak percaya aku bisa berada di dalam rumahnya Putri, bahkan terlihat begitu dekat di foto itu.

"Gw IRI sama elo," ucapnya.

Saat itu aku sendiri tertegun, aku nggak bisa cerita apa yang terjadi. Semuanya begitu panjang dan menyedihkan. Tapi kenyataannya sebagai manusia kita hanya melihat sebuah hasil, bukan sebuah proses.

Akupun berkata. "Justru selama ini gw yang sangat IRI dengan hidup lo,"

Tak lama si Aomine ini pun beranjak pamit dari rumahku. Dia tampak emosional,

Kalau kembali ke sepuluh tahun yang lalu, apa yang aku dapati sekarang rasanya juga sangat tidak mungkin.

Aku memang bukan pacarnya Putri, tapi dalam sepuluh tahun ini aku menyadari bahwa kami melalui banyak hal bersama, lebih daripada orang lain yang pernah bersama dengan dia.

Sebulan pun berlalu setelah itu.

Ada acara reunian sekolah di sebuah kafe di Petukangan Selatan. Seperti yang kubilang sebelumnya. Di Sekolah dulu, aku bukan siapa-siapa? Aku tidak punya prestasi atau apapun untuk dikenang.

Lalu di kafe itu, aku bertemu dengan RIchard. Cowok paling tampan dan paling keren di Sekolah dulu. Masih sama seperti dulu, dia sangat ramah dan supel. Masih sama seperti dulu, semua cewek menyukai dia. Selama sepuluh tahun ini pun Putri sering bicara tentang dia, bahwa Richard adalah cowok yang paling dia kenang di Sekolah dulu, dan bukannya aku.

Sepuluh tahun lebih tidak bertemu dan hampir tidak ada yang kukenal di ruangan itu selain Richard. Kami duduk satu meja dan mengenang banyak hal di masa lalu. Berbicara tentang teman-teman lain yang tidak datang hingga masalah pekerjaan.

Lalu Richard pun berkata. "Kemarin gw lihat di wall-nya Putri ada video ulang tahun ya? dan lo ada di sana,"

"Oh, iya yang itu."

"Hubungan lo sudah sampai di mana, segera lah lamar dia?"

"Gw lagi nggak ada modal,"

"Ngelamar nggak perlu pakai modal, niat'in aja dulu, bilang ke dia kalau lo serius."

Entah, aku tidak bisa menjawab lagi. Richard sendiri saat ini sudah married dengan seorang wanita dan iya begitupula teman-teman alumni sekolah yang ada di ruangan ini..

"Lo itu beruntung banget tahu Troh, lo bisa dekat dia, bisa kenal dengan orang tuanya, bisa kenal dengan saudara-saudaranya dan selalu ada di momen-momen penting, hidupnya dia. Jujur, gw sendiri IRI sama lo," ucap Richard cowok paling ganteng dan populer di sekolah ku dulu.

Padahal justru sebaliknya dari dulu, aku sangat iri dengan semua hal yang ada pada Richard. Sering aku berkhayal bahkan berdoa seandainya aku dilahirkan sebagai dia, cowok paling populer di sekolah. Tapi hidup sungguh aneh, kita tidak pernah apa itu sesuatu yang berharga sampai kita melihat dari sudut pandang orang lain.

"Hei, lagi ngomongin gw ya?" Tiba-tiba Putri sudah berada di belakang kami.

"Nggak, pede banget lo," ucapku.

Lalu di melangkah mengambil bangku kosong, dan semua mata yang berada di dalam ruangan langsung terarah kepadanya. Walaupun waktu berjalan begitu lama sejak kami lulus sekolah tapi pesona dari seorang Putri masih sangat kuat.

Dia tetap cewek tercantik di sekolah yang bisa membuat luluh semua lelaki.

"Put, lo sudah married?" tanya Bowo si ketua panitia.

"Belum,"

"Pacar?"

Putri tidak menjawab, dia hanya tertunduk sambil tersenyum.

Cowok-cowok yang lain pun berteriak. "Boleh nih, tinggal pilih saja banyak cowok ganteng di sini."

Putri hanya tersenyum, dan tangan kananku merangkulnya. Aku mendekapnya, hingga membuat semua mata di seluruh ruangan ini melotot ke arahku, eks cowok paling pecundang se-sekolahan.

.  .  .

Tuesday, August 5, 2014

Sebuah Doa Sebuah Mimpi


Sebuah Doa Sebuah Mimpi
By Ftrohx


Apakah sebuah doa dapat terkabul? Apakah sebuah mimpi dapat terwujud?

Dahulu kamu masih begitu polos kamu berdoa sesuatu hal yang sederhana, sangat sederhana.

Kamu berdoa seperti anak kecil

Kamu hanya bilang "Ya ALLOH seandainya Engkau memperkenankan saya untuk bisa dekat dengan dia,"

Lalu selama bertahun-tahun kamu berdoa dengan doa yang sama, dia setiap malam setelah tarawih ataupun sesudah sholat subuh.

Kamu percaya kalau doa itu bisa terkabul

Kamu percaya

Sampai-sampai setiap kali kamu berdoa setiap kali kamu mengingat dia, bulu kuduk kamu merinding.

Ada hawa sejuk diantara doa itu

Lalu setelah sekian lama, dengan berbagai gelombang kehidupan, doa kamu tak kunjung dikabulkan

Mimpi kamu tak kunjung menjadi nyata

Perlahan kepercayaan kamu terkikis, keyakinan akan doa-doa itupun luntur

Kamu menjadi jarang berdoa

Kamu menjadi orang apatis bahkan cenderung agnostik

Kamu tidak peduli lagi dengan masa lalu ataupun masa depan

Kamu tidak percaya dengan cinta dan kasih sayang

Lalu secara tiba-tiba sepuluh tahun kemudian disaat kamu sudah tidak berharap lagi

Dia muncul begitu saja dihadapan kamu

Dia tersenyum di muka kamu

Kamu melihat wajah cantiknya dan jarak itu benar-benar tipis

Kamu tidak pernah melihat senyumnya seindah itu

Kamu bicara dia, kamu tertawa bersamanya, kamu berada di sampingnya.

Semua doa yang terlalu berlalu puluhan tahun yang lalu tiba-tiba terwujud dalam satu malam.

Setelah makan malam yang indah



Kamu pulang dan tertawa lepas

Kamu menangisi bahwa ternyata hidup bisa menjadi begitu indah

Kamu menangis sekaligus tertawa bahwa sebuah doa bisa terkabul, meski harus menanti puluhan tahun.
.  .  .